Kampung Yoboi dan UNCEN Kembangkan Produks Jelantah Dengan Teknologi Biodiesel

Agung Trihandono • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 08:15 WIB
Foto Bersama setelah kegiatan Kelompok Sadar Energi dan Tim Universitas Cenderawasih.
Foto Bersama setelah kegiatan Kelompok Sadar Energi dan Tim Universitas Cenderawasih.

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Minyak jelantah yang selama ini dipandang sebagai limbah rumah tangga mulai mendapatkan nilai tambah di Kampung Yoboi, Kabupaten Jayapura, Papua. Melalui pendampingan Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Cenderawasih Tahun pendanaan 2026 ini dilaksanakan oleh Tim Pengabdi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Cenderawasih. Tim dosen Ketua Dr. Himawan, M.Si., Anggota Galang Taufani, S.H., M.H. dan Yohanis Irenius Mandik, S.Si., M.Si., Ph.D. serta Mahasiswa yang turut serta terlibat dalam kegiatan yaitu Anne Rahayu Taruk Padang dan Jovanka Sesilia Meilani bersama Kelompok Sadar Energi Kampung Yoboi yang diketuai Aksamina Yohana Sokoy terus mengembangkan pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel sekaligus memperkuat pengelolaan usaha berbasis masyarakat. 

Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi BIMA Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mendorong penerapan teknologi tepat guna sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat dan ekonomi hijau di Papua.

Pengembangan tersebut merupakan bagian dari keberlanjutan program yang telah dilaksanakan pada tahun sebelumnya. Dalam program tersebut, masyarakat telah memperoleh Unit Reaktor Biodiesel Terintegrasi yang terdiri atas sistem filtrasi, reaktor transesterifikasi, dan pemurnian bertingkat. Teknologi tersebut telah digunakan secara mandiri dengan kapasitas produksi sekitar 10-15 liter biodiesel per minggu.

Tidak berhenti pada kemampuan produksi, pendampingan tahun 2026 diarahkan untuk meningkatkan kesiapan produk agar dapat dikembangkan menjadi usaha yang lebih terstruktur. Fokus kegiatan mencakup peningkatan kualitas, pengemasan, manajemen usaha, legalitas, branding, serta pengembangan pemasaran. Salah satu perubahan yang dilakukan terlihat pada aspek pengemasan. Produk yang sebelumnya masih menggunakan botol bekas air mineral mulai diarahkan menggunakan kemasan HDPE, dilengkapi safety seal dan heat gun. Perubahan tersebut dilakukan untuk meningkatkan keamanan, kerapian, kebersihan, serta memberikan tampilan produk yang lebih layak untuk dikembangkan ke pasar.

Masyarakat Kampung Yoboi mengikuti pendampingan pengelolaan produk biodiesel melalui penerapan teknologi tepat guna dan inovasi pengemasan.
Masyarakat Kampung Yoboi mengikuti pendampingan pengelolaan produk biodiesel melalui penerapan teknologi tepat guna dan inovasi pengemasan.


Selain kemasan, masyarakat juga mendapatkan pendampingan mengenai standardisasi dan Quality Control (QC). Melalui kegiatan tersebut, mitra diarahkan untuk melakukan pemeriksaan kualitas secara lebih teratur sebelum produk dikemas. Penguatan kualitas menjadi penting karena pengembangan biodiesel tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga memastikan proses produksi dilakukan secara konsisten.

Dari sisi pengelolaan usaha, program juga memberikan perhatian pada kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan. Mitra memperoleh pelatihan pencatatan keuangan dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), yang dilanjutkan dengan pendampingan pencatatan arus kas. Kegiatan tersebut diharapkan membantu masyarakat mengetahui biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi serta menjadi dasar dalam menentukan harga jual dan menghitung keuntungan. Penguatan usaha juga dilakukan melalui pendampingan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan pendaftaran Merek Dagang. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun kelembagaan usaha sekaligus mempersiapkan identitas produk agar memiliki dasar legalitas dan perlindungan yang lebih baik.

Di sisi pemasaran, masyarakat mulai diperkenalkan dengan strategi digital marketing, media sosial, marketplace, dan Search Engine Optimization (SEO). Pengembangan jaringan pemasaran juga diarahkan melalui calon pengecer atau warung sehingga produk memiliki peluang untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Hingga Agustus 2026, tahapan pemasaran masih dalam proses persiapan dan pengembangan.

Program pendampingan ini menerapkan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam proses pengembangan. Mitra dilibatkan dalam mengidentifikasi kebutuhan, mengikuti pelatihan, mempraktikkan teknologi, serta melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat dalam mengelola usaha secara mandiri. Dengan demikian, teknologi yang telah diberikan dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan setelah program pendampingan berakhir.

Pemanfaatan minyak jelantah menjadi biodiesel juga memberikan manfaat dari sisi lingkungan. Bahan yang berpotensi menjadi limbah dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan menjadi energi alternatif. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut membuka peluang terbentuknya aktivitas ekonomi baru yang dikelola oleh masyarakat lokal. Melalui penguatan teknologi, kualitas produk, manajemen, legalitas dan pemasaran, Kampung Yoboi diarahkan untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi biodiesel, tetapi juga menjadi masyarakat yang mampu mengembangkan usaha energi alternatif berbasis sumber daya lokal.

 

Editor : Agung Trihandono
usaha uncen papua Ceposonline.com