CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Fenomena El-Nino di wilayah Papua Tengah saat ini berada dalam kondisi kuat dan berpotensi masih menguat dalam beberapa bulan ke depan hingga akhir tahun. Bersamaan dengan puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026, kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster Cuaca Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire, Vic Casey D. Wiai, mengatakan kondisi El-Nino tersebut terlihat dari indeks Southern Oscillation Index (SOI) yang berada di angka -20,3 dan indeks Nino 3.4 sebesar +2,3.
“Kedua nilai ini mengindikasikan status El-Nino kuat,” kata Vic kepada media ini melalui seluler, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, El-Nino diprediksi aktif pada periode Mei-Juni dan masih berpotensi menguat hingga akhir tahun. Fenomena tersebut menyebabkan berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Papua Tengah.
“Puncak musim kemarau diprediksi akan berlangsung selama bulan Agustus hingga September 2026,” ujarnya.
Vic menjelaskan, kondisi El-Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan sejumlah dampak, seperti menurunnya intensitas hujan, meningkatnya jumlah hari tanpa hujan, berkurangnya ketersediaan air, hingga meningkatnya suhu udara pada siang hari.
“Selain itu, kondisi lahan menjadi lebih kering sehingga potensi kebakaran lahan dan hutan juga meningkat,” jelasnya.
Di tengah kondisi tersebut, BMKG Stasiun Meteorologi Douw Aturure mencatat sebanyak 653 titik panas (hotspot) di wilayah Papua Tengah berdasarkan pemantauan yang tercantum dalam laporan 22 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 128 hotspot berada pada tingkat kepercayaan rendah, 493 hotspot pada tingkat kepercayaan sedang, dan 32 hotspot berada pada tingkat kepercayaan tinggi.
Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni 321 titik. Selanjutnya Kabupaten Puncak sebanyak 100 titik, Dogiyai 97 titik, Paniai 59 titik, Intan Jaya 56 titik, Puncak Jaya 10 titik, Deiyai 9 titik, dan Mimika 1 titik.
Vic menerangkan, hotspot dengan tingkat kepercayaan rendah menunjukkan kemungkinan kecil adanya titik api dan masih perlu dipastikan lebih lanjut. Sementara tingkat kepercayaan sedang menunjukkan kemungkinan cukup besar adanya titik api di lapangan.
“Untuk tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan kemungkinan besar adanya titik api aktif dan perlu segera ditindaklanjuti,” katanya.
Menghadapi kondisi kering yang semakin meningkat, BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan hotspot dan potensi karhutla.
Vic mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah, terutama di kawasan yang mudah terbakar.
“Apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin dan tidak meluas,” pungkasnya. (*)
Editor : Weny Firmansyah