Lestarikan Bahasa Daerah, Pemprov Papua Tengah Siapkan Buku Bahan Ajar Dwi Bahasa untuk Anak PAUD

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:23 WIB
Foto bersama Kabid Kebudayaan Papua Tengah, Deni Tenouye, penulis buku dan peserta seminar Penyatuan Persepsi dalam rangka Melengkapi Buku Bahan Ajar Dwi Bahasa di Provinsi Papua Tengah” yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Jumat (23/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Foto bersama Kabid Kebudayaan Papua Tengah, Deni Tenouye, penulis buku dan peserta seminar Penyatuan Persepsi dalam rangka Melengkapi Buku Bahan Ajar Dwi Bahasa di Provinsi Papua Tengah” yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Jumat (23/10/2026). (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyiapkan buku bahan ajar dwibahasa untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai upaya melestarikan bahasa daerah sekaligus memperkenalkan identitas budaya masyarakat Papua kepada generasi muda sejak dini.

Upaya tersebut dibahas dalam seminar bertajuk “Penyatuan Persepsi dalam Rangka Melengkapi Buku Bahan Ajar Dwi Bahasa di Provinsi Papua Tengah” yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Jumat (23/10/2026).

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Deni Tenouye, saat membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya pendidikan yang memperhatikan pembentukan karakter, kecerdasan, dan kepribadian anak, termasuk lingkungan budaya tempat mereka tumbuh.

“Pendidikan anak merupakan proses utama dalam membentuk karakter, kecerdasan, dan kepribadian anak-anak kita. Hal ini sangat penting dan harus disesuaikan dengan lingkungan budaya serta kedekatan emosional anak-anak,” ujar Deni dalam sambutannya.

Menurutnya, bahasa daerah merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pengenalan bahasa daerah melalui pendidikan sejak usia dini menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan anak dengan identitas dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakatnya.

Ia mengatakan, penyusunan buku bahan ajar dwi bahasa bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya daerah di Papua Tengah.

“Penyusunan buku ini bukan sekadar tugas, melainkan sebuah langkah penting untuk mengembangkan, melestarikan, dan mewariskan kekayaan budaya kepada generasi-generasi kita,” kata Tenouye.

Melalui buku bahan ajar tersebut, anak-anak diharapkan dapat mengenal bahasa daerah sekaligus mempelajari bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran. Materi yang disusun juga perlu memperhatikan bahasa yang digunakan masyarakat di setiap wilayah serta konteks budaya dan kehidupan sehari-hari anak.

Karena itu, Deni berharap seminar tersebut dapat menjadi ruang bagi para peserta untuk menyatukan persepsi dan memberikan masukan demi menyempurnakan materi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan anak usia dini.

“Melalui kegiatan ini, kita berharap dapat menyatukan persepsi, memberikan masukan yang konstruktif, serta menyempurnakan isi materi agar bahan ajar ini benar-benar kontekstual, aplikatif, dan ramah anak,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Deni juga menyinggung pentingnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan bahasa dan kebudayaan daerah. Ia merujuk pada rekomendasi kongres yang disebut berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu, termasuk perlunya dukungan kebijakan dan pendanaan untuk pengembangan kebudayaan.

Menurutnya, upaya pelestarian bahasa daerah membutuhkan dukungan berkelanjutan agar pelaksanaannya tidak berhenti pada penyusunan bahan ajar, tetapi dapat terus dikembangkan melalui pendidikan dan keterlibatan masyarakat.

Deni turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mendukung penyusunan buku bahan ajar dwibahasa tersebut. Ia menilai keterlibatan pemerintah, tenaga pendidik, tokoh adat, akademisi, dan masyarakat diperlukan untuk memastikan materi pembelajaran tetap berakar pada budaya lokal.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk mendukung pekerjaan ini. Saya berharap kita semua dapat bekerja sama untuk menyelesaikan tugas ini dengan baik,” kata Deni.

Seminar tersebut melibatkan berbagai unsur, antara lain anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), anggota DPR Papua Tengah, akademisi, kepala suku, tokoh agama, intelektual setiap suku, Bunda PAUD, dan PKK. Para peserta diharapkan memberikan masukan untuk melengkapi dan menyempurnakan materi buku agar mencerminkan bahasa serta budaya masyarakat di Papua Tengah.

Deni berharap penyusunan buku bahan ajar dwibahasa dapat menjadi salah satu langkah untuk membangun pendidikan yang sesuai dengan konteks kehidupan anak-anak Papua Tengah tanpa mengabaikan warisan budaya leluhur.

“Kita sedang meletakkan dasar bagi masa depan anak-anak Papua Tengah agar mereka mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka, tetapi tetap berpegang kuat pada nilai-nilai kearifan lokal,” tutupnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Papua Tengah Ceposonline.com paud