Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pakar Gizi Ingatkan Bom Waktu Penggunaan UPF dalam Program MBG

A
Penulis: Agung Trihandono❯

 

Program Makan Bergizi Gratis di salah satu sekolah di Kota Jayapura.   (Ceposonline.com/Dok.Cepos)
Program Makan Bergizi Gratis di salah satu sekolah di Kota Jayapura. (Ceposonline.com/Dok.Cepos)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Penggunaan ultra processed food (UPF) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik dari kalangan akademisi. Setelah setahun berjalan, menu MBG dinilai berpotensi bertentangan dengan prinsip gizi seimbang dan justru menyimpan risiko kesehatan jangka panjang bagi anak sekolah.


Advertisement

 

Seperti dilansir dari www.msn.com/id, Dosen Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM Yogyakarta, Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, mengatakan UPF umumnya mengandung gula, garam, dan lemak tambahan yang tinggi. “Dampaknya mungkin tidak terlihat sekarang, tapi 10–15 tahun ke depan bisa menjadi bom waktu penyakit kronis,” ujarnya, Kamis, 8 Januari 2026.

 

Advertisement

Menurut Mirza, secara konsep program makan siang sekolah seperti MBG memiliki tujuan yang baik, yakni memperbaiki status gizi anak dan menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.“Terlepas dari agenda politik, program school lunch adalah kewajiban negara dan sudah diterapkan di banyak negara,” katanya.

 

Namun, ia menilai pelaksanaan MBG masih menyisakan sejumlah persoalan, mulai dari kualitas menu hingga keamanan pangan. Kasus keracunan massal yang terjadi di beberapa daerah menunjukkan lemahnya pengawasan dalam proses penyiapan dan distribusi makanan. Padahal, anak sekolah termasuk kelompok berisiko tinggi. “Penanganannya tidak bisa dilakukan dengan main-main,” ujar Mirza.

Advertisement

 

Ia mengusulkan agar sekolah diberi kewenangan lebih besar dalam penyediaan makan siang. Dengan cakupan yang lebih kecil, sekolah dinilai lebih mampu melakukan pengawasan sekaligus memanfaatkan bahan pangan lokal. “Kesalahan distribusi dan risiko keamanan pangan bisa diminimalkan,” katanya.

 

Mirza juga menekankan pentingnya menyesuaikan menu MBG dengan konteks lokal. Menurut dia, kekayaan bahan pangan daerah seharusnya menjadi kekuatan utama program ini. Papua, misalnya, tidak bisa disamakan dengan Jawa atau Sumatra. "Kalau semua diseragamkan dengan UPF, itu tidak sesuai dengan kondisi lokal,” ujarnya.

Ia menyebut dampak investasi gizi baru akan terlihat setelah satu siklus pendidikan, sekitar 10 hingga 15 tahun. Karena itu, kebijakan MBG perlu dikawal secara ilmiah dan berkelanjutan.

Sebagai langkah perbaikan, Mirza mengajukan tiga rekomendasi. Pertama, penegakan ketat keamanan pangan dengan sanksi tegas bagi pihak yang lalai. “Dapur atau SPPG yang melanggar harus diberi efek jera. Ini amanah besar karena membawa wajah presiden,” katanya.

 

Kedua, pendampingan ilmiah oleh perguruan tinggi dan lintas sektor untuk memantau status gizi, kebugaran, dan antropometri anak penerima MBG. Ketiga, kebijakan MBG harus fleksibel dan terbuka terhadap temuan ilmiah. “Kalau ada bukti perlu perbaikan, harus segera direspons. Jangan sampai 2045 justru generasi ini menjadi beban kesehatan,” kata Mirza. (*)

Advertisement

Artikel Terkait

Wali Kota Rolling 16 Pejabat, Tiga Putri Port Numbay Duduki Jabatan Strategis

Wali Kota Rolling 16 Pejabat, Tiga Putri Port Numbay Duduki Jabatan Strategis

Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo kembali melakukan penyegaran birokrasi melalui rolling 16 pejabat untuk mengisi sejumlah posisi Pelaksana T

Pemda Dogiyai Apresiasi Festival Kopi, Petani dan Barista Papua Harus Jadi Pelaku Utama Industri

Pemda Dogiyai Apresiasi Festival Kopi, Petani dan Barista Papua Harus Jadi Pelaku Utama Industri

Pemerintah Kabupaten Dogiyai mengapresiasi penyelenggaraan Festival Kopi Papua Tengah yang digelar Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Festiva

HIPMI Dogiyai Promosikan Tiga Produk Kopi Arabika Lokal di Festival Kopi Papua Tengah

HIPMI Dogiyai Promosikan Tiga Produk Kopi Arabika Lokal di Festival Kopi Papua Tengah

Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Dogiyai memanfaatkan Festival Kopi Papua Tengah sebagai ajang

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer