Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Pesan Nurhaidah untuk Guru 3T yang Mengabdi di Papua

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 09:47 WIB
Kepala Dinas Pendidikan Papua Tengah, Nurhaidah saat memberikan sambutan pada pembukaan kegiatan penguatan Kapasitas Guru Mapega 3T Kabupaten Nabire di Kantor Dinas Pendudukan Papua Tengah, Kamis, (17/9/2026). (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA)
Kepala Dinas Pendidikan Papua Tengah, Nurhaidah saat memberikan sambutan pada pembukaan kegiatan penguatan Kapasitas Guru Mapega 3T Kabupaten Nabire di Kantor Dinas Pendudukan Papua Tengah, Kamis, (17/9/2026). (CEPOSONLINE.COM/ISTIMEWA) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Menjadi guru di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) bukan sekadar menjalankan tugas mengajar, tetapi juga menghadirkan harapan bagi anak-anak yang membutuhkan pendidikan. Pengabdian tersebut membutuhkan ketulusan, kasih, dan komitmen untuk tetap hadir di tengah berbagai keterbatasan.

Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Nurhaidah, saat memberikan sambutan pembukaan kegiatan Penguatan Kapasitas Tenaga Guru Mapega 3T Tahun 2026 Kabupaten Nabire, yang berlangsung di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Tengah, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan yang dilaksanakan pada 17-19 September 2026 tersebut secara khusus ditujukan bagi tenaga guru Mapega 3T Kabupaten Nabire. Penguatan kapasitas ini mencakup peningkatan karakter, kompetensi, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta penjelasan petunjuk teknis dan laporan kegiatan.


“Saya sangat merasa terhormat bisa hadir hari ini di tengah Bapak dan Ibu guru yang luar biasa. Ini bukan kegiatan yang biasa-biasa saja, tetapi kegiatan yang luar biasa bagi saya. Kita hadir untuk saling menguatkan dan saling mendorong,” ujar Nurhaidah.

Ia mengatakan, sebagian guru telah mengabdi sejak sebelum menjadi tenaga honorer hingga kemudian bergabung dalam tim guru Mapega Provinsi Papua Tengah yang ditugaskan di daerah 3T.

Karena itu, Nurhaidah mengajak para guru untuk bangga atas pengabdian yang dijalankan dan memahami bahwa tugas tersebut memiliki tanggung jawab besar terhadap masa depan anak-anak Papua.

“Kita memilih menjadi guru bukan karena tugas ini ringan. Menjadi guru itu berat, bahkan sangat berat. Karena itu, kita harus kembali bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya mau menjadi guru? Saya percaya, karena ada panggilan,” katanya.

Menurut Nurhaidah, tugas guru berbeda dengan pekerjaan administratif karena pendidik berhadapan langsung dengan manusia yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

“Kalau saya bekerja di kantor, mungkin saya hanya berhadapan dengan kertas. Kertas itu mau dibuang atau diapakan, mungkin tidak menjadi persoalan besar. Tetapi kalau menjadi guru, kita berhadapan dengan manusia. Manusia membutuhkan hati yang sungguh-sungguh mengasihi. Tidak semua orang bisa menjadi guru,” tuturnya.

Nurhaidah yang juga pernah menjadi tenaga honorer guru mengajak para peserta untuk tidak hanya memandang pengabdian sebagai kewajiban pekerjaan, tetapi sebagai kesempatan memberikan kontribusi nyata bagi generasi Papua.

Ia menekankan pentingnya peran tenaga pendidik lokal dalam memenuhi kebutuhan guru di wilayah Papua Tengah. Menurutnya, masyarakat Papua perlu mengambil bagian dalam memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak.

“Selalu saya berpikir begini, kalau bukan kita, siapa lagi? Kita mau tunggu orang dari mana? Kalau nanti guru dari luar datang, kita semua bilang guru tidak ada. Karena itu, mari kita siapkan diri dan menjalankan tugas dengan baik,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para guru yang tetap menjalankan tugas meskipun menghadapi tantangan jarak dan kondisi wilayah.

Salah satunya adalah guru yang bertugas di SD Inpres Kobo Jaya. Nurhaidah menceritakan pengalamannya melihat seorang guru telah berada di sekitar lokasi sejak pagi, meskipun harus menempuh perjalanan dari wilayah yang jauh.

“Saya salut dengan Ibu Mince. Beliau mendapat tugas di SD Inpres Top Jaya, yang cukup jauh dari sini. Ketika saya datang ke kantor sekitar pukul 07.45 WIT, saya melihat Ibu duduk sendiri di bawah pohon. Saya kemudian memanggil dan bertanya, ‘Ibu, dari mana?’ Beliau menjawab, ‘Dari Topi.’ Saya melihat ini sebagai bentuk tanggung jawab dan kesungguhan dalam menjalankan tugas,” kata Nurhaidah.

Cerita tersebut disampaikan sebagai bentuk penghargaan terhadap guru yang menjalankan pengabdian, sekaligus pengingat bahwa tanggung jawab seorang pendidik tidak hanya diukur dari kehadiran di ruang kelas, tetapi juga dari kesungguhan dalam menjalankan tugas.

Selain pengabdian, Nurhaidah menekankan pentingnya kedisiplinan waktu bagi seluruh tenaga guru Mapega 3T Kabupaten Nabire. Ia mengingatkan agar para guru membiasakan diri mengikuti jadwal yang telah ditetapkan dan tidak menganggap keterlambatan sebagai hal biasa.

“Saya sudah sampaikan, kita harus mulai tepat waktu, jangan lambat. Kita tidak boleh terpengaruh dengan kebiasaan yang salah. Guru harus disiplin waktu, karena itu merupakan bagian dari tanggung jawab seorang guru,” tegasnya.

Ia berharap kegiatan penguatan kapasitas tersebut tidak hanya meningkatkan kompetensi para guru, tetapi juga memperkuat semangat pengabdian dalam mendidik anak-anak Papua.

“Bapak dan Ibu, mari kita belajar dan menjalankan tugas dengan baik. Kita memiliki tanggung jawab untuk melayani anak-anak kita. Kalau bukan kita, siapa lagi? Karena itu, mari kita sama-sama menguatkan diri dan memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak-anak Papua,” pungkas Nurhaidah. (*)

Editor : Elfira Halifa
3t Papua Tengah Ceposonline.com guru