Sirih Langka, Warga di Waropen Jadikan Akar Ini Sebagai Pengganti

Ismail Ceposonline • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 13:38 WIB
Mama Yarangga saat memperlihatkan cara mengunyah Akar Kayu Pohon Sirih Pengganti Buah Sirih, Selasa (22/9). (CEPOSONLINE.COM/ISMAIL)
Mama Yarangga saat memperlihatkan cara mengunyah Akar Kayu Pohon Sirih Pengganti Buah Sirih, Selasa (22/9). (CEPOSONLINE.COM/ISMAIL)

CEPOSONLINE.COM, WAROPEN – Kebiasaan mengunyah sirih pinang yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Papua kini menghadapi kondisi yang tidak biasa.

 Di Kabupaten Waropen, buah sirih hijau semakin sulit ditemukan di pasaran hingga membuat masyarakat harus mencari alternatif lain agar tradisi tersebut tetap berjalan.

Kelangkaan buah sirih ini bahkan membuat harganya melonjak tinggi. Di sejumlah tempat, harga sirih disebut mencapai Rp750 ribu hingga Rp800 ribu per kilogram. Harga tersebut jauh di atas kondisi normal dan membuat sebagian masyarakat kesulitan mendapatkannya.

Di tengah sulitnya memperoleh sirih segar, masyarakat mulai kembali menggunakan akar kayu dari pohon sirih hutan yang banyak tumbuh di wilayah Waropen. 

Akar tersebut menjadi pengganti sementara bagi mereka yang tetap ingin menikmati sirih pinang bersama kapur.

Mama Yarangga, salah satu warga yang masih rutin mengonsumsi sirih pinang, tampak tetap menikmati kebiasaannya meski tanpa menggunakan buah sirih seperti biasanya. 

Di tangannya hanya terdapat potongan akar sirih hutan yang telah dipersiapkan untuk dicampur dengan kapur.

“Sekarang kita susah sekali cari sirih, terpaksa kita pakai akar pohon sirih hutan ini,” ujar Mama Yarangga.

Menurutnya, rasa akar sirih hutan tidak jauh berbeda dengan buah sirih, meski teksturnya lebih keras. Agar mudah dikunyah, akar tersebut biasanya dipotong kecil-kecil terlebih dahulu kemudian dicampur dengan kapur.

“Rasanya kurang lebih sama, akar sirihnya agak keras, tapi masih bisa dikunyah. Kita potong kecil-kecil lalu tabur dengan kapur,” katanya.

Kelangkaan ini juga terlihat di Pasar Uri Waren. Pedagang yang biasanya menjual sirih kini hanya memiliki stok terbatas. Jika pun tersedia, harga jualnya sudah mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Beberapa pedagang menjual tiga buah sirih dengan ukuran kurang lebih sepanjang jari manis seharga Rp20 ribu. Bagi masyarakat yang sudah terbiasa mengonsumsi sirih setiap hari, harga tersebut dinilai sudah melewati batas kewajaran.

Belum diketahui secara pasti penyebab utama langkanya buah sirih di pasaran. Namun, kondisi ini telah berlangsung sekitar dua minggu terakhir dan mulai dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah Waropen, dan juga di Papua pada umumnya. 

Fenomena penggunaan akar sirih hutan ini juga mengingatkan kembali pada kebiasaan masyarakat Papua tempo dulu. Sebelum buah sirih mudah diperoleh seperti saat ini, akar dari tanaman sirih hutan menjadi salah satu bagian yang turut digunakan dalam tradisi mengunyah pinang.

Di tengah keterbatasan pasokan buah sirih, akar sirih hutan kembali hadir sebagai pilihan masyarakat untuk mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Bagi sebagian warga Waropen, pinang tanpa sirih terasa belum lengkap, sehingga berbagai cara dilakukan agar kebiasaan tersebut tetap dapat dilakukan. (*).

Editor : Abdel Gamel Naser
sirih Ceposonline.com Waropen