CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 Provinsi Papua resmi ditutup, Sabtu (24/10/2026) malam, di Mal Jayapura, Kota Jayapura.
Penutupan dilakukan oleh Penjabat (Pj) Sekda Papua Christian Sohilait mewakili Gubernur Papua.
Acara dihadiri Kepala OJK Papua, perwakilan Bank Indonesia, sejumlah perbankan di Papua, pelaku UMKM, dan masyarakat.
Kepala OJK Papua Fatwa Aulia mengatakan, selama Oktober telah digelar 30 kegiatan literasi dan inklusi keuangan dengan total 1.727 peserta. Pesertanya meliputi pelajar, mahasiswa, tenaga pendidik, aparatur sipil negara (ASN), hingga masyarakat umum.
Dari rangkaian BIK 2026 tercatat 536 realisasi penggunaan produk dan layanan keuangan. Produk tersebut mencakup simpanan dan tabungan (termasuk Simpanan Pelajar dan Tabunganku), tabungan syariah, investasi emas, pembukaan rekening efek, serta layanan jaminan sosial ketenagakerjaan.
Pada puncak acara, Financial Expo di Mal Jayapura mencatat 329 produk dan layanan. Rinciannya rekening tabungan, tabungan emas, tabungan haji, akun IDX Mobile pasar modal, dua pengajuan kredit, dan dua produk BPJS Ketenagakerjaan, dengan total nilai sekitar Rp112,5 juta hingga sore hari. Transaksi UMKM peserta expo pada waktu yang sama mencapai Rp3 juta. "Kami berharap BIK tidak berhenti pada acara seremonial, tetapi menjadi upaya berkelanjutan untuk mendorong masyarakat cerdas keuangan," ujar Fatwa.
Mengusung tema "Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera", OJK menekankan bahwa akses keuangan harus diiringi pemahaman tentang manfaat, risiko, hak, dan kewajiban konsumen.
"Kami mengimbau masyarakat menerapkan prinsip 2L, yakni legal dan logis, agar terhindar dari investasi bodong," imbuhnya.
Direktur Keuangan Bank Papua, Pujianto selaku Ketua Panitia BIK 2026, mengatakan Bank Papua kembali dipercaya memimpin kepanitiaan tahun ini.
Menurutnya, tantangan di Papua tidak kecil, mulai dari kondisi geografis yang luas, layanan yang belum merata, hingga ancaman pinjaman online ilegal, investasi bodong, judi online, dan penipuan.
Karena itu, BIK tahun ini juga diisi kegiatan edukasi dan kompetisi bagi generasi muda, antara lain lomba Ranking 1 literasi keuangan untuk pelajar SMA serta talkshow investasi dan kuis untuk mahasiswa.
Bank Papua juga mendorong budaya menabung sejak dini lewat Tabungan Pelajar dan program Satu Rekening Satu Pelajar, serta membuka akses permodalan bagi UMKM.
"Masyarakat yang cerdas mengelola keuangan adalah fondasi bagi Papua yang mandiri dan sejahtera," kata Pujianto.
Sementara itu, PJ Sekda Papua Christian Sohilait menegaskan, BIK bukan sekadar seremoni, melainkan gerakan bersama agar setiap warga punya kesempatan sama mengakses layanan keuangan yang aman, mudah, terjangkau, dan bertanggung jawab.
Ia mengingatkan bahwa gerakan ini telah berjalan 10 tahun sejak Ayo Menabung pada 2016.
"Kita tidak boleh berhenti pada upaya membuka akses rekening, tabungan, kredit, maupun layanan keuangan digital. Masyarakat juga harus punya pengetahuan mengelola keuangan, memahami risiko, dan menghindari penipuan," ujarnya.
Ia menyebut masyarakat kampung, pesisir, dan pegunungan, petani, nelayan, pekebun, UMKM, perempuan, serta generasi muda perlu mendapat kesempatan lebih luas. Pemprov Papua berkomitmen memperkuat kolaborasi, antara lain melalui percepatan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD), sejalan dengan visi Papua CERAH (cerdas, sejahtera, dan harmonis).
"Inklusi keuangan harus menjadi jalan membuka peluang, bukan menambah beban masyarakat. Layanan keuangan harus dimanfaatkan secara bijak, produktif, dan sesuai kemampuan," tegasnya. (*)
Editor : Elfira Halifa