CEPOSONLINE.COM,NABIRE – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Douw Aturure mencatat 458 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Papua Tengah dalam pemantauan 24 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT hingga 25 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT.
Dari total tersebut, sebanyak 11 hotspot berada pada tingkat kepercayaan rendah, 381 titik pada tingkat kepercayaan sedang, dan 66 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi.
Kabupaten Dogiyai menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni 182 titik. Selanjutnya Kabupaten Nabire dengan 146 titik, Paniai 78 titik, Intan Jaya 25 titik, Puncak Jaya 16 titik, Puncak 7 titik, dan Mimika sebanyak 4 titik.
Sementara itu, Kabupaten Deiyai tidak terpantau memiliki hotspot dalam periode tersebut.
BMKG menjelaskan, hotspot terbagi dalam tiga kategori tingkat kepercayaan. Tingkat kepercayaan rendah menunjukkan kemungkinan kecil adanya titik api dan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tingkat kepercayaan sedang menunjukkan kemungkinan cukup besar adanya titik api di lapangan, sedangkan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan kemungkinan besar adanya titik api aktif sehingga perlu segera ditindaklanjuti.
Di sisi lain, kondisi iklim di Papua Tengah juga perlu mendapat perhatian. Berdasarkan pemantauan BMKG, kondisi El Niño berada pada kategori sangat kuat, ditunjukkan oleh nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -19,9 dan indeks Nino 3.4 sebesar +2,37.
BMKG memprediksi El Niño masih berpotensi menguat dalam beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Papua Tengah. Sementara puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan hotspot dan potensi karhutla.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, khususnya di kawasan yang mudah terbakar.
Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas.
Instansi terkait juga diminta meningkatkan patroli terpadu dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, sekaligus memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah rawan karhutla.
BMKG turut mengingatkan pentingnya memastikan ketersediaan sumber air, peralatan pemadaman dini, serta cadangan air untuk mendukung upaya pemadaman dan mengantisipasi kondisi musim kemarau.
(*)
Editor : Abdel Gamel Naser