2.190 Personel Gabungan Disiagakan Antisipasi Karhutla di Papua

Karolus Daot • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 15:58 WIB
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang tinjau kesiapan fasilitas penunjang antisipasi Karhutla di Papua, Rabu (26/8/2026) (CEPOSONLINE.COM/KAREL
Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang tinjau kesiapan fasilitas penunjang antisipasi Karhutla di Papua, Rabu (26/8/2026) (CEPOSONLINE.COM/KAREL

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA–Sebanyak 2.190 personel gabungan disiagakan untuk mengantisipasi dan menangani potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Papua. Kesiapsiagaan tersebut ditandai dengan apel pengecekan personel dan perlengkapan dalam rangka antisipasi Karhutla yang dipimpin Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang di Makodam XVII/Cenderawasih, Rabu (26/8/2026).

Dalam apel tersebut, sekitar 600 personel hadir secara langsung. Sementara secara keseluruhan, 2.190 personel telah disiapkan dan tersebar di sejumlah kabupaten serta provinsi yang menjadi wilayah tanggung jawab Kodam XVII/Cenderawasih.

Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang mengatakan, personel yang dilibatkan berasal dari berbagai unsur, baik TNI maupun instansi terkait.
"Seluruhnya di wilayah itu sudah kita siapkan personel untuk bisa dikerahkan mengantisipasi terjadinya Karhutla sebesar 2.190 orang. Ini tersebar di kabupaten dan provinsi yang menjadi tanggung jawab Kodam XVII/Cenderawasih," katanya.

Ia menjelaskan, dari unsur TNI, personel yang dilibatkan berasal dari Kodim, Korem, Batalyon Teritorial Pembangunan (TP), Detasemen, serta unsur lainnya. Saat ini, Kodam XVII/Cenderawasih memiliki 13 Batalyon TP yang turut dipersiapkan untuk mendukung penanganan Karhutla.
Selain TNI, personel gabungan juga melibatkan Polri, BPBD, BNPB, Basarnas, unsur kehutanan, pemadam kebakaran, serta organisasi komunikasi masyarakat seperti ORARI dan RAPI. "Ini yang tergabung dan ada di wilayah ini kita sinergikan untuk bersama-sama melakukan upaya-upaya pemadaman apabila terjadi (kebakaran)," ujarnya.

Terkait titik panas atau hotspot, Febriel menyebut terdapat enam titik yang dalam sepekan terakhir terpantau cukup menonjol. Empat titik berada di Kabupaten Nabire, satu titik di Kabupaten Puncak, dan satu titik lainnya berada di Biak.

Namun, seluruh titik tersebut telah berhasil ditangani dan dipadamkan. Sementara sejumlah hotspot lainnya yang terpantau memiliki skala relatif kecil dan dinilai masih dapat segera ditangani.

"Kita terus memantau baik melalui aplikasi Sipongi, BMKG, satelit, termasuk dari kawan-kawan dan masyarakat. Media sosial juga bisa menjadi informasi yang baik bagi kita untuk melakukan langkah-langkah antisipasi," jelasnya.

Untuk mendukung penanganan Karhutla, pihaknya juga telah melakukan inventarisasi sarana dan prasarana yang dimiliki masing-masing instansi. Di antaranya 21 unit kendaraan pemadam kebakaran, tangki air, kendaraan truk, ambulans, Alkon, peralatan komunikasi, hingga perlengkapan kesehatan.

Meski demikian, Febriel mengakui pihaknya saat ini belum memiliki dukungan pemadaman melalui udara maupun kegiatan modifikasi cuaca. Dukungan tersebut, kata dia, akan disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.

"Sampai minggu ini, di aplikasi Sipongi maupun BMKG belum ada yang terdeteksi cukup besar. Di Sipongi masih berwarna kuning dan hijau, jumlahnya juga sangat sedikit dibandingkan provinsi-provinsi lain," katanya.

Kendati kondisi hotspot di Papua masih relatif terkendali, Pangdam menegaskan seluruh personel tetap diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat kondisi cuaca dapat memicu meluasnya kebakaran.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak melakukan pembukaan lahan melalui pembakaran maupun membakar sampah tanpa pengawasan. "Memang ada beberapa kejadian, contohnya di Nabire, yang berawal dari pembakaran ataupun pembukaan lahan, namun menjadi meluas karena kondisi cuaca," ungkapnya.

Febriel mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api di wilayah masing-masing. Informasi yang cepat dinilai penting agar petugas dapat segera melakukan langkah antisipasi sebelum api meluas. "Mari kita sama-sama menjaga dan memberikan informasi apabila terdapat titik api, supaya kita di wilayah bisa segera melakukan langkah-langkah antisipasi," pungkasnya. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
Ceposonline.com karhutla