Dari Kasus Viral SMAN 4 Jayapura, Ini Kata Psikolog Uncen Soal Seksualitas Bagi Remaja

Agung Trihandono • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 05:13 WIB
Dr. Yosefina Marijke Watofa, M.Psi.
(Ceposonline.com/Jimianus Karlodi) 
Dr. Yosefina Marijke Watofa, M.Psi. (Ceposonline.com/Jimianus Karlodi) 

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA – Kasus perundungan dan dugaan pelecehan seksual lewat flatform media sosial yang melibatkan sejumlah siswa di SMA Negeri 4 Jayapura mengundang keprihatinan dari sejumlah kalangan. 


   Percakapan tidak pantas di grup WhatsApp yang kemudian beredar di media sosial tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwasanya edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan batas-batas etika perilaku remaja di era digital masih memerlukan perhatian mendalam.


    Menanggapi kasus ini, Dosen sekaligus Psikolog dari Universitas Cenderawasih (Uncen), Dr. Yosefina Marijke Watofa, M.Psi., menekankan pentingnya pendekatan yang tidak sekadar mengedepankan sanksi hukum atau administratif.


   Menurutnya, pihak institusi pendidikan bersama para pemangku kepentingan perlu menciptakan saluran komunikasi yang sehat bagi para peserta didik guna membicarakan topik-topik sensitif secara ilmiah dan terarah.


  “Kalau saran saya, sekolah perlu buka ruang untuk siswa SMA jika mereka ingin diskusi atau cari tahu atau bicara tentang seksualitas sesuai dengan usia perkembangannya,” tegas Yosefina kepada Cenderawasih Pos, Selasa (1/9).


   Yosefina menguraikan bahwa pesatnya perkembangan teknologi informasi dan keterbukaan media sosial saat ini membuat para remaja dapat dengan sangat mudah mengakses beragam konten mengenai seksualitas.


  Namun, ketersediaan data secara liar di internet sering kali tidak dibarengi dengan kemampuan menyaring mana informasi yang edukatif dan mana yang bersifat merusak.


  Kondisi tersebut berdampak langsung pada cara berpikir serta pola perilaku remaja yang cenderung belum matang dalam memilah etika berkomunikasi. 


Tanpa adanya pendampingan dan bimbingan yang memadai, anak-anak berpotensi besar mengadopsi bahasa maupun tindakan penyimpangan seksual verbal yang mereka temui di ruang digital.


  “Ingat bahwa informasi di media tuh sudah sangat terbuka, sehingga anak-anak bisa searching untuk cari tahu tentang seksualitas yang belum tentu disaring. Mereka akan jiplak info itu tanpa mempertimbangkan benar atau tidak, baik atau tidak, pantas kah tidak kah,” ungkap akademisi Universitas Cenderawasih tersebut.


  Lebih lanjut, Yosefina menyoroti bahwa tindakan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah harus melibatkan kolaborasi aktif antara orang tua di rumah dan guru di sekolah. Edukasi seksualitas tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang tabu untuk didiskusikan, melainkan harus disampaikan melalui metode pengajaran yang tepat serta berorientasi pada pembentukan karakter.


  Sekolah diharapkan tidak hanya menyampaikan materi biologi secara kaku, melainkan mengintegrasikannya dengan pemahaman etika, moralitas, dan konsekuensi hukum dari tindakan kekerasan verbal. Hal ini menjadi krusial agar para siswa memahami batas-batas norma yang berlaku di masyarakat.


  “Sehingga hal yang perlu dilakukan adalah orang tua memberi tahu secara baik tentang seksualitas ke remaja dan memberi ruang ke anak untuk diskusi, dan sekolah pun menyiapkan hal atau materi pelajaran biologi yang sesuai untuk anak-anak mereka mengenai fungsi-fungsi organ tubuh, tapi dengan catatan harus disertai norma-norma sesuai umur remaja,” paparnya.


 Yosefina mengingatkan kembali bahwa masa remaja adalah fase transisi yang diwarnai oleh lonjakan rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Dorongan untuk bereksplorasi yang tidak disertai dengan pemahaman norma dan bimbingan matang sering kali menjadi pemicu munculnya perilaku perundungan verbal maupun pelanggaran etika di sekolah.


  Oleh karena itu, penyediaan ruang aman untuk berdiskusi serta penguatan pengawasan berbasis kasih sayang dinilai sebagai fondasi paling utama dalam meminimalkan potensi berulangnya kasus serupa di SMAN 4 Jayapura maupun sekolah lainnya.


  “Tumbuh kembang anak remaja itu penuh dengan rasa ingin tahu dan dorongan yang belum tentu pas untuk diwujudnyatakan dalam perilaku yang tepat karena usia mereka yang masih muda,” pungkas  Yosefina. (*)

Editor : Agung Trihandono
perudungan pendidikan