CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Pembahasan Maudy Ayunda mengenai mindfulness di tengah derasnya kabar buruk di Indonesia menuai sorotan warganet.
Video bertajuk “Mindfulness in the Age of Bad News” yang diunggah pada 21 Agustus 2026 kembali menjadi perbincangan setelah potongannya beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, Maudy membahas pentingnya menjaga kesehatan mental ketika masyarakat setiap hari dihadapkan pada informasi negatif.
Ia menyinggung berbagai persoalan, mulai dari bencana alam, kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), kebakaran hutan hingga kebijakan pemerintah.
Pesan mengenai pentingnya menjaga jarak dari paparan berita negatif itu kemudian mendapat tanggapan beragam.
Dilansir dari JawaPos, sejumlah warganet mempertanyakan sudut pandang yang disampaikan Maudy. Mereka menilai kemampuan untuk mengambil jarak dari pemberitaan negatif tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi seseorang.
Kritik terutama diarahkan pada anggapan bahwa tidak semua orang memiliki pilihan untuk menjauh dari pemberitaan mengenai persoalan yang sedang terjadi.
Bagi masyarakat yang terdampak langsung bencana, kesulitan mendapatkan BBM, kebakaran hutan maupun kebijakan tertentu, informasi tersebut bukan sekadar berita yang dapat ditutup atau dihindari. Persoalan tersebut dapat bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah komentar warganet juga menyoroti kesan kontras antara suasana penyampaian dalam video dengan kondisi masyarakat yang tengah menghadapi berbagai persoalan.
Istilah tone deaf pun muncul dalam kritik tersebut untuk menggambarkan anggapan bahwa pesan yang disampaikan kurang sensitif terhadap pengalaman kelompok masyarakat tertentu.
Namun, Maudy kemudian memberikan respons terhadap kritik yang muncul.
Maudy mengakui bahwa pembahasan mengenai privilese dalam memilih untuk mengambil jarak dari pemberitaan belum cukup ia refleksikan saat membuat video tersebut.
Ia menyampaikan permintaan maaf atas kekurangan dalam penyampaian pesan tersebut.
Maudy juga menegaskan bahwa pembahasan mindfulness tidak dimaksudkan untuk mengajak masyarakat menutup mata terhadap persoalan sosial atau berpura-pura bahwa kondisi sedang baik-baik saja.
Menurutnya, berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, termasuk bencana alam hingga kebijakan yang dinilai tidak tepat sasaran, memiliki dampak nyata terhadap kehidupan banyak orang.
Karena itu, kritik dan masukan yang disampaikan warganet dipilih Maudy sebagai perspektif tambahan untuk mengevaluasi kembali cara dirinya membahas kesehatan mental ketika topik tersebut bersinggungan dengan persoalan sosial.
Perbincangan tersebut kemudian mempertemukan dua isu yang berbeda tetapi saling berkaitan. Di satu sisi, paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat menjadi beban psikologis sehingga kemampuan mengatur konsumsi informasi menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Di sisi lain, kemampuan untuk mengambil jarak dari berita tidak selalu tersedia bagi masyarakat yang mengalami langsung dampak dari persoalan tersebut. (*)
Editor : Elfira Halifa