Bupati Willem Wandik Buka Festival Etnik Religi Tolikara 2026

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 17:46 WIB
Bupati Tolikara Willem Wandik memberikan sambutan dalam pembukan Festival Etnik Religi Tolikara 2026.

(CEPOSONLINE.COM/Diskomdigi Tolikara)
Bupati Tolikara Willem Wandik memberikan sambutan dalam pembukan Festival Etnik Religi Tolikara 2026. (CEPOSONLINE.COM/Diskomdigi Tolikara)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Dari lembah pegunungan Tolikara, sebuah pesan tentang kasih, persatuan, budaya, dan perdamaian kembali digaungkan.

 

Pemerintah Kabupaten Tolikara secara resmi membuka Festival Etnik Religi Tolikara Tahun 2026, Rabu, 12 Agustus 2026, di Kota Karubaga. Festival yang berlangsung selama dua hari, 12 hingga 13 Agustus, ini mengusung tema “Lestarikan Budaya dan Perkuat Iman untuk Tolikara yang Maju, Damai, dan Beridentitas.”

 

Pembukaan festival berlangsung meriah dan penuh sukacita. Hadir Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos, jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta masyarakat yang datang dari berbagai distrik dan kampung.

 

Di hadapan masyarakat, Bupati Willem Wandik menegaskan bahwa iman dan budaya bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat menjadi kekuatan yang saling melengkapi dalam membangun jati diri masyarakat Pegunungan Papua.

 

“Iman memberikan arah, sementara budaya memberikan akar. Iman menuntun kita kepada kasih dan keselamatan, sementara budaya menjaga ingatan, identitas, bahasa, persaudaraan, serta penghormatan kepada leluhur,” ujar Bupati Willem Wandik.

 

Menurut Bupati Willem Wandik, Festival Etnik Religi bukan sekadar pertunjukan budaya atau kegiatan seremonial. Lebih dari itu, festival ini menjadi panggung perdamaian dan ruang untuk menunjukkan kepada Indonesia bahkan dunia bahwa masyarakat Tolikara memiliki kekayaan budaya, kehidupan keagamaan, serta nilai-nilai persaudaraan yang kuat.

 

Karena itu, masyarakat diajak meninggalkan konflik, perang suku, serta perpecahan akibat kepentingan politik.

 

“Mari kita tunjukkan bahwa dari Lembah Toli lahir pesan kasih, pengampunan, persatuan, dan keberanian untuk bangkit demi masa depan Tolikara yang maju, damai, dan sejahtera,” pesan Bupati Willem Wandik. 

 

Pemerintah Kabupaten Tolikara juga melihat festival ini sebagai bagian dari langkah strategis untuk memperkenalkan identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Kekayaan budaya, keindahan alam pegunungan, kehidupan sosial masyarakat, serta kehidupan keagamaan yang tumbuh dan berkembang di Tolikara dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata.

 

“Melalui event ini, nilai-nilai budaya dan religi diangkat kembali, dilestarikan kembali, supaya bisa memiliki daya tarik, atau daya magnet, bagi para wisatawan, baik dalam negeri maupun mancanegara,” tuturnya.

 

Bupati Willem Wandik berharap Festival Etnik Religi Tolikara tidak hanya dikenal di tingkat kabupaten, tetapi mampu menjadi salah satu ikon budaya Papua Pegunungan, Tanah Papua, Indonesia, bahkan dikenal hingga dunia internasional.

 

Pemerintah Kabupaten Tolikara pun berencana menjadikan festival ini sebagai agenda rutin setiap bulan Agustus, sehingga dapat terus tumbuh bersama berbagai festival budaya yang telah dikenal di Papua.

 

Di antaranya Festival Danau Sentani, Festival Lembah Baliem, Festival Asmat, dan kini Festival Etnik Religi Tolikara di Karubaga. Keberlanjutan festival diharapkan menghadirkan efek berganda bagi masyarakat, mulai dari pariwisata, perdagangan, transportasi, ekonomi kreatif, usaha masyarakat, hingga pelestarian kebudayaan.

 

Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi tempat masyarakat menikmati pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang bertemunya budaya, iman, pariwisata, dan peluang ekonomi.

 

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Tolikara juga mengajak seluruh masyarakat menyambut HUT ke-81 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh sukacita.

 

Masyarakat diminta bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masing-masing agar seluruh rangkaian perayaan kemerdekaan dapat berlangsung aman, damai, dan tertib.

 

“Mari kita sama-sama menyongsong perayaan HUT 17 Agustus yang ke-81 ini dengan penuh sukacita. Kita sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban agar semua bisa berjalan lancar, aman, dan tertib,” pesan Bupati.

 

Semangat pelestarian budaya dan penguatan iman kemudian diperlihatkan melalui pertunjukan kolosal 250 pelajar Tolikara.

 

Siswa-siswi tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK tampil bersama memainkan ukulele dan membawakan musik rohani dalam sebuah pertunjukan massal yang penuh semangat.

 

Petikan ukulele yang dimainkan ratusan pelajar tersebut bukan hanya menjadi hiburan pembuka festival.

 

Pertunjukan ini menjadi simbol bahwa iman dan budaya harus diwariskan kepada generasi muda, agar identitas masyarakat Tolikara tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

 

Dari tangan anak-anak muda inilah, nilai kasih, persaudaraan, budaya, dan semangat membangun daerah diharapkan terus diteruskan kepada generasi berikutnya.

 

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 juga menghadirkan berbagai atraksi utama yang menggambarkan kekayaan sejarah, budaya, iman, dan alam Tolikara.

 

Di antaranya Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil di Lembah Toli, yang menggambarkan perjalanan masuknya Injil serta perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat.

 

Kemudian Tradisi Lendawi, sebuah seni tuturan, ratapan, dan syair perjumpaan adat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat Tolikara.

 

Festival juga menghadirkan Atraksi Tandem Paralayang, yang sekaligus menjadi sarana memperkenalkan keindahan panorama alam Pegunungan Tolikara dari udara.

 

Rangkaian pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa Tolikara bukan hanya memiliki kekayaan budaya dan kehidupan religi, tetapi juga menyimpan potensi wisata alam dan ekonomi kreatif yang dapat dikembangkan untuk masa depan.

 

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 akhirnya bukan hanya tentang sebuah perayaan.

Ia menjadi pesan dari Lembah Toli bahwa budaya harus dirawat, iman harus diperkuat, persaudaraan harus dijaga, dan perdamaian harus menjadi jalan bersama. (*)

Editor : Weny Firmansyah
tolikara Ceposonline.com