CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Sebanyak 32 pelajar dari 16 sekolah SMA/SMK di Kabupaten Nabire mengikuti Lomba Pidato Pelajar yang digelar Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat Papua (YAPKEMA Papua), Rabu (21/10/2026). Melalui kegiatan ini, pelajar diajak menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari ancaman terhadap lingkungan, HIV, hingga kebudayaan lokal yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Lomba pidato yang berlangsung di Aula Gereja Katolik Paroki Kristus Raja Malompo, Nabire, tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 YAPKEMA Papua dengan mengusung tema “Suara Pelajar Nabire untuk Lingkungan, HIV, dan Kebudayaan”.
Ketua Panitia HUT ke-27 YAPKEMA Papua, Herman Degei, mengatakan pemilihan lomba pidato sebagai bentuk perayaan ulang tahun yayasan bertujuan memberikan ruang kepada generasi muda untuk menyampaikan pandangan dan kepedulian mereka terhadap persoalan di lingkungan sekitar.
“Poin pentingnya itu, kita ingin menciptakan ruang di mana dari ruang itu ada perbincangan tentang budaya, tentang HIV, tentang lingkungan bagi anak-anak muda, " ujar Herman kepada media ini di sela-sela kegiatan, Rabu (21/10/2026).
Herman mengatakan, ada tiga isu utama yang menjadi perhatian panitia dalam lomba pidato tahun ini, yakni kebudayaan, HIV, dan lingkungan. Ketiga isu tersebut dipilih berdasarkan situasi yang berkembang di Papua Tengah dan dinilai membutuhkan perhatian, termasuk dari kalangan pelajar.
Terkait kebudayaan, Herman menilai keberagaman masyarakat di Nabire sebagai kekayaan yang perlu dijaga. Namun, di tengah keberagaman tersebut, terdapat kekhawatiran terhadap keberlangsungan budaya masyarakat asli Papua, terutama bahasa daerah dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kenapa kami memilih tema budaya? Karena Nabire ini biasanya disebut Indonesia mini, sebab masyarakatnya sangat heterogen. Di tengah keberagaman itu, ada hal-hal dari masyarakat asli yang mulai terancam. Salah satu yang paling terlihat adalah bahasa daerah yang mulai terancam punah,” katanya.
Ia berharap lomba pidato dapat mendorong pelajar lebih mengenal identitas budaya mereka dan ikut memikirkan cara melestarikannya.
Selain kebudayaan, HIV menjadi salah satu isu yang diangkat karena pentingnya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap persoalan kesehatan tersebut.
“Kenapa kami memilih HIV? Karena kami melihat persoalan ini perlu menjadi perhatian bersama. Anak-anak muda sekarang hidup di tengah perkembangan teknologi, dan pola pergaulan juga semakin berkembang. Karena itu, mereka perlu mendapatkan pemahaman yang baik mengenai HIV,” ujarnya.
Menurut Herman, melalui lomba pidato, pelajar diharapkan berani membicarakan HIV sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan pemahaman dan kepedulian bersama.
Sementara itu, isu lingkungan diangkat karena Papua Tengah memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, tetapi pemanfaatannya juga perlu memperhatikan dampak terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat adat.
“Kami melihat Papua Tengah memiliki banyak sumber daya alam yang diambil dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi. Namun, dampaknya terhadap lingkungan juga besar. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah aktivitas pertambangan ilegal yang dapat berdampak pada lingkungan dan masyarakat adat,” ungkapnya.
Herman menegaskan, generasi muda perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan lingkungan di sekitar mereka. Menurutnya, pelajar tidak cukup hanya mengetahui persoalan yang terjadi, tetapi juga perlu memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat dan menawarkan gagasan.
Dalam pelaksanaannya, panitia berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk menyebarkan undangan kepada sekolah-sekolah melalui jaringan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan grup koordinasi kepala sekolah.
Ia mengakui, sejumlah sekolah belum sempat mempersiapkan peserta karena informasi kegiatan diterima dalam waktu yang terbatas. Meski demikian, panitia memutuskan tetap melaksanakan lomba dengan peserta yang telah siap mengikuti kegiatan.
Dalam proses penilaian, panitia melibatkan empat orang juri yang memiliki pengalaman dan pemahaman sesuai dengan tema yang diangkat.
" Bagi kami, yang terpenting bukan hanya siapa yang menjadi juara. Kami ingin ada ruang bagi anak-anak muda untuk berbicara tentang budaya, HIV, dan lingkungan. Dengan begitu, mereka bisa lebih peka terhadap situasi di sekitarnya dan ikut mengambil bagian dalam membangun kesadaran bersama,” tutup Herman. (*)
Editor : Lucky Ireeuw