CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Mengapa seseorang rela menyisihkan uang, waktu, atau tenaga untuk membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan? Pertanyaan ini ternyata tidak hanya berkaitan dengan nilai moral dan kepedulian sosial, tetapi juga memiliki penjelasan dari sisi psikologi.
Memberi sumbangan atau berdonasi merupakan salah satu bentuk perilaku prososial. Dalam berbagai masyarakat, tindakan berbagi telah lama dipandang sebagai bentuk kepedulian sekaligus cara memperkuat hubungan sosial.
Namun, di balik keputusan seseorang untuk memberikan bantuan, terdapat sejumlah proses psikologis yang membuat aktivitas tersebut terasa bermakna. Bahkan, orang yang terbiasa membantu orang lain dapat merasakan kepuasan dan manfaat psikologis dari tindakan yang dilakukan.
Dilansir dari Jawa Pos.com, Senin (10/8/2026), berikut sejumlah alasan psikologis yang dapat mendorong seseorang senang berdonasi.
1. Empati Membuat Seseorang Terdorong Membantu
Empati menjadi salah satu faktor penting dalam perilaku menolong. Ketika melihat seseorang mengalami kesulitan, orang yang memiliki empati tinggi cenderung mampu membayangkan kondisi yang dialami orang tersebut.
Perasaan itu dapat memunculkan keinginan untuk meringankan beban, termasuk dengan memberikan sumbangan.
Pengalaman hidup juga dapat memengaruhi tingkat empati. Orang yang pernah mengalami kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan atau menghadapi musibah mungkin lebih mudah memahami kondisi orang lain.
2. Memberi Bisa Membuat Seseorang Merasa Bahagia
Dalam psikologi dikenal istilah helper's high, yaitu perasaan positif yang muncul setelah seseorang melakukan tindakan menolong.
Ketika memberikan bantuan, seseorang dapat merasakan kepuasan emosional karena mengetahui tindakannya memberikan manfaat bagi orang lain. Perasaan positif tersebut dapat membuat seseorang terdorong mengulangi perilaku berbagi.
Karena itu, bagi sebagian orang, berdonasi bukan hanya tentang membantu penerima, tetapi juga memberikan rasa puas dan ketenangan batin bagi pemberi.
3. Nilai Moral Membentuk Kebiasaan Berbagi
Kebiasaan memberi juga dapat terbentuk dari nilai yang ditanamkan sejak kecil.
Lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat dapat mengajarkan bahwa membantu sesama merupakan tindakan yang baik. Nilai tersebut kemudian dapat terbawa hingga seseorang dewasa.
Selain nilai moral, kesadaran bahwa manusia saling membutuhkan juga dapat membangun rasa tanggung jawab sosial.
4. Donasi Dapat Mengurangi Rasa Bersalah
Melihat orang lain hidup dalam kondisi sulit terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman atau rasa bersalah.
Seseorang yang memiliki kehidupan relatif lebih baik, misalnya, dapat merasa tidak nyaman ketika melihat korban bencana atau orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Memberikan bantuan menjadi salah satu cara untuk merespons perasaan tersebut melalui tindakan yang positif. Meski motivasinya bersifat pribadi, bantuan tetap dapat memberikan manfaat nyata bagi penerima.
5. Lingkungan Sosial Ikut Mendorong Orang Berdonasi
Keputusan untuk membantu orang lain juga dapat dipengaruhi lingkungan.
Ketika keluarga, teman, komunitas atau tempat kerja memiliki budaya berbagi, seseorang cenderung lebih mudah mengikuti perilaku tersebut.
Contohnya ketika sebuah kantor menggalang dana untuk korban bencana. Keikutsertaan karyawan tidak hanya membantu penerima bantuan, tetapi juga memperkuat rasa solidaritas dan kebersamaan di antara anggota kelompok.
6. Berbagi Membuat Hidup Terasa Lebih Bermakna
Bagi sebagian orang, membantu orang lain dapat memberikan rasa bahwa kehidupannya memiliki tujuan.
Mengetahui bantuan yang diberikan dapat membantu seseorang membeli makanan, melanjutkan sekolah atau menghadapi musibah membuat pemberi merasa tindakannya memiliki dampak nyata.
Karena itu, makna berbagi tidak selalu ditentukan oleh besarnya nominal. Bantuan kecil pun dapat memberikan kepuasan ketika pemberi mengetahui manfaatnya.
7. Kebiasaan Memberi Membentuk Identitas Positif
Seseorang yang terbiasa membantu orang lain dapat mulai melihat dirinya sebagai pribadi yang peduli dan bermanfaat.
Dalam psikologi, kondisi tersebut berkaitan dengan konsep self-perception, yaitu kecenderungan seseorang memahami dirinya melalui perilaku yang dilakukan.
Semakin sering seseorang melakukan tindakan positif, semakin kuat kemungkinan perilaku tersebut menjadi bagian dari identitas dirinya.
Manfaat Psikologis dari Kebiasaan Berdonasi
Selain memberikan manfaat kepada penerima, kebiasaan membantu juga dapat memberikan dampak positif bagi pemberi. Di antaranya meningkatkan rasa syukur, memperkuat hubungan sosial, menumbuhkan optimisme, meningkatkan rasa percaya diri, membantu mengurangi rasa kesepian dan meningkatkan kepuasan hidup.
Bentuk bantuan pun tidak harus selalu berupa uang. Seseorang dapat berbagi melalui barang, waktu, tenaga, pengetahuan atau keterampilan sesuai kemampuan.
Berbagi Tidak Harus Menunggu Kaya
Pada akhirnya, kebiasaan berdonasi dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis, mulai dari empati, nilai moral, pengaruh lingkungan hingga kebutuhan untuk menemukan makna dalam kehidupan.
Memberi juga tidak harus dilakukan dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah bantuan diberikan secara sukarela, sesuai kemampuan dan benar-benar bermanfaat bagi penerima.
Sebab, di balik sebuah bantuan yang mungkin terlihat sederhana, terdapat pesan penting bahwa seseorang tidak hidup sendiri dan masih memiliki kepedulian terhadap orang lain. (*)
Editor : Elfira Halifa