CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Potensi terjadinya praktik curang dalam laga krusial babak play off Persiputa kontra Adhyaksa FC, jadi perhatian kalangan advokat di Kota Jayapura.
Dewan Pimpinan Cabang
(DPC) PERADI Kota Jayapura resmi membentuk Tim Independen Fair Play (TIFA 8) untuk mengawal jalannya pertandingan playoff promosi melawan Adhyaksa FC Banten yang digelar, Jumat, 8 Mei 2026 di Stadion Lukas Enembe.
Ketua DPC PERADI Kota Jayapura, Dr. Pieter Ell, S.H., M.H., menegaskan bahwa
keputusan ini bukan reaksi sesaat, melainkan bentuk sikap atas pengalaman panjang
ketidakadilan yang pernah dialami Persipura.
Ia mengingatkan publik pada peristiwa tahun 2009, ketika Persipura Jayapura bahkan
menggugat otoritas sepak bola nasional hingga Rp15 miliar akibat dugaan kerugian dalam
kompetisi.
“Sejarah sudah mengajarkan kita. Ketidakadilan itu nyata dan pernah terjadi. Kami tidak
ingin itu terulang. Sepak bola harus bersih, harus adil,” tegas Pieter Ell lewat rilis yang diterima Ceposonline.com, Jumat (8/5/2026).
Sebagai sosok yang juga dikenal sebagai tokoh olahraga dan pemerhati sepak bola di Papua, Pieter Ell menilai bahwa pertandingan kali ini bukan sekadar soal menang atau
kalah.
“Ini bukan hanya pertandingan. Ini soal harga diri orang Papua. Persipura adalah simbol.
Kalau ada ketidakadilan, maka yang dilukai bukan hanya tim, tapi seluruh masyarakat
Papua.” ungkapnya.
Untuk itu, ia menunjuk Billy Marcelino Maniagasi, S.H. sebagai Ketua TIFA 8—sebuah
tim yang dibentuk khusus untuk melakukan pengawasan independen berbasis hukum.
Maniagasi menegaskan, TIFA 8 tidak hanya menjadi penonton saja.
“Kami hadir bukan saja mendukung sang Mutiara Hitam. Kami hadir untuk memastikan
tidak ada lagi permainan kotor. Kami berpihak pada keadilan—dan kami siap menempuh
jalur hukum jika ada pelanggaran,” ujarnya tegas.
TIFA 8 akan melakukan pemantauan langsung di lapangan, mengumpulkan bukti, serta mendokumentasikan setiap potensi pelanggaran selama pertandingan berlangsung.
Mereka juga menyampaikan tuntutan terbuka:
* Wasit harus netral dan profesional
* Tidak boleh ada keputusan kontroversial yang merugikan salah satu pihak
* Transparansi penuh dalam pengambilan keputusan pertandingan
* Jaminan keamanan dan sportivitas di stadion
Langkah ini menjadi sinyal keras bahwa praktik-praktik yang selama ini dicurigai dalam dunia sepak bola tidak lagi bisa dibiarkan tanpa pengawasan.
Kehadiran TIFA 8 diharapkan bisa menjadi preseden baru dalam sepak bola
Indonesia—bahwa pertandingan tidak hanya diawasi secara teknis, tetapi juga secara
hukum.
Pertandingan Jumat 8 Mei 2026 ini bukan sekadar laga playoff biasa. Ini telah berubah
menjadi panggung besar: Pertaruhan nasib Persipura, Pertaruhan integritas
sepak bola Indonesia
Di tengah euforia dan tekanan, satu pesan menguat dari Jayapura:
Papua tidak akan diam lagi.
"Tanpa keadilan, sepak bola kehilangan makna. Dan tanpa keberanian,
ketidakadilan akan terus terjadi.” pungkasnya. (*)