CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V Jayapura mengimbau masyarakat Papua, khususnya di wilayah Jayapura dan sekitarnya, untuk tidak panik terkait isu potensi gempa susulan akibat dampak kegempaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini.
BMKG menegaskan bahwa rentetan gempa yang terjadi di NTT tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kondisi tektonik di wilayah Papua.
Fungsional Muda Geofisika Tsunami Early Warning System (TEWS) BBMKG Wilayah V Jayapura, Danang Pamuji, M.Si., menyatakan bahwa pemantauan aktivitas seismik secara intensif terus dilakukan untuk memastikan keamanan kestabilan lempeng di wilayah Papua.
"Terkait aktivitas kegempaan di wilayah Jayapura, hasil pemantauan kami tidak menunjukkan dampak signifikan akibat dari gempa di NTT. Aktivitas gempa di Jayapura terpantau normal," ungkap Danang kepada Cenderawasih Pos, Senin (34/8/2026).
Menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai kemungkinan pemicuan pergeseran lempeng di Papua pascagempa NTT, BMKG menjelaskan bahwa kedua wilayah tersebut memiliki zona sumber gempa yang berbeda secara geologis.
Sumber kegempaan yang memicu aktivitas seismik di NTT tidak berasosiasi dengan sistem patahan maupun struktur sumber kegempaan di wilayah Papua.
Dengan perbedaan sistem tektonik tersebut, energi yang dilepaskan oleh sumber gempa di NTT tidak serta-merta menjalar atau mempengaruhi kestabilan lempeng bumi di Jayapura. Aktivitas kegempaan di Jayapura saat ini masih berada dalam batas skala normal dan berjalan sesuai dinamika geologi alamiahnya.
Secara keseluruhan, BBMKG Wilayah V Jayapura menyimpulkan bahwa aktivitas kegempaan di wilayah Papua tidak mengalami peningkatan dampak maupun eskalasi bahaya yang dipicu oleh peristiwa di NTT.
Kondisi tektonik di wilayah Papua saat ini dipastikan berada dalam status aman.Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan melanjutkan aktivitas harian seperti biasa.
"Kami juga mengingatkan agar publik tidak mudah terprovokasi oleh ramalan atau kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta selalu mengacu pada informasi resmi dan terverifikasi yang dikeluarkan oleh kanal saluran BMKG," pungkasnya. (*)
Editor : Agung Trihandono