Dua Tahun Deklarasi Istiqlal Diteken Paus Fransiskus, Namun Masih Ada yang Intoleran 

Agung Trihandono • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 06:14 WIB
Acara “Ngopi Kerukunan-- Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Merawat Persaudaraan, Meneguhkan Perdamaian,” di Henri Soetyo Hall, KWI, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Acara “Ngopi Kerukunan-- Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Merawat Persaudaraan, Meneguhkan Perdamaian,” di Henri Soetyo Hall, KWI, Jakarta, Senin (28/9/2026)

CEPOSONLINE.COM,JAYAPURA – Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar, 5 September 2024. Deklarasi ini sebagai kepedulian bersama terhadap krisis global seperti dehumanisasi dan perubahan iklim, harus diwujudkan dalam aksi nyata pada kehidupan sehari-hari. 

 

Demikian refleksi para pimpinan agama yang hadir dalam acara “Ngopi Kerukunan-- Dua Tahun Deklarasi Istiqlal: Merawat Persaudaraan, Meneguhkan Perdamaian,” di Henri Soetyo Hall, KWI, Jakarta, Senin (28/9/2026). 

 

Dalam sambutan pembuka Mgr Christophorus Tri Harsono, Ketua Komisi Hubungan Antar Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (Kom-HAK KWI), mengatakan Deklarasi Istiqlal telah berjalan dua tahun namun masih banyak hal yang tidak sejalan dengan tema persaudaraan dan perdamaian. 

 

“Masih ada yang tidak toleran, masih banyak hal yang tidak sesuai. Tapi justru itu suatu proses yang harus selalu ada sehingga persaudaraan dan perdamaian menjadi berkualitas,” ujarnya.    

 

Oleh karena itu, Mgr Christophorus mengajak peserta melihat Deklarasi Istiqlal sebagai sebuah perjalanan yang harus terus menerus menghasilkan sesuatu kebaikan. Ia menekankan, persaudaraan, perdamaian, dan pelestarian bumi merupakan cita-cita yang perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata.

 

Mgr Christophorus menegaskan bahwa perdamaian membutuhkan proses untuk terus memperbaiki relasi, membangun kepercayaan, dan belajar menerima perbedaan. Karena itu, perjumpaan antarumat beragama harus terus dirawat dan tidak berhenti pada pertemuan seremonial.

 

“Dulu ngopi bersama antarumat beragama mungkin susah, sekarang sudah menjadi biasa. Tapi tidak hanya formalitas kita bertemu, kita bicara melanjutkan apa yang sudah dimulai Paus Fransiskus dan Ahmed Al-Tayeb (Dokumen Abudhabi-red) juga Deklarasi Istiqlal, kita lebih bersaudara, berdamai, dan merawat bumi sebagai rumah kita bersama,” katanya.

 

Bantuan Saja Tidak Cukup, Harus Lihat Akar Permasalahannya

Sebagai moderator, Romo Aloys Budi Purnomo, Sekretaris Kom-HAK KWI, memberikan kesempatan peserta untuk menyampaikan refleksinya dalam koridor bagaimana mengubah Deklarasi Istiqlal dari seremoni menjadi gerakan nyata. 

 

“Siapapun yang hadir boleh berbicara menyampaikan refleksi terkait Deklarasi Istiqlal,” ujar Romo Budi seraya mempersilakan Hening Purwati Parlan, Wakil Ketua II Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, untuk mengawali.

 

Hening yang selama ini aktif dalam gerakan lingkungan dan kolaborasi lintas iman, mengajak para pimpinan agama melihat krisis iklim bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga kemanusiaan dan etika.

 

“Dulu selokan di depan rumah saya di kampung, di Wonogiri dipenuhi air sekarang kering. Sungai yang waktu saya kecil untuk mandi, sekarang airnya kecil. Dulu, sehabis hujan kita dengar suara kodok sekarang tidak ada,” ucap Hening, dan menambahkan bahwa kodok menjadi ciri suatu lokasi secara ekosistem masih bagus.

 

Menurutnya, pengalaman itu menjadi gambaran bagaimana krisis iklim dan kerusakan lingkungan sering kali berlangsung tanpa disadari. Pelan namun pasti, manusia kehilangan sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa. (*)

Editor : Agung Trihandono
kerukunan Ceposonline.com toleransi