CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerumus hingga 11,57 persen ke level 5.185,11 atau mengalami penurunan harian terdalam sejak krisis yang terjadi pada 8 Januari 1998 sebesar 11,95 persen.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, mengatakan tekanan pada Jumat pekan lalu dipicu pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Dilansir Jawapos.com, pada Jumat tersebut IHSG dibuka melemah sebesar 8,01 persen ke 5.393,92 dan BEI langsung memberlakukan trading halt 30 menit. Sesi I pun ditutup minus 10,76 persen ke 5.233 dan sesi II melanjutkan pelemahan ke 5.185,11.
Pada perdagagangan hari itu, seluruh sektor terkoreksi dipimpin barang baku sebesar 13,37 persen, kesehatan 13,16 persen dan infrastruktur 13,00 persen.
Sementara itu, saham yang berada pada kelompok LQ45 turun 13,82 persen ke 508,56. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 812 saham melemah dan 11 menguat dengan nilai transaksi sekitar Rp 32 triliun pada Jumat pekan lalu.
"Investor asing mencatatkan net sell Rp 2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp 1,98 triliun, BBRI Rp 631 miliar, BMRI Rp 485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp 3,34 triliun dan YTD Rp 88,19 triliun," ujar Ardy dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (19/10).
Ardy menegaskan pelemahan IHSG secara umum dipengaruhi sentimen global dan terutama domestik. Pasar global pekan lalu didominasi kekhawatiran inflasi AS dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, data inflasi menjadi fokus utama karena menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Inflasi CPI AS September tercatat 3,7 persen secara tahunan atau year on year (yoy) di atas ekspektasi pasar 3,6 persen, sementara PPI sebagai indikator inflasi di tingkat produsen naik 1,3 persen secara bulanan atau month to month (mom) dan 6,3 persen yoy.
Kenaikan PPI penting karena menunjukkan tekanan biaya produksi yang pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen dan menjaga inflasi tetap tinggi, sehingga memperkuat ekspektasi The ed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan untuk mengendalikan inflasi. (*)
Editor : Abdel Gamel Naser