Saat Hutan Terbakar dan Air Mengering, Mama-mama Noken di Nabire Tetap Menganyam Harapan

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 17:08 WIB
Mama-mama pengrajin noken pajang hasil jualan di pasar sayang mama Papua Oyehe Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Mama-mama pengrajin noken pajang hasil jualan di pasar sayang mama Papua Oyehe Nabire. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)

CEPOSONLINE.COM,NABIRE-Di tengah teriknya matahari dan debu yang beterbangan akibat kebakaran hutan, mama-mama pengrajin noken di Pasar Mama Noken Oyehe, Kabupaten Nabire, Papua Tengah, tetap duduk menunggu pembeli. Jari-jari mereka terus bergerak merajut benang, sementara mata sesekali memandang orang yang melintas, berharap ada yang berhenti dan membeli hasil kerajinan mereka.

Bagi mama-mama ini, duduk di pasar bukan sekadar mengisi waktu. Di sanalah mereka berjuang mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, musim kemarau yang membuat air mengering dan kebakaran yang menghanguskan sejumlah lokasi pencarian kulit kayu kini menambah berat perjuangan mereka.

Mama Hana, salah satu pengrajin noken di Pasar Mama Noken Oyehe, menceritakan bagaimana kondisi tersebut mulai memengaruhi kehidupan para mama yang menggantungkan penghasilan dari hasil kerajinan tangan. Saat diwawancarai media ini, Kamis (1/10/2026), ia mengatakan kekeringan telah membuat sumber air yang biasa digunakan warga tidak lagi bisa diandalkan.

“Air yang biasanya mengalir di kali sudah berhenti. Sumur kami juga semakin kering. Padahal, selama ini kami menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk mencuci pakaian,” ungkapnya saat diwawancarai media ini pada Kamis, (1/10/2026). 

Air yang semakin sulit diperoleh menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat. Sebagian warga mulai mengandalkan layanan PAM, tetapi belum semua bisa menikmati aliran air dengan mudah.

Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan, mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan.

Belum selesai menghadapi persoalan air, kebakaran hutan datang membawa kesulitan lain. Bagi para pengrajin noken kulit kayu, hutan bukan hanya tempat tumbuhnya pepohonan, melainkan juga tempat mencari bahan baku untuk mempertahankan penghidupan.

Kini, sejumlah lokasi yang biasanya menjadi tempat mengambil kulit kayu telah hangus terbakar. Para pencari bahan baku harus berjalan semakin jauh dari kota, mencari pohon yang masih bisa diolah. Tidak jarang mereka harus bermalam di hutan dan menunggu lebih lama sebelum pulang membawa hasil pencarian.

“Tempat yang biasa mereka ambil kulit kayu sudah terbakar habis. Jadi, mereka harus mencari lagi ke bagian yang lebih jauh dari kota. Kadang kami harus menunggu satu sampai empat minggu untuk mendapatkan kulit kayu,” kata Mama Hana.

Waktu menunggu yang semakin panjang membuat persediaan bahan baku di pasar ikut menipis. Jika sebelumnya kulit kayu bisa datang secara rutin, kini para pengrajin tidak lagi tahu pasti kapan bahan berikutnya tersedia.

Bahkan, kulit kayu yang berhasil ditemukan pun tidak selalu memberikan hasil seperti sebelumnya. Saat musim kemarau, kulit kayu yang diperoleh cenderung lebih tipis dan serat yang bisa diolah menjadi bahan noken lebih sedikit. Para pengrajin pun harus menerima kenyataan bahwa jumlah produksi mereka ikut berkurang.

Walaupun begitu harga noken yang kami jual di pasar tidak mengalami perubahan. Harga tetap dimulai dari Rp50.000, seperti biasanya,” lugasnya. 

Di antara keterbatasan bahan baku dan pembeli yang berkurang, mereka tetap berusaha mempertahankan harga jual agar hasil kerajinan tetap bisa dipasarkan.

Di Pasar Mama Noken Oyehe, mereka tidak hanya menjual noken dari kulit kayu. Berbagai hasil kerajinan lain juga ditawarkan, mulai dari noken berbahan benang dan manila hingga bandol dan gelang. Setiap jenis kerajinan menjadi bagian dari usaha mereka untuk memperoleh penghasilan.

Sambil menunggu pembeli, tangan mereka tidak berhenti bekerja. Ada mama yang merajut noken, ada yang merapikan hasil anyaman, dan ada pula yang sesekali mengangkat wajah ketika seseorang mendekati lapak mereka. Mereka menjual sekaligus menganyam, mengisi waktu dengan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil berharap dagangan laku.

Namun, pekerjaan yang terus dilakukan itu tidak selalu berujung pada penjualan. Ketika pembeli sepi, mereka tetap harus duduk menunggu, sementara kebutuhan keluarga tidak ikut berhenti. Uang dari hasil penjualan menjadi penting untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sehingga berkurangnya pembeli turut menambah beban yang harus mereka hadapi.

Mama Hana mengatakan kondisi udara yang kurang baik akibat abu kebakaran juga membuat aktivitas jual beli terganggu. Sebagian pembeli mengurangi kegiatan di luar rumah, sedangkan mereka yang tetap datang umumnya menggunakan masker.

“Pembeli memang semakin berkurang. Ada yang masih datang, tetapi mereka menggunakan masker karena kondisi udara kurang baik. Kami sebagai penjual juga merasakan dampaknya,” ujarnya.

Di tengah keadaan itu, mama-mama pengrajin noken tetap berusaha bertahan dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidak berhenti menganyam, tidak meninggalkan lapak, dan tetap menawarkan hasil kerajinan meski keadaan belum kembali seperti biasa.

Bagi mereka, setiap noken yang terjual berarti ada uang yang bisa dibawa pulang. Setiap gelang atau bandol yang dibeli juga menjadi tambahan penghasilan. Karena itu, harapan sederhana mereka adalah agar pembeli tetap datang, bahan baku kembali tersedia, dan aktivitas mencari nafkah bisa berjalan tanpa terlalu banyak hambatan.

Mama Hana berharap Pemerintah Kabupaten Nabire memperhatikan kesulitan air bersih yang dialami warga, terutama di sekitar pasar dan kawasan RRI Lama hingga bukit-bukit Meriam.

Ia meminta agar distribusi air PDAM dapat berjalan lancar sehingga masyarakat tidak terus-menerus kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.


“Kami berharap air PDAM bisa dialirkan sampai ke pasar. Kami membutuhkan air untuk menyiram sayur dan memenuhi kebutuhan lainnya. Di sekitar RRI Lama, apalagi dekat bukit-bukit Meriam, air memang sangat kurang,” tuturnya.

Di pasar itu, perjuangan mereka mungkin terlihat sederhana: duduk, menganyam, menawarkan dagangan, lalu menunggu. Namun, di balik setiap helai serat dan simpul noken, ada waktu, tenaga, dan harapan yang mereka titipkan agar hasil kerajinan bisa menjadi penghasilan.

Ketika hutan terbakar, air mengering, dan pembeli berkurang, mama-mama pengrajin noken tetap berusaha menjalani hari. Mereka terus menganyam, sebab kehidupan harus tetap berjalan, sekalipun keadaan sedang tidak mudah.

“Keadaan dan semua cuaca akan berubah, tetapi Tuhan tetap sama, baik kemarin, sekarang maupun selama-lamanya,” tutup Mama Hana. (*)

Editor : Elfira Halifa
mama papua Ceposonline.com Noken