CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Kerusakan hutan Kalimantan terus menjadi perhatian. Kebakaran hutan dan lahan, pembabatan, penebangan liar, hingga ekspansi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara membuat sebagian kawasan hutan hujan tropis terus terdesak.
Kondisi tersebut mendorong Ferry Irwandi mengajak masyarakat tidak berhenti pada pembicaraan di media sosial, tetapi ikut mengambil bagian dalam upaya melindungi dan memulihkan hutan Kalimantan.
Ferry menggagas gerakan Patungan untuk Hutan Kalimantan dengan target menghimpun dana Rp50 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung perlindungan kawasan hutan, pemulihan lahan terdegradasi, penanaman pohon, hingga kebutuhan penanganan darurat kebakaran hutan dan lahan.
“Selama ini gagasan tersebut hanya kita cetuskan sebagai mimpi, sebagai khayalan, sebagai pembicaraan tapi hari ini mari benar-benar kita lakukan. Patungan untuk hutan, kita enggak bercanda soal itu,” kata Ferry, dilansir dari JawaPos, Senin (7/9/2026).
Menurut Ferry, gerakan tersebut bukan sekadar upaya mengumpulkan uang untuk membeli kawasan hutan. Persoalan perlindungan hutan berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari status kawasan, hak atas tanah, perhutanan sosial, hutan adat, konsesi, tata ruang, hingga kewenangan pemerintah pusat dan daerah.
Karena itu, gerakan tersebut akan memanfaatkan infrastruktur sosial yang telah ada dan memperbesar skalanya agar perlindungan hutan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Dengan target dana Rp50 miliar, program tersebut diproyeksikan dapat mendukung perlindungan dan pemulihan sekitar 10.000 hingga 25.000 hektare bentang hutan, restorasi sekitar 1.000 hektare lahan terdegradasi, serta penanaman sekitar 1,5 juta hingga 1,6 juta bibit pohon lokal.
Dana juga akan diarahkan untuk kebutuhan darurat ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Tim pemadam swadaya seperti TCA, MPA, dan BPK membutuhkan berbagai perlengkapan, mulai dari mesin pompa air, selang, alat pelindung diri, obat-obatan, logistik, hingga sumber air untuk menghadapi kebakaran di garis depan.
Setiap kawasan yang mendapat dukungan, kata Ferry, akan melalui proses verifikasi status hukum. Selain itu, akan disusun baseline ekologi, dicatat kebutuhan biayanya, serta dipantau tingkat kelangsungan hidup pohon selama satu hingga lima tahun.
“Ukuran keberhasilan yang bagus itu nantinya bukan berapa banyak jumlah uang yang bisa kita kumpulin tapi berapa hektar hutan yang tetap berdiri 5, 10, 20, atau 100 tahun dari sekarang? Berapa pohon yang benar-benar tumbuh menjadi hutan? Berapa koridor yang kembali dilewati satwa? Berapa keluarga yang sekarang mendapat penghasilan karena menjaga hutan?” kata Ferry.
Pesan mengenai pentingnya menjaga hutan juga disampaikan Kinari dari Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI).
Menurutnya, perlindungan hutan merupakan tanggung jawab bersama karena manusia, satwa, dan ekosistem memiliki keterkaitan satu sama lain.
“Everyone all over this planet, we are all connected and it's all of our jobs to protect the forest,” ujarnya.
Sementara itu, pendekatan perlindungan kawasan hutan telah diterapkan Yayasan Kalaweit. Andrew Kalaweit menjelaskan, organisasi yang didirikan ayahnya pada 1998 itu awalnya berfokus menyelamatkan primata Oa-Oa. Namun, fokus tersebut kemudian berkembang pada perlindungan ekosistem karena penyelamatan habitat dinilai lebih efektif.
“Kita sadar bahwa kami enggak bisa nyelamatin hutan Kalimantan, Kalimantan itu luas sekali. Yang kita perjuangkan hanyalah pulau-pulau hutan di beberapa tempat yang memang strategis,” ujar Andrew.
Salah satu kawasan yang dijaga Kalaweit merupakan fragmen hutan seluas sekitar 2.000 hingga 2.500 hektare yang berada di tengah kepungan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara.
Sementara itu, ASRI mengintegrasikan upaya kesehatan masyarakat dengan pemulihan lingkungan. Warga dapat membayar biaya pengobatan menggunakan bibit pohon lokal.
Program tersebut telah menghasilkan penanaman lebih dari 700.000 bibit pohon dan restorasi sekitar 435 hektare lahan rusak.
Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa menjaga hutan tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki kawasan, tetapi juga bagaimana masyarakat, lembaga konservasi, dan berbagai pihak dapat terlibat dalam menjaganya.
Ajakan Ferry Irwandi melalui gerakan patungan menjadi salah satu upaya untuk mengubah kepedulian terhadap kerusakan hutan menjadi tindakan nyata, agar hutan Kalimantan tetap menjadi ruang hidup bagi manusia dan satwa serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)
Editor : Elfira Halifa