Mereka juga membawa harapan agar karya anak-anak daerah terus mendapat ruang di tanahnya sendiri.
Bagi mereka, kesempatan tampil dalam panggung yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Papua Tengah menjadi sebuah kebanggaan. Namun di balik rasa syukur itu, tersimpan harapan agar musisi lokal tidak hanya dihadirkan sebagai pelengkap acara, melainkan menjadi bagian utama dalam setiap perhelatan besar.
Vokalis Amoye Band, Aten Tebai, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Papua Tengah yang telah memberikan ruang bagi musisi lokal untuk tampil bersama dalam kemeriahan nobar Final Piala Dunia dan HUT ke-4 Papua Tengah.
“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Kegiatan ini sangat positif karena memberikan kebanggaan bagi kami sebagai musisi lokal Papua,” kata Aten.
Menurutnya, menggabungkan penampilan musisi lokal dengan momen Final Piala Dunia memiliki makna tersendiri. Di saat perhatian masyarakat tertuju pada pesta sepak bola terbesar di dunia, musisi Papua juga mendapat kesempatan menunjukkan karya mereka.
“Ini membangun identitas kami sebagai musisi Papua. Pemerintah memberi kepercayaan bahwa musisi lokal juga layak berdiri di panggung besar,” ujarnya.
Aten menilai panggung tersebut menjadi kesempatan langka untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat. Ribuan orang yang hadir maupun yang mengabadikan penampilan melalui media sosial menjadi promosi yang sangat berarti bagi para musisi.
“Kesempatan seperti ini jarang kami dapatkan. Orang-orang bisa melihat penampilan kami, merekamnya, lalu membagikannya di media sosial. Itu menjadi dukungan yang sangat berarti bagi kami,” tuturnya.
Meski begitu, Aten berharap perhatian terhadap musisi lokal tidak berhenti sampai di sini.
“Kami ingin jadi prioritas, bukan sekadar selingan. Musisi asli Papua Tengah juga layak mendapat tempat utama di setiap panggung besar yang diselenggarakan pemerintah,” tegasnya.
Menurut Aten, dukungan kepada musisi tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk materi. Hal-hal sederhana justru mampu membangkitkan semangat para seniman untuk terus berkarya.
“Tepuk tangan, ikut bernyanyi bersama, menari, atau membagikan video penampilan kami di media sosial, itu sudah menjadi dukungan nyata bagi kami,” katanya.
Lebih jauh, Aten berharap pemerintah dapat menghadirkan ruang pembinaan yang lebih baik bagi para musisi muda melalui penyediaan studio musik, alat musik, maupun tempat latihan.
“Banyak anak-anak Papua yang punya talenta luar biasa, tetapi wadahnya masih terbatas. Kami berharap ke depan ada fasilitas yang bisa membantu mereka berkembang,” ujarnya.
Ia pun mengenang masa-masa awal perjuangan bersama rekan-rekannya ketika harus meminjam alat musik dari gereja hanya untuk berlatih.
“Itu bagian dari perjalanan kami. Karena itu kami berharap generasi berikutnya tidak lagi mengalami kesulitan seperti yang pernah kami rasakan,” katanya.
Bagi Aten, musik memiliki kekuatan yang mampu mempersatukan masyarakat.
“Kalau bola menyatukan dunia, musik menyatukan hati masyarakat Papua. Lewat lagu dan lirik, kami bisa menyampaikan pesan yang menyentuh dan menyatukan banyak orang,” ucapnya.
Tadi malam, Amoye Band juga membawakan lagu Persipura karya Black Brothers. Menurut Aten, lagu tersebut dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada ikon sepak bola Papua sekaligus memberikan semangat kepada klub-klub sepak bola di Tanah Papua.
“Ketika dunia punya Piala Dunia, kami juga ingin mengingatkan bahwa Papua punya kebanggaan, yaitu Persipura. Semoga semangat itu juga menular kepada Persipani, Persinab, dan klub-klub Papua lainnya agar terus berkembang,” tuturnya.
Sementara itu, Vokalis Kangguru Akustik, Robertha Muyapa, mengaku bangga karena grup musik yang baru berusia sekitar tujuh bulan itu mendapat kesempatan tampil dalam panggung besar.
“Usia Kangguru Akustik memang baru sekitar tujuh bulan, tetapi kami merasa bangga karena Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengundang kami untuk terlibat langsung dalam euforia Final Piala Dunia sekaligus perayaan hari lahir Papua Tengah,” ujar Robertha.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi para seniman dan musisi Papua untuk menunjukkan karya kepada masyarakat luas.
“Event seperti ini menjadi ajang bagi para seniman dan musisi Papua untuk mengekspresikan karya-karya yang sudah kami miliki agar bisa dinikmati seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Robertha berharap panggung-panggung yang melibatkan musisi lokal dapat terus dihadirkan setiap tahun agar semakin banyak talenta baru yang lahir dari Papua Tengah.
“Kerinduan kami, panggung seperti ini terus ada. Dengan begitu akan lahir semakin banyak musisi-musisi Papua yang baru dan memiliki kesempatan menunjukkan karya mereka di tanah sendiri,” pungkasnya. (*)
Editor : Agung Trihandono