Gubernur Meki Bidik Kopi Jadi Ikon Ekonomi Dogiyai

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 17:29 WIB
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat bertatap muka dengan masyarakat dan ASN Kabupaten Dogiyai di Aula Digikotu Moanemani, Senin, (7/9/2026).  (CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMPROV) 
Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa saat bertatap muka dengan masyarakat dan ASN Kabupaten Dogiyai di Aula Digikotu Moanemani, Senin, (7/9/2026).  (CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMPROV) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE  – Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa membidik kopi Moanemani menjadi salah satu ikon ekonomi Kabupaten Dogiyai.

 Ia mendorong agar potensi kopi lokal tidak hanya menjadi komoditas yang dijual petani secara perorangan, tetapi dikembangkan melalui sistem koperasi yang kuat sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.


Hal tersebut disampaikan Meki saat tatap muka bersama ASN dan masyarakat Dogiyai di Aula Digikotu, Moanemani, Senin (7/9/2026), usai meletakkan batu pertama sekaligus meresmikan asrama putra di wilayah Mapia, Kabupaten Dogiyai.

Meki mengatakan Dogiyai memiliki potensi ekonomi yang besar dan salah satunya berasal dari sektor perkebunan kopi. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola secara serius agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Kita angkat nama kopi Moanemani, kita punya koperasi yang bagus, kita membangun sistem yang baik. Petani kerja, jual di koperasi, koperasi jual, petani dapat uang dan koperasi dapat uang,” kata Meki.


Menurutnya, keberadaan koperasi menjadi penting karena dapat membangun mata rantai ekonomi yang lebih teratur. Petani tidak lagi berjalan sendiri dalam memasarkan hasil kebunnya, sementara koperasi dapat berperan mengumpulkan, mengelola, sekaligus mencari pasar yang lebih luas.


Meki ingin agar sistem tersebut menciptakan hubungan ekonomi yang saling menguntungkan antara petani dan koperasi. Ketika petani memperoleh pendapatan dari hasil kebunnya, koperasi juga memiliki modal untuk terus mengembangkan usaha.


Ia menilai pola tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk membangun perputaran ekonomi di Dogiyai.

“Bagaimana sirkulasi keuangan kita buat. Jadi bagaimana supaya teman-teman ojek itu juga bisa seperti di Jawa yang gerobak bakso. Kalau sudah ada koperasi, dia bisa beli kopi dari petani-petani dan datang jual di koperasi,” ujarnya.

Menurut Meki, pengembangan kopi juga dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk pemuda. Aktivitas ekonomi tidak harus berhenti pada satu jenis pekerjaan, tetapi dapat berkembang mengikuti potensi yang dimiliki daerah.

Ia mendorong masyarakat untuk mulai berpikir kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan potensi lokal.

“Ini cara-cara yang ke depan harus kreatif, berinovasi untuk kita membangun daerah ini,” tegasnya.

Meki menilai pengembangan kopi Moanemani harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah memiliki peran untuk membuka ruang dan memperkuat sistem, sementara masyarakat dan petani menjadi pelaku utama dalam proses produksi.

Karena itu, ia berharap hadirnya koperasi yang sehat dapat menjadi titik awal untuk membangun ekosistem kopi Dogiyai dari hulu hingga hilir.

Tidak hanya berbicara soal kopi, Meki juga mengajak masyarakat Dogiyai memperkuat kebersamaan dalam membangun daerah. Menurutnya, pembangunan tidak akan berjalan maksimal apabila pemerintah dan masyarakat berjalan sendiri-sendiri.

“Bupati itu hanya satu orang, gubernur hanya satu orang. Tidak bisa semua orang jadi bupati, tidak bisa semua orang jadi gubernur. Maka kita sama-sama jalan untuk bagaimana membangun,” katanya.

Ia mendorong pemerintah daerah membuka ruang komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat, termasuk melalui kegiatan coffee morning. Menurutnya, pertemuan informal dapat menjadi ruang bagi pemerintah mendengar langsung aspirasi masyarakat, termasuk para pemuda.

“Bicara dari hati ke hati, bicara dari mata ke mata, dari telinga ke telinga, dari mulut ke mulut. Dari situ kita bersatu, baru kita bisa membangun negeri ini,” ujarnya.

Meki juga mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak hanya menjadi pengguna media sosial. Ia berharap teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan, belajar, bekerja, dan mengembangkan usaha.

Ia bahkan memberikan sejumlah laptop kepada masyarakat dan berharap perangkat tersebut digunakan untuk hal-hal produktif.

“Saya berharap dari laptop ini jangan main Facebook, jangan main YouTube. Biarlah laptop ini bisa membantu Anda untuk menjadi orang sukses dan membangun negeri ini kelak,” pesannya.

Bagi Meki, pengembangan kopi Moanemani merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun ekonomi masyarakat dari potensi yang dimiliki sendiri.

Ia berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton dari perkembangan ekonomi, tetapi menjadi pelaku utama yang menikmati hasil pembangunan di atas tanahnya sendiri.

“Orang kasih suara berarti kita harus bangun. Bukan saya yang menikmati, tetapi orang Dogiyai yang menikmati,” pungkasnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
papua tengah terang Ceposonline.com EKONOMI Dogiyai