Dari Obhe, Pemuda Sentani Diingatkan Soal Jati Diri Untuk Bangkit

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA – Road show seorang motivator, Kaka Jose dari Obhe ke Obhe berlanjut.Jika sebelumnya dilakukan di Obhe Ondoafi Waena, Kota Jayapura, kini bergeser ke arah Kabupaten Jayapura. Lokasinya di Obhe Ifar Besar,Nicolass Joku. Dan lagi-lagi disini Jose mencoba memberikan wawasan dan membuka mindset anak muda untuk berfikir lebih maju, melakukan tindakan konkrit tanpa meninggalkan identitas atau jati diri sebagai orang Sentani.
Jose lebih banyak bercerita tentang bagaimana membangun karakter anak Sentani yang semuanya dimulai dari Obhe. Ia ingin diskusi yang dilakukan di Obhe ini bisa menjadi titik balik dimulainya sebuah perubahan mendasar dari kebiasaan yang selama ini dilakukan. Pasalnya ia menyebut ada histori dan potensi besar yang harus dipahami anak-anak muda di Sentani kemudian potensi itu digali untuk perubahan yang positif. Hanya sayangnya ini belum dilakukan.
Jose dalam memberikan materi juga tak tanggung-tanggung. Semua dikupas dimuka. Artinya jika ada yang salah maka saat itu akan ia ungkap dengan gaya bahasanya di depan, jadi bukan disimpan kemudian menjadi pembahasan di belakang-belakang. Ia harus menyampaikan semua secara terbuka dan blak blakan agar para pemuda Sentani bisa langsung menangkap apa yang dirasa perlu diperbaiki.
Ia memulai dari cerita sejarah perjalanan Izaac Samuel Kijne, seorang missionaris asal Belanda yang mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan yang dimulai dari Aitumeri, Mimei, Wasior. “Izaac Kijne ketika pertama kali datang dan mulai mendedikasikan hidupnya ia melakukan dengan meletakkan peradaban. Berbicara soal manusia Papua. Bukan kelas, bukan bangunan tapi peradaban. Ia memahami bahwa dengan perdaban maka perlahan-lahan perubahan karakter maupun mental itu akan terbentuk. Masyarakat ketika itu diperkenalkan dan diingatkan tentang siapa mereka dan darimana mereka,” kata Jose dalam kegiatan penguatan kapsitas pemuda tenang pelestarian Cagar Alam Cycloop di Obhe Ifar Besar di Sentani, Sabtu (20/6)
Yang dilakukan Izaac sama seperti Belanda umumnya dimana mereka datang tidak untuk menebang pohon, tidak untuk menimbun apalagi sampai merusak. Disini Jose meminta para pemuda kembali melihat darimana berasal dan apa yang harusnya dilakukan. Jose menekankan soal kalimat "Kamu tidak akan sampai tujuan jika tidak tahu daerah asal". Sebuah filosofi untuk mengingatkan kembali bahwa sehebat apapun orang jika tak mengenal jatidirinya maka semua akan sia-sia.
Disampaikan bahwa saat ini ada perilaku budaya yang sedang bergeser dan itu sangat nampak dan nyata. Ia mencontohkan cerita di Biak seorang tokoh adat harus mencari bupati untuk membahas soal wilayah adat. Tokoh ini datang, menunggu dan berharap bisa bertemu. Hal ini menurutnya salah kaprah sebab seharusnya posisi tokoh adat atau Mananwir ini jauh di atas seorang bupati.
Seorang Ondoafi tidak memiliki pemimpin lain selain Tuhan. Di atas Ondoafi hanyalah Tuhan. Begitu juga dengan seorang Mananwir yang memiliki wilayah adat, memiliki masyarakat adat dan paham soal kondisi sosial masyarakatnya dari hal paling kecil. Memahami akar-akar budaya dan tradisi sehingga tidak tepat seorang tokoh adat ini datang mencari cari bupati.
"Harusnya bupati itu yang datang mencari para tokoh ini, datang ke Obhe, sungkem dan menyampaikan maksud tujuan. Ini sudah terbalik. Di atas Mananwir atau Ondoafi itu Tuhan sedangkan di atas bupati masih ada gubernur, masih ada mendagri, masih ada presiden. Ini sudah salah sekali," cecar Jose. Selain itu masyarakat Papua saat ini harus diakui telah menjadi bagian minoritas dan sepatutnya diproteksi.
Hanya saja upaya untuk itu masih sangat lemah, adat harusnya bisa mengambil peran lebih luas untuk ini. Dicontohkan di Benua Australia penduduk aslinya adalah Aborigin yang jumlahnya sangat minus. Namun menariknya bentuk proteksi itu dilakukan yang dimulai dengan pendataan. Nah Papua ini sama tapi tak ada data yang kuat terkait jumlah populasi dan bentuk proteksi yang bisa dilakukan.
Inilah yang menurutnya bisa dilakukan dan dimulai dari sebuah komando yang keluar dari Obhe. "Jadi jangan salah kalau ada yang berpendapat bahwa orang-orang Sentani saat ini tidak jago, ondo tinggal ondo. obhe tinggal obhe. Itu karena kita selama ini hanya bisa saling sikut, iri dengki dan tidak saling mendukung. Ada yang kurang itu yang dibicarakan," ungkap Jose yang juga merupakan putera Kabupaten Jayapura.



