CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA–Prihatin terhadap tingginya angka anak putus sekolah di Papua, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Nerlince Wamuar, mengundang para orang tua bersama anak-anak yang putus sekolah ke Gedung MRP, Rabu (29/7/2026).
Pertemuan tersebut menjadi wadah untuk mendengarkan langsung persoalan yang dihadapi sekaligus mencari solusi agar mereka dapat kembali mengenyam pendidikan.
Nerlince mengungkapkan, berdasarkan data yang diterimanya, terdapat hampir 2.000 anak putus sekolah di Kota Jayapura.
Menurutnya, angka tersebut bukan hanya berasal dari anak-anak asli Port Numbay, tetapi juga anak-anak dari berbagai daerah yang kini menetap di Kota Jayapura.
"Masalahnya bermacam-macam. Ada yang putus sekolah karena memang tidak ada niat, ada juga karena persoalan keluarga dan orang tua. Tetapi itu bukan alasan bagi kita untuk membiarkan masa depan mereka begitu saja," ujarnya.
Ia menjelaskan, persoalan anak putus sekolah sebelumnya juga menjadi perhatian dalam peringatan Hari Anak Nasional di Kantor Wali Kota Jayapura. Saat itu, Nerlijce sebagai Ketua TP PKK tidak hanya mengundang anak-anak, tetapi juga melibatkan para orang tua, kepala kampung, lurah, distrik, tokoh gereja, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, hingga unsur pemerintah.
Menurutnya, keterlibatan seluruh elemen masyarakat penting untuk membangun komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Papua. "Saya yang meminta agar pemerintah kota jayapura mengundang pihak gereja, karena banyak anak lahir dan dibina melalui gereja, begitu juga masjid, kepala kampung, hingga paguyuban. Semua harus ikut bertanggung jawab karena anak-anak di kampung maupun di kota sama-sama berhak mendapatkan pendidikan," katanya.
Nerlince mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap anak-anak yang belum bersekolah. "Kalau ada anak di lingkungan kita yang tidak sekolah, mari kita sama-sama dorong agar mereka bisa kembali melanjutkan pendidikan," ucapnya.
Sebagai seorang pendidik yang juga mengelola sekolah, Nerlince mengaku terpanggil untuk membantu anak-anak tersebut agar dapat kembali belajar. "Percuma kita bicara Papua kaya akan sumber daya alam, kalau anak-anak kita tidak sekolah. Masa depan Papua ditentukan oleh kualitas pendidikan generasi mudanya," tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah orang tua dan anak putus sekolah datang dari berbagai wilayah, di antaranya Kota Jayapura dan Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura. Mereka menyampaikan berbagai kendala yang menyebabkan anak-anak tidak dapat melanjutkan pendidikan, mulai dari keterbatasan ekonomi, persoalan keluarga, hingga pengaruh pergaulan.
Menindaklanjuti aspirasi tersebut, Nerlince berkomitmen membantu mereka kembali ke bangku sekolah sesuai kondisi masing-masing. Anak yang putus sekolah di tingkat SD akan difasilitasi mengikuti Program Paket A, sementara yang berhenti di tingkat SMP akan dibantu untuk pindah dan melanjutkan pendidikan di sekolah lain. Selain itu, MRP juga akan membantu menyelesaikan tunggakan biaya pendidikan bagi sejumlah anak yang terkendala administrasi.
"Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli dengan anak-anak ini. Saya berharap, jika hari ini kita membantu mereka kembali bersekolah, suatu saat nanti merekalah yang akan menjadi berkat bagi orang lain," pungkas Nerlince. (*)
Editor : Lucky Ireeuw