Pemprov Papua Tengah Gandeng SAPA Foundation dan Yayasan Mutiara Hitam Papua, Latih 150 Guru Bahasa

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 11:18 WIB
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah saat menandatangani PKS dengan SAPA Foundation dan Yayasan Mutiara Hitam Papua. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah saat menandatangani PKS dengan SAPA Foundation dan Yayasan Mutiara Hitam Papua. (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Papua Tengah menggandeng Yayasan Syena Ahor Papua (SAPA) dan Yayasan Mutiara Hitam Papua untuk kualitas bahasa inggris. Sebanyak 150 guru dari lima kabupaten mengikuti pelatihan tersebut usai dilakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

 

Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yuly Yasmin Tecuari, mengatakan program pada semester ini lebih difokuskan kepada guru karena mereka memiliki peran penting dalam meneruskan kemampuan Bahasa Inggris kepada siswa di sekolah.

 

Yuly menjelaskan, sebanyak 150 guru yang mengikuti pelatihan Bahasa Inggris berasal dari Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Mimika. Pelatihan berlangsung selama 66 hari, mulai 1 Oktober hingga sekitar 10 Desember 2026.

Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yuly Yasmin Tecuari.
Kepala Seksi Data dan Informasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yuly Yasmin Tecuari.

“Untuk SAPA Foundation, di Nabire kita fokus kepada guru SD. Kemudian di Dogiyai ada 17 guru dan di Deiyai 19 guru. Sedangkan Yayasan Mutiara Hitam Papua menangani Paniai, Mimika dan sebagian Nabire,” jelasnya.

 

Pemilihan kedua lembaga ini karena memiliki pengalaman dalam pengembangan Bahasa Inggris di Tanah Papua. Menurutnya, kondisi geografis, keamanan dan keterbatasan tenaga pendidik menjadi tantangan yang harus dijawab agar anak-anak di daerah terpencil tetap memperoleh layanan pendidikan yang baik.

 

“Ini tantangan dan kami harus mencari solusi terbaik untuk bisa memajukan anak-anak di Papua Tengah,” ujarnya. Ia mengatakan, program tersebut ke depan ditargetkan dapat menjangkau seluruh delapan kabupaten di Papua Tengah. Namun, untuk tiga kabupaten yang belum menjadi sasaran tahun ini, pihaknya akan melakukan survei terlebih dahulu untuk melihat kebutuhan guru dan kondisi wilayah.

 

Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo, mengatakan penguatan Bahasa Inggris merupakan salah satu dasar transformasi pendidikan yang sedang dibangun Pemerintah Provinsi Papua Tengah.

 

Menurutnya, pemerintah ingin mengubah pola lama yang hanya memberikan kesempatan kepada sejumlah siswa untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris di luar Papua. Kini, program tersebut dibawa lebih dekat ke Papua Tengah sehingga aksesnya dapat diberikan kepada lebih banyak anak. 

Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo.
Kepala Bidang Data dan Layanan Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Yulianus Kuayo.

“Salah satu transformasi pendidikan yang dilakukan adalah bagaimana kita menyiapkan anak-anak Papua dari Papua Tengah supaya berdaya saing. Dulu beberapa anak diseleksi lalu dibiayai untuk mengikuti kursus ke luar Papua. Sekarang konsep itu kita ubah,” bebernya. 

 

Ia menjelaskan, program Bahasa Inggris mulai diberikan sejak jenjang pendidikan dasar, yakni kelas IV, V dan VI SD, kemudian berlanjut ke SMP, SMA hingga SMK. Pada 2025, sebanyak 4.400 siswa telah mengikuti kursus Bahasa Inggris. Sementara pada 2026, terdapat 2.294 siswa yang mengikuti program tersebut. Yulianus mengatakan program bagi siswa dirancang berkelanjutan. Siswa yang telah mengikuti kursus pada tahun sebelumnya tetap melanjutkan pembelajaran pada jenjang berikutnya.

 

“Salah satu syarat masuk ke SMA Mepago adalah kemampuan Bahasa Inggris. Lalu nanti kalau ada yang bertanya dari mana anak-anak yang bisa Bahasa Inggris, kita sudah siapkan dari bawah. Kita sudah mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK,” ujarnya.

 

Apalagi saat ini kita dilakukan pengiriman siswa keluar Nabire. Yang dilakukan adalah menyiapkan anak-anak agar memiliki kesempatan, tanpa pengecualian,” katanya. Ia menambahkan, penguatan Bahasa Inggris tersebut menjadi dasar agar anak-anak Papua Tengah memiliki kesempatan yang lebih luas untuk melanjutkan pendidikan dan memasuki dunia kerja yang semakin terbuka.

 

“Itulah transformasinya. Bahasa Inggris ini salah satu dasar yang memang Pak Gubernur mau letakkan. Semua anak punya hak mendapatkan akses bahasa asing mulai dari dasar, dan gurunya juga harus dilatih,” pungkas Yulianus. (*)

Editor : Abdel Gamel Naser
Papua Tengah dinas pendidikan dan kebudayaan NABIRE