Ini Yang Harus Dilakukan Jika Terjadi Keracunan MBG, Pakar UGM Beri Tipsnya

Weny Firmansyah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 09:45 WIB
Dua orang pegawai merapikan paket menu MBG yang akan diantarkan ke sekolah-sekolah di sekitar lingkungan Sasake, Praya Tengah, Loteng, beberapa waktu lalu. (Dewi/Lombok Post)
Dua orang pegawai merapikan paket menu MBG yang akan diantarkan ke sekolah-sekolah di sekitar lingkungan Sasake, Praya Tengah, Loteng, beberapa waktu lalu. (Dewi/Lombok Post)

CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA- Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan banyak korban terutama kalangan siswa yang menjadi sasaran dari program tersebut. 


Oleh karena itu aspek keamanan pangan sangat penting. Sayangnya masyarakat awam dan tenaga pendidik belum dibekali pengetahuan cukup mengenai perbedaan alergi dan keracunan makanan. 


Bahkan mampu memberi pertolongan pertama saat mendapatkan siswa yang kena keracunan.

 

Guru Besar Mikrobiologi Klinik FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK(K).,  yang dikutip dari dalam laman ugm.ac.id
menjelaskan soal  perbedaan antara alergi dan keracunan makanan, agar masyarakat dapat mengambil langkah pertolongan pertama yang tepat ketika gejala muncul.


Menurutnya, alergi makanan dan keracunan makanan memiliki penyebab dan mekanisme yang sangat berbeda. “Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tertentu. Bahkan dalam jumlah kecil, makanan pemicu alergi dapat menyebabkan gejala seperti biduran, pembengkakan saluran pernapasan yang memicu asma, hingga gangguan pencernaan,” jelasnya,". 


Tri menambahkan, sebagian besar kasus keracunan bersifat ringan dan dapat sembuh tanpa pengobatan khusus, tetapi dalam kondisi tertentu dapat berakibat serius jika tidak segera ditangani.


Namun pada kasus keracunan, ia menyebutkan bahwa bakteri seperti Salmonella sp dan Escherichia coli (E. coli) memiliki mekanisme yang berbeda dalam menyebabkan keracunan makanan.


Salmonella patogenik dapat bertahan dari asam lambung dan menyerang mukosa usus, memicu peradangan serta luka pada dinding usus.


Sedangkan E. coli penghasil toksin Shiga (Shiga toxin-producing E. coli / STEC) dapat menyebabkan penyakit tular makanan yang parah. “Meskipun gejalanya mirip, mekanisme penyebabnya berbeda-beda tergantung jenis bakterinya,” ungkapnya.


Dalam konteks program Makan Bergizi Gratis di sekolah, Tri menekankan pentingnya penanganan pertama yang cepat dan tepat ketika siswa menunjukkan gejala keracunan makanan.


 “Muntah dan diare dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit. Langkah paling penting dalam pertolongan pertama adalah mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk mencegah dehidrasi,” ujarnya.


Dosen Mikrobiologi Klinik ini menyarankan agar penderita banyak minum air putih atau cairan dengan suplemen elektrolit. “Jika muntah masih terjadi, minumlah sedikit demi sedikit. Dan jika kondisi memburuk, segera cari pertolongan dari petugas kesehatan,” tambahnya.

 

Tidak menutup kemungkinan gejala demam yang mungkin muncul saat keracunan merupakan mekanisme alami tubuh dalam melawan infeksi. Peningkatan suhu tubuh membantu memperlambat pertumbuhan bakteri serta mengoptimalkan kerja sistem imun. “Demam membantu mengendalikan infeksi dengan memberi tekanan panas pada patogen dan meningkatkan efektivitas sistem kekebalan tubuh,” paparnya.


Meski begitu, untuk mencegah terjadinya keracunan Tri mengingatkan bahwa pengawasan ketat terhadap seluruh rantai produksi makanan MBG sangat penting, mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi.


 “Setiap tahap proses dapat menjadi titik masuk bagi bakteri, virus, jamur, atau parasit penyebab keracunan. Karena itu, standar kebersihan harus diterapkan secara optimal,” tegasnya. (*)

Editor : Weny Firmansyah
Ceposonline.com Makan Bergizi Gratis (MBG)