CEPOSONLINE.COM, NABIRE - Akademisi Universitas Cenderawasih, Yohana Yembise, mengingatkan generasi muda Papua agar tidak kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. Ia menegaskan bahwa bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya yang harus dijaga dan diwariskan secara turun-temurun.
Pesan tersebut disampaikan Yembise dalam seminar internasional bertema “Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Daerah Papua di Era Globalisasi” yang digelar di Kampus Universitas Satya Wiyata Mandala, Rabu (13/5/2026).
Dalam seminar itu, Yembise juga menghadirkan ahli linguistik asal Australia, Laura Arnold, untuk memberikan kuliah umum terkait penelitian dan pelestarian bahasa-bahasa daerah di Papua.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama internasional sangat penting untuk memperkuat dokumentasi dan penelitian bahasa daerah, mengingat Papua memiliki kekayaan bahasa yang sangat besar dan diakui dunia sebagai salah satu wilayah dengan keragaman bahasa terbanyak.
“Saya mengajak Dr. Laura Arnold karena beliau ahli bahasa dan sudah banyak meneliti bahasa-bahasa di Papua. Terakhir beliau cukup lama di Raja Ampat, dan kini tertarik meneliti bahasa suku Wate di Nabire,” ujar Yembise.
Menurutnya, Papua dan Papua Nugini memiliki sekitar 770 bahasa, sementara di wilayah Papua Indonesia terdapat sekitar 260 bahasa daerah, menjadikannya salah satu kawasan dengan keragaman bahasa terbesar di dunia.
“Papua ini unik, karena tidak ada wilayah lain di dunia yang memiliki bahasa sebanyak ini,” katanya.
Namun, ia menyoroti bahwa di tengah perkembangan zaman, banyak generasi muda mulai meninggalkan bahasa daerah dan lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di lingkungan keluarga.
“Sekarang banyak anak muda sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah, bahkan di rumah sendiri sudah mulai hilang,” ungkap Yembise.
Dalam kesempatan itu, Laura Arnold juga memaparkan berbagai metode penelitian bahasa, mulai dari perekaman percakapan, wawancara dengan penutur asli, hingga pengumpulan cerita rakyat sebagai bahan dokumentasi linguistik.
Yembise menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut sangat penting untuk menjadi referensi bagi generasi mendatang agar bahasa-bahasa daerah tetap terdokumentasi dengan baik dan tidak hilang ditelan zaman.
Ia juga menyoroti masih minimnya dokumentasi bahasa Papua yang dimiliki masyarakat sendiri, sementara banyak universitas luar negeri justru memiliki arsip penelitian yang lengkap tentang bahasa-bahasa di Papua.
“Banyak perpustakaan di luar negeri menyimpan hasil penelitian tentang bahasa Papua, sementara kita sendiri masih sangat terbatas,” ujarnya.
Yembise mengajak juga generasi muda Papua untuk kembali menyadari pentingnya bahasa daerah sebagai identitas budaya yang harus dijaga mulai dari lingkungan keluarga.
“Kita jangan sampai kehilangan identitas. Bahasa dan budaya harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya. (*)
Editor : Lucky Ireeuw