CEPOSONLINE.COM, JAYAPURA-Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia masih berada di jalur positif di tengah tekanan ekonomi global.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen.
Capaian tersebut langsung direspons Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Ia menyebut berbagai prediksi yang menyatakan Indonesia akan masuk resesi hingga mengalami krisis seperti 1998 terbukti meleset.
“Pada kecele, salah prediksi. Boro-boro resesi, malah naik. Apalagi krisis,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Purbaya mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini justru menunjukkan tren penguatan.
Menurutnya, sebuah negara biasanya mengalami tahapan perlambatan ekonomi terlebih dahulu sebelum masuk ke jurang resesi. Namun Indonesia saat ini masih mencatat pertumbuhan yang cukup solid.
Ia juga menyoroti maraknya narasi di media sosial, terutama TikTok, yang menyebut kondisi ekonomi Indonesia mirip dengan krisis moneter 1998.
Menurut Purbaya, perbandingan tersebut tidak didukung data ekonomi yang valid.
“Padahal mereka nggak pernah lihat data ekonominya 97-98. Jadi data ini menunjukkan reformasi ekonomi yang dilakukan sudah memberikan dampak kepada perekonomian,” katanya.
Menkeu bahkan optimistis reformasi ekonomi yang dilakukan pemerintah akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih cepat ke depan.
Sementara itu, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen tercermin dari nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang mencapai Rp6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku. Sedangkan PDB atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan satu 2026 secara year on year tumbuh 5,61 persen,” jelas Amalia saat menyampaikan rilis resmi BPS di Jakarta.
Meski demikian, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen secara kuartalan dibanding triwulan IV 2025.
Amalia menegaskan kontraksi tersebut merupakan pola musiman yang lazim terjadi pada awal tahun dan bukan sinyal pelemahan ekonomi nasional.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan daya tahan ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global, sekaligus menjadi bantahan terhadap berbagai prediksi suram mengenai ancaman resesi maupun krisis ekonomi di dalam negeri. (*)
Editor : Elfira Halifa