Beli Alutsista Mahal dari Italia, Pemerintah Indonesia Didorong Maksimalkan Offset

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 05:28 WIB
KRI Prabu Siliwangi-321 melakukan uji tembak meriam 127 milimeter di Italia. (TNI AL)
KRI Prabu Siliwangi-321 melakukan uji tembak meriam 127 milimeter di Italia. (TNI AL)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Pemerintah Indonesia membeli kapal perang jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) dari Italia dengan harga yang tidak murah. Untuk memastikan belanja alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut membawa manfaat lebih, pemerintah didorong memaksimalkan offset.

 

Kepala Bidang Ahli Teknologi dan Offset Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Yono Reksoprodjo menyampaikan bahwa offset merupakan sarana, bukan tujuan akhir dalam penguasaan teknologi. Dia menilai, keberhasilan offset harus diukur dari kemampuan Indonesia menghasilkan sesuatu setelah proses transfer teknologi selesai.


”Offset itu vehicle, bukan tujuan akhir. Kalau offset adalah tujuan akhir, selesai offset, selesai sudah permasalahannya. Pertanyaannya, kita dapat apa?” kata Yono dalam siniar Ngobrol Pertahanan Indonesia (Ngopi) dikutip pada Sabtu (26/9/2026)

 

Setiap program offset harus memiliki blueprint yang jelas sejak awal. Khusus untuk pengadaan kapal perang, menurut Yono, offset tidak cukup sampai pada kemampuan fabrikasi atau pengelasan badan kapal. Indonesia perlu mempelajari keseluruhan proses engineering.


Mulai dari desain, manajemen produksi, sistem integrasi hingga teknologi yang berada di balik platform kapal. Kapal perang PPA Kelas Brawijaya, kata Yono, didatangkan oleh Indonesia sudah dalam bentuk jadi. 

 

Sehingga offset-nya perlu diarahkan pada area yang bisa meningkatkan kemampuan industri pertahanan Indonesia, termasuk simulator dan terutama penguasaan teknologi serta integrasi sistem.


”Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun platform kapal. Tantangan yang lebih besar berada pada aspek what's inside, yakni teknologi dan sistem yang membuat kapal tersebut menjadi kapal perang dengan kemampuan tempur,” imbuhnya.


Dalam kesempatan yang sama, Alman Helvas Ali sebagai konsultan dari Marapi Consulting & Advisory yang aktif mengikuti perkembangan isu pertahanan, menyampaikan bahwa offset hanya salah satu tahapan dalam proses panjang penguasaan teknologi. Menurut dia, pengalaman Indonesia pada masa lalu menunjukkan manfaat offset bisa menjadi signifikan apabila teknologi yang diperoleh digunakan untuk mengembangkan produk baru.


”Offset hanyalah salah satu tahapan dalam penguasaan teknologi maju. Teknologi yang didapatkan dari offset harus digunakan untuk mengembangkan suatu produk baru yang buatan kita sendiri,” jelasnya.


Alman pun mengingatkan bahwa hasil offset tidak akan optimal apabila industri pertahanan dalam negeri tidak memperoleh kesempatan menggunakan teknologi yang telah diserap. Dalam konteks kapal perang PPA dari Italia, dia mencontohkan peluang pengembangan simulator.


Menurut Alman, transfer teknologi akan lebih bermakna apabila perusahaan Indonesia yang menerima teknologi dipercaya mengembangkan simulator atau produk sejenis untuk kebutuhan pertahanan nasional. Selain itu, ketergantungan terhadap indirect offset harus dikurangi. Sebaliknya,  direct offset harus diperluas.  


Dalam pengadaan kapal perang, lanjut Alman, peluang direct offset dapat diarahkan pada desain kapal, sistem elektronika pertahanan, combat management system (CMS), integrasi berbagai subsistem, serta kemampuan engineering dan produksi. Penguasaan elektronika pertahanan menjadi salah satu pekerjaan rumah paling penting. Sebab, sistem tersebut merupakan bagian vital dalam kemampuan tempur kapal perang modern.


Karena itu pula, pembelian kapal perang PPA dari Italia harus dilihat bukan hanya sebagai penambahan jumlah kapal perang bagi TNI AL, melainkan juga sebagai kesempatan untuk membangun kemampuan industri pertahanan Indonesia.

 

Offset dari proyek mahal itu akan memberikan nilai strategis apabila teknologi yang diperoleh hari ini dapat menjadi dasar bagi lahirnya kemampuan dan produk pertahanan nasional di masa depan. (*)

Editor : AdminDua
kapal perang tni al