CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Riuh musik reggae yang memenuhi panggung Papua Reggae Festival (PRF) seketika terasa berbeda ketika PO Nindy membawakan lagu Papua Mayu, Jumat (16/10/2026). Melalui perpaduan puisi dan musik, mereka tidak sekadar menyuguhkan pertunjukan, tetapi membawa kisah tentang kehilangan rumah, penderitaan, dan air mata masyarakat Papua.
Ketika penyair sekaligus vokalis PO Nindy, Lewis Haluk, mulai membacakan puisinya, suasana penonton berubah. Kisah tentang masyarakat yang terusir dari tanah kelahirannya sendiri, warga yang menjadi korban penembakan, ibu-ibu yang harus melahirkan di tengah hutan, hingga anak-anak yang kehilangan kesempatan bersekolah mengalir melalui kata-kata yang ia sampaikan.
Penonton terdiam. Sebagian membisu menyimak setiap bait puisi, sementara beberapa lainnya tampak menitikkan air mata. Di tengah panggung yang biasanya dipenuhi sorak dan irama musik, kisah yang dibawakan PO Nindy mengajak penonton sejenak berhenti dan merasakan sisi lain kehidupan masyarakat Papua.
Bukan tentang kemeriahan festival, melainkan tentang kehidupan yang harus dijalani dalam ketidakpastian. Tentang keluarga yang terpaksa meninggalkan rumah, ibu yang berjuang melahirkan jauh dari fasilitas kesehatan, serta anak-anak yang seharusnya berada di sekolah, tetapi kehilangan kesempatan untuk belajar dan merajut cita-cita.
Melalui puisi tersebut, Lewis juga menyuarakan keprihatinan terhadap penderitaan masyarakat yang menurutnya belum mendapat perhatian pemerintah sebagaimana yang diharapkan.
Kisah-kisah itu menjadi pesan yang ingin ia bawa ke hadapan publik. Sebab, di balik setiap cerita tentang konflik dan pengungsian, ada manusia yang kehilangan ketenangan, keluarga yang berjuang untuk bertahan, dan anak-anak yang masa depannya ikut terdampak.
Bagi Lewis, penampilan tersebut memiliki arti tersendiri. Untuk pertama kalinya, ia bersama PO Nindy mendapat kesempatan tampil di panggung PRF yang digelar di kawasan Bandara Lama Nabire. Kesempatan itu menjadi ruang untuk memperkenalkan karya sekaligus menyampaikan suara masyarakat melalui seni.
“Jujur saja, ini pertama kali saya tampil di PRF. Saya berterima kasih karena PO Nindy mendapat kesempatan untuk berdiri dan tampil di panggung besar ini,” ungkap Lewis seusai tampil, Jumat (16/10/2026).
Namun, bagi Lewis, berdiri di panggung besar bukan hanya soal memperkenalkan nama kelompok musiknya. Ia ingin kesempatan tersebut menjadi jalan untuk menyampaikan kenyataan yang dialami masyarakat Papua, khususnya kisah-kisah yang selama ini ingin mereka suarakan melalui lagu.
Ide memadukan puisi dan lagu Papua Mayu muncul ketika Lewis berdiskusi bersama rekan-rekannya mengenai makna lagu yang akan mereka bawakan. Setelah mengetahui bahwa pesan lagu tersebut sejalan dengan puisi yang telah disiapkannya, ia mengusulkan agar keduanya disatukan.
“Saya bilang kepada teman-teman, coba artikan lagu ini. Setelah mereka mengartikannya dan ternyata maknanya sesuai, saya sampaikan bahwa saya punya satu puisi yang bisa ditempelkan ke dalam lagu itu karena artinya sama,” tuturnya.
Dari percakapan itulah puisi dan lagu tersebut akhirnya berpadu. Kata-kata dalam puisi membawa kisah dan kegelisahan, sementara musik menjadi ruang bagi pesan itu untuk menjangkau lebih banyak orang.
Lewis mengungkapkan, PO Nindy sebenarnya telah memiliki sejumlah lagu yang berbicara tentang keadaan masyarakat Papua. Namun, tidak semua karya mereka mendapat kesempatan untuk diperdengarkan di hadapan publik.
“Lagu-lagu kami sebenarnya banyak berbicara tentang keadaan seperti ini. Hanya saja, selama ini kami belum selalu mendapatkan panggung untuk menyampaikan karya-karya tersebut. Ada karya yang masih tersimpan dan belum sempat kami tampilkan,” jelasnya.
Melalui panggung PRF, salah satu karya itu akhirnya mendapat ruang untuk didengar. Bagi Lewis dan rekan-rekannya, kesempatan tersebut bukan sekadar pengalaman pertama tampil di sebuah festival, tetapi juga kesempatan membawa kisah dari tanah mereka sendiri ke hadapan masyarakat yang lebih luas.
Papua Mayu, Ketika Tanah Sendiri Menjadi Air Mata
Makna yang dibawa Lewis melalui puisinya kemudian berlanjut dalam lagu Papua Mayu. Vokalis PO Nindy lainnya, Deko, menjelaskan bahwa lagu tersebut lahir dari pengalaman dan kenyataan hidup masyarakat yang merasakan kesedihan di tanah kelahirannya sendiri.
“Lagu ini diambil dari kisah kami. Tanah ini adalah rumah kami, tetapi rumah kami penuh dengan air mata. Di tempat kami sendiri, ada begitu banyak hal yang dirampas. Kami hanya bisa menangis dan merasa risau karena tidak tahu harus berbuat apa,” ungkap Deko.
Kata-kata tentang rumah yang dipenuhi air mata itu menyimpan makna yang mendalam. Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman, tempat keluarga berkumpul, anak-anak tumbuh, dan orang tua menjalani kehidupan dengan tenang.
Namun, ketika rasa aman hilang dan masyarakat harus meninggalkan tanah kelahirannya, rumah yang dicintai dapat berubah menjadi kenangan yang menyakitkan. Ada kerinduan untuk kembali, tetapi ada pula ketidakpastian tentang kapan kehidupan dapat dijalani seperti dahulu.
Melalui Papua Mayu, PO Nindy berusaha menyampaikan perasaan tersebut kepada masyarakat luas. Mereka ingin kisah yang dialami masyarakat tidak berhenti menjadi pengalaman yang hanya diketahui oleh mereka yang mengalaminya secara langsung.
“Kisah yang kami alami ini kami jadikan lagu, lalu kami nyanyikan supaya orang lain bisa mendengar dan memahami kenyataan yang kami hadapi. Ini juga menjadi suara bagi orang-orang tua dan masyarakat yang mengalami keadaan seperti ini,” kata Deko.
Bagi PO Nindy, musik bukan sekadar nada dan irama. Musik menjadi cara untuk menceritakan pengalaman, menyampaikan kepedulian, dan membuka ruang bagi suara masyarakat yang berharap penderitaan mereka didengar.
Di panggung PRF, Papua Mayu pun menjadi lebih dari sekadar lagu. Ia membawa kisah tentang masyarakat yang ingin hidup aman di tanahnya sendiri, ibu-ibu yang berjuang menjaga kehidupan anak-anaknya, dan anak-anak yang tetap memiliki hak untuk belajar serta meraih masa depan.
Di antara penonton yang terdiam dan mereka yang menitikkan air mata, pesan lagu itu seolah menemukan ruangnya. Bukan karena semua orang mengalami kisah yang sama, melainkan karena penderitaan manusia dapat menyentuh siapa saja yang bersedia mendengarkan.
Lewis dan Deko mungkin tidak dapat mengubah keadaan hanya melalui sebuah lagu. Namun, melalui puisi dan musik, mereka berusaha memastikan bahwa kisah masyarakat yang mereka suarakan tidak berhenti sebagai cerita yang terlupakan setelah pertunjukan berakhir.
Sebab, di balik setiap bait puisi dan alunan lagu, ada kehidupan yang terus berjalan. Ada keluarga yang merindukan rumahnya, ibu yang berharap dapat melahirkan dengan aman, dan anak-anak yang masih menyimpan cita-cita meski kesempatan mereka untuk bersekolah terhalang keadaan.
Melalui Papua Mayu, PO Nindy berharap semakin banyak orang bersedia mendengar, memahami, dan menaruh kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami penderitaan. Bagi mereka, yang ingin disampaikan bukan sekadar kesedihan, tetapi juga harapan agar setiap orang dapat hidup dengan aman dan bermartabat di tanah kelahirannya sendiri.
Di penghujung pesannya, Lewis menyampaikan sebuah harapan sederhana kepada masyarakat Papua.
“Semoga semua orang Papua mendoakan kami,” pungkasnya.
Sebuah kalimat singkat yang menutup penampilan mereka, tetapi menyisakan pesan panjang bahwa di balik suara yang terdengar dari panggung, ada kisah manusia yang ingin didengar, ada luka yang berharap dipahami, dan ada harapan yang tidak ingin mereka lepaskan.
“ Tuhan Memberkati,” tutupnya. (*)
Editor : Weny Firmansyah