Ribuan ​Artefak dan Dokumen Bersejarah Papua dari Belanda Resmi Dipulangkan

Jimianus Karlodi • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 14:43 WIB
Uncen dan PACE Collection Foundation saat melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dokumen bersejarah Papua, Senin (24/8/2026).
(CEPOSONLINE.COM/HUMAS UNCEN)
Uncen dan PACE Collection Foundation saat melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dokumen bersejarah Papua, Senin (24/8/2026). (CEPOSONLINE.COM/HUMAS UNCEN)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Sebuah babak baru dalam sejarah pelestarian identitas dan warisan kebudayaan Papua resmi dimulai di Negeri Kincir Angin.

 Universitas Cenderawasih (Uncen) menjalin kemitraan strategis dengan PACE Collection Foundation melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) terkait pemulangan dan pengalihan hak milik artefak warisan budaya Papua serta berbagai koleksi pribadi yang selama ini tersimpan di Belanda kepada Museum Loka Budaya Papua Universitas Cenderawasih.

​Penandatanganan nota kesepahaman yang sarat nilai historis tersebut berlangsung secara khidmat pada Sabtu, 22 Agustus 2026, bertempat di NH Hotel, Utrecht, Belanda.

​Dalam prosesi bersejarah ini, Universitas Cenderawasih diwakili secara langsung oleh Wakil Rektor II, Dr. Ferdinand Risamasu, S.E., M.Sc. Agr., didampingi langsung oleh jajaran pejabat teras institusi, yaitu Wakil Rektor IV UNCEN, Dr. Basir Rohrohmana, S.H., M.Hum., serta Kepala Biro Perencanaan, Kerja Sama, dan Humas UNCEN, Marthinus M. Itaar, S.H., M.A.P.

​Sementara itu, dari pihak PACE Collection Foundation, penandatanganan dilakukan oleh Ketua Yayasan, Drs. Feije Duim, M.A., dengan didampingi dan disaksikan secara langsung oleh Sekretaris Yayasan, Huub Lems, S.H.

​Pada kesempatan itu, Ferdinand, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada pengurus PACE Collection Foundation. Ia memuji dedikasi yayasan asal Belanda tersebut yang selama ini telah merawat, menjaga, dan mengkonservasi koleksi-koleksi budaya Papua dengan sangat baik.

​"Dokumentasi dan koleksi warisan budaya yang tersimpan ini memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat penting bagi masyarakat Papua. Pemulangan artefak ini memberikan kesempatan yang luar biasa bagi generasi muda Papua untuk dapat mengenal, mempelajari, dan merekonstruksi kembali sejarah, identitas, serta kekayaan budaya leluhur mereka yang sempat terpisah jarak dan waktu," tegas Ferdinand.

​Ferdinand menekankan bahwa komitmen Universitas Cenderawasih adalah memastikan agar seluruh harta karun budaya ini tidak sekadar dipindahkan sebagai benda mati atau koleksi pajangan pasif. Sebaliknya, seluruh materi tersebut akan diintegrasikan sebagai sumber pembelajaran, penelitian, dan sarana edukasi aktif bagi civitas akademika dan publik.

"​Koleksi yang selama ini dihimpun dan disimpan oleh PACE Collection Foundation mencakup khazanah yang sangat kaya dan beragam. Benda-benda kebudayaan ini berasal dari berbagai suku dan wilayah etnis di seluruh bentang alam Papua, mencerminkan kompleksitas serta keindahan peradaban lokal," ungkap Ferdinand.

​Adapun aset kebudayaan yang akan dialihkan hak miliknya meliputi:
​Artefak Etnografis dan Koleksi Pribadi, seperti berbagai benda kriya, ukiran, alat ritual, perhiasan adat, dan perkakas kehidupan sehari-hari masyarakat Papua.

​Dokumentasi Visual yang mencakup ribuan lembar foto bersejarah, rekaman video antik, dan cuplikan film dokumenter yang merekam kehidupan sosial Papua dari era lampau.
​Arsip Literatur dan Dokumen. Terdapat naskah dokumen penting, catatan sejarah, serta buku-buku referensi langka.

Serta, ​Dokumentasi Audio dan Musik. Rekaman suara, nyanyian adat, dan musik tradisional dari berbagai pelosok wilayah Papua.

Sebagai informasi adapun proses pemulangan artefak dan arsip dokumen ini diproyeksikan akan memperkuat posisi Museum Loka Budaya Papua Universitas Cenderawasih sebagai pusat pelestarian, pembelajaran, penelitian, dan pengembangan pengetahuan kekayaan budaya Papua.

​Dengan dialihkannya koleksi dari Belanda ini, Museum Loka Budaya Papua siap menjadi ruang edukasi interaktif bagi mahasiswa, civitas akademika, peneliti internasional, serta masyarakat luas. Generasi muda Papua kini dapat mempelajari dokumen dan peninggalan nenek moyang mereka secara langsung di tanah kelahiran mereka sendiri. (*)

Editor : Agung Trihandono
artefak sejarah papua Ceposonline.com