Enam Gunung Api Erupsi Beruntun, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bumi?

Elfira Halifa • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 04:38 WIB
Ilustrasi. (AI)
Ilustrasi. (AI)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Fenomena erupsi beruntun sejumlah gunung api di Indonesia memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik. Salah satunya mengaitkan aktivitas vulkanik tersebut dengan rekayasa teknologi, termasuk proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).

 

Namun, dugaan tersebut dinilai tidak memiliki dasar ilmiah. Pegiat mitigasi bencana sekaligus pakar sains, Daryono menegaskan aktivitas erupsi gunung api merupakan bagian dari dinamika alamiah bumi yang berkaitan erat dengan proses tektonik dan pergerakan magma di dalam bumi.

 

Pernyataan Daryono merespons spekulasi yang sebelumnya disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan. Melalui akun media sosial pribadinya, Ulta mempertanyakan kemungkinan adanya hubungan antara erupsi sejumlah gunung api dengan proyek HAARP serta momentum geopolitik setelah kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia.

 

Ulta juga menyebut pandangannya tersebut sebagai pertanyaan pribadi dan mengakui belum memiliki bukti ilmiah. Meski demikian, unggahan itu kemudian memicu perhatian dan perbincangan publik.

 

Daryono menjelaskan, secara geologi dan geofisika, erupsi gunung api merupakan proses pelepasan energi endogenik bumi dalam skala yang sangat besar. Energi tersebut terbentuk jauh di bawah permukaan bumi melalui proses geologi yang berlangsung dalam waktu panjang.

 

Menurutnya, magma dapat bergerak naik menuju permukaan karena memiliki densitas lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Pergerakan tersebut juga dipengaruhi tekanan gas yang terlarut dalam magma, antara lain uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.

 

"Tekanan di kantong magma ini mencapai ratusan MegaPascal. Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja," tegas Daryono, dilansir dari JawaPos, Rabu (9/9/2026)

 

Ia menambahkan, lapisan batuan padat di bawah permukaan bumi memiliki sifat yang meredam gelombang elektromagnetik. Karena itu, tidak terdapat mekanisme fisik yang memungkinkan sinyal buatan manusia digunakan untuk mengendalikan pergerakan magma pada kedalaman tersebut.

 

Selain persoalan mekanisme, skala energi yang dibutuhkan juga menjadi persoalan mendasar. Pergerakan magma melibatkan massa material dan temperatur yang sangat besar sehingga tidak realistis jika dikendalikan menggunakan teknologi seperti HAARP.

 

Daryono mengatakan, aktivitas gunung api yang relatif tinggi di Indonesia justru dapat dijelaskan dari posisi geografis dan kondisi tektoniknya.

 

Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik dan menjadi wilayah pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar, antara lain Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.

 

Pertemuan dan penunjaman lempeng tersebut berlangsung secara alamiah. Lempeng samudra yang menunjam membawa air dan sedimen ke kedalaman bumi. Kondisi ini berperan dalam proses pelelehan batuan mantel dan pembentukan magma.

 

Proses tersebut telah berlangsung selama jutaan tahun dan menjadi salah satu faktor utama yang membuat Indonesia memiliki banyak gunung api aktif.

 

Dalam kondisi tertentu, peningkatan aktivitas tektonik maupun perubahan tegangan di kerak bumi dapat memengaruhi sistem vulkanik yang sudah berada dalam kondisi kritis.

 

Akibatnya, sejumlah gunung api di wilayah yang sama dapat menunjukkan peningkatan aktivitas dalam waktu yang berdekatan.

 

"Fenomena ini merupakan respons alamiah sistem bumi, bukan akibat intervensi pihak tertentu," kata Daryono.

Daryono juga menjelaskan bahwa erupsi gunung api umumnya didahului sejumlah perubahan yang dapat dipantau menggunakan instrumen geofisika.

 

Sebelum erupsi, aktivitas seismik seperti gempa vulkanik dalam dan dangkal dapat meningkat. Pergerakan magma juga dapat menimbulkan tremor akibat rekahan batuan dan perubahan tekanan di dalam tubuh gunung api.

 

Selain aktivitas kegempaan, pemantauan menggunakan GPS dan tiltmeter dapat mendeteksi deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung api. Perubahan komposisi dan konsentrasi gas vulkanik serta peningkatan suhu juga dapat menjadi indikator adanya perubahan pada sistem magmatik.

 

Berbagai parameter tersebut dipantau secara berkala oleh lembaga pemantauan gunung api dan menjadi bagian penting dalam sistem peringatan dini bencana.

 

Menurut Daryono, keberadaan berbagai sinyal prekursor tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik merupakan proses yang berlangsung secara bertahap, bukan sebuah peristiwa yang dapat terjadi hanya karena adanya "pemicu" buatan secara tiba-tiba.

 

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai narasi yang menghubungkan bencana alam dengan teori konspirasi tanpa dukungan bukti ilmiah.

 

"Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak," tutupnya. (*)

Editor : AdminDua
gunung berapi