Dari Mapia, Gubernur Meki Tanam Harapan untuk Masa Depan Anak-anak Negeri

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:28 WIB
Seorang siswa SD saat mengkalungkan bunga kepada Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa bersama Bupati  Dogiyai, Yudas Tebai saat mengunjungi kampung Omakapau, Diyoudimi, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Senin, (7/9/2026). (CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMPROV)
Seorang siswa SD saat mengkalungkan bunga kepada Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa bersama Bupati  Dogiyai, Yudas Tebai saat mengunjungi kampung Omakapau, Diyoudimi, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai, Senin, (7/9/2026). (CEPOSONLINE.COM/HUMAS PEMPROV)

CEPOSONLINE.COM, NABIRE  – Senyum anak-anak dan lantunan nyanyian masyarakat menyambut kedatangan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa di tanah Mapia, Kabupaten Dogiyai, Senin (7/9/2026).

Di tengah suasana pegunungan Mapia, masyarakat mengenakan busana adat dan menampilkan tarian yang menggambarkan kepakan burung cenderawasih. Anak-anak sekolah turut berdiri menyambut rombongan. Bunga kemudian dikalungkan kepada Meki sebagai tanda penghormatan dan sukacita atas kedatangannya.

Namun, di balik sambutan yang hangat itu, tersimpan harapan sederhana yang begitu besar yaitu agar anak-anak Mapia dapat bersekolah dengan lebih baik dan memiliki tempat yang layak untuk belajar sekaligus tinggal.

Harapan itulah yang kemudian menjadi bagian penting dari kunjungan kerja Meki di Kampung Omakapau, Diyoudimi, Distrik Mapia. Didampingi Bupati Dogiyai Yudas Tebai bersama rombongan Forkopimda dan jajaran pemerintah daerah, Meki meletakkan batu pertama pembangunan Asrama SMP YPPK Santo Fransiskus Asisi Mapia.

Hari itu, sebuah batu pertama diletakkan di tanah Mapia. Di atasnya bukan hanya akan berdiri sebuah asrama, tetapi juga sebuah harapan: agar anak-anak pegunungan dapat tumbuh dengan pendidikan yang layak, tanpa harus kehilangan kedekatan dengan tanah dan kampung tempat mereka dilahirkan.

Bagi masyarakat, asrama tersebut bukan sekadar bangunan baru. Kehadirannya diharapkan menjadi rumah kedua bagi anak-anak yang datang dari kampung-kampung sekitar untuk menuntut ilmu.

Meki pun memastikan pembangunan tidak berhenti pada berdirinya bangunan. Ia ingin fasilitas yang disiapkan benar-benar membuat anak-anak merasa nyaman untuk belajar dan tinggal.

“Jadi saya berkomitmen akan bangun sekolah di sini. Saya akan fasilitasi semuanya lengkap, tempat tidur, kasur, semuanya lengkap,” ujar Meki.

Ia mengatakan anak-anak di wilayah pegunungan memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Karena itu, pembangunan pendidikan harus hadir hingga ke kampung-kampung, bukan hanya terkonsentrasi di pusat kota.

Kedatangan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa di tanah Mapia, Kabupaten Dogiyai, Senin (7/9/2026).
Kedatangan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa di tanah Mapia, Kabupaten Dogiyai, Senin (7/9/2026).

Meki bahkan membuka gagasan untuk menghadirkan sekolah terintegrasi yang mencakup jenjang SD, SMP hingga SMA. Dengan fasilitas tersebut, anak-anak Mapia diharapkan dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan tanah kelahirannya terlalu jauh.

“Ke depan, bagaimana kalau ada sekolah yang terintegrasi SD, SMP, SMA diambil alih oleh Gubernur. Supaya orang-orang di negeri ini juga ada yang Bupati kerja, ada yang Gubernur kerja,” katanya.

Bagi Meki, membangun pendidikan juga berarti membangun akses. Karena itu, ia memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Dogiyai yang telah membuka akses jalan hingga ke wilayah Mapia.

Ia mengakui membangun infrastruktur di wilayah pegunungan bukan pekerjaan mudah. Namun, jalan yang mulai terbuka menjadi tanda bahwa pembangunan perlahan semakin dekat dengan masyarakat.

“Menjadi Bupati di gunung ini tidak mudah. Makanya pembangunan jalan sampai ke sini itu luar biasa,” ujarnya.

Meki membayangkan, ketika jalan sudah terbuka, listrik masuk, sekolah berdiri dan jaringan telekomunikasi tersedia, jarak antara masyarakat pegunungan dengan dunia luar tidak lagi menjadi persoalan besar.

“Kalau aspal sudah sampai di sini, listrik juga masuk sampai di sini, kita tidak cari apa lagi. Listrik sudah ada, jalan sudah ada, bangunan sudah ada, telepon sudah ada. Kita bisa video call dan lain-lain,” katanya.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi ikut menjaga apa yang telah dibangun.

 Ia berharap pembangunan tidak terhambat oleh pemalangan maupun berbagai permintaan yang justru dapat merugikan masyarakat sendiri.

 

“Masyarakat harus kawal. Kita akan mulai bangun dalam waktu yang dekat. Masyarakat dukung, tidak boleh palang, tidak boleh minta-minta uang. Ini untuk pembangunan masyarakat sendiri,” tegasnya.

Meki juga mengapresiasi masyarakat Mapia yang berkomitmen menjaga lingkungan sosial, termasuk membatasi minuman keras. Menurutnya, menjaga generasi muda dari kebiasaan yang merusak merupakan bagian dari membangun masa depan Papua.

Ia kemudian berbicara tentang dukungan masyarakat Mapia dalam pemilihan kepala daerah. Menurutnya, kepercayaan yang diberikan masyarakat tidak seharusnya dibalas dengan sekadar janji, tetapi dengan pembangunan yang dapat dirasakan langsung.

“Mapia kasih saya tiga puluh ribu suara, seratus persen di seluruh lini. Gabungan dari Dogiyai enam puluh tujuh ribu suara. Suara ini saya tidak kasih uang, tapi saya kasih pembangunan,” tegasnya.

Meki memastikan pembangunan juga akan menyentuh kebutuhan ekonomi masyarakat. Ia menyebut rencana pembangunan pasar di Moanemani agar mama-mama memiliki tempat yang lebih layak untuk berjualan.

“Kita bangun jalan, saya sudah bicara dengan Pak Bupati. Kita bangun sekolah, kita bangun pasar besok di Moanemani supaya masyarakat, mama-mama, bisa jualan dengan baik daripada di jalan,” katanya.

Gubernur Meki juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga persatuan dan bersama-sama membangun daerah.

“Kita anak negeri sudah jadi pemimpin di negeri ini. Mari kita bangun negeri ini baik-baik.” tutupnya. (*)

Editor : Agung Trihandono
Papua Tengah Ceposonline.com meki nawipa