CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Pernyataan seorang pejabat Indonesia yang menyebut oksigen di Singapura berasal dari hutan Indonesia menuai kritik dari Menteri Senior Singapura K. Shanmugam.
Ia menyayangkan pernyataan tersebut karena disampaikan ketika kabut asap akibat pembakaran hutan dan lahan berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara.
Shanmugam menyampaikan kekecewaannya kepada wartawan pada 19 Oktober. Menurut dia, masyarakat Singapura wajar merasa frustrasi ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah mereka.
“Dalam konteks ini, mengecewakan bahwa seorang pejabat Indonesia baru-baru ini mengatakan bahwa oksigen Singapura berasal dari hutan mereka,” kata Shanmugam, dilansir dari Jawa Pos, Rabu (21/10/2026).
Ia menilai pernyataan tersebut tidak tepat karena mengabaikan persoalan yang sedang dihadapi sejumlah negara di kawasan, yakni dampak kebakaran hutan dan lahan serta dugaan pelanggaran aturan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.
“Sejujurnya, tidak tepat mengatakan hal itu ketika seluruh kawasan ini menderita akibat perilaku buruk perusahaan-perusahaan yang melanggar peraturan di Indonesia, dan orang-orang yang paling menderita justru adalah warga Indonesia sendiri,” ujarnya, seperti dikutip dari The Straits Times.
Bagi Shanmugam, dampak karhutla tidak hanya dirasakan negara tetangga. Masyarakat Indonesia yang tinggal di wilayah terdampak juga menghadapi ancaman terhadap kesehatan dan lingkungan akibat kebakaran serta paparan asap.
Kabut asap akibat karhutla di Indonesia kerap menjadi persoalan lintas negara. Asap yang terbawa angin dapat menyebar ke wilayah negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia, sehingga dampaknya tidak berhenti di sekitar lokasi kebakaran.
Memburuknya kualitas udara menjadi perhatian karena paparan asap dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Anak-anak, lanjut usia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Persoalan ini juga menempatkan pencegahan kebakaran dan penegakan aturan sebagai bagian penting dalam penanganan kabut asap. Selain memadamkan api, pengawasan terhadap pembukaan lahan dan penindakan terhadap pihak yang terbukti melanggar diperlukan untuk mengurangi risiko kejadian serupa berulang.
Meski menyampaikan kritik terhadap pernyataan pejabat Indonesia, Shanmugam menegaskan bahwa Singapura siap membantu upaya penanganan kebakaran yang memicu kabut asap.
Ia menyambut komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menangani persoalan tersebut, termasuk upaya melarang praktik tebang dan bakar di lahan gambut serta memperkuat pencegahan kebakaran dalam jangka panjang.
“Singapura telah menawarkan bantuan, dan kami akan melakukan bagian kami untuk mendukung,” kata Shanmugam.
Sebelumnya, Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura Grace Fu pada 10 Oktober menyatakan telah berkomunikasi dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Jumhur Hidayat untuk menawarkan dukungan dalam penanganan persoalan kabut asap.
Dukungan serupa juga disampaikan Malaysia. Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan pada 7 Oktober mengatakan bahwa Presiden Prabowo telah menerima tawaran bantuan dari pemerintah Malaysia untuk membantu pemadaman kebakaran.
Tawaran tersebut menunjukkan bahwa penanganan kabut asap membutuhkan kerja sama antarnegara.
Namun, upaya jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman. Pencegahan karhutla, pengawasan pembukaan lahan, serta penegakan hukum terhadap perusahaan yang terbukti melanggar aturan tetap menjadi langkah penting agar kabut asap tidak terus berulang dan merugikan masyarakat di dalam maupun luar Indonesia. (*)
Editor : AdminDua