Lewat “Loyang di Tanah Goyang”, Pameran Seni Jadi Ruang Edukasi bagi Anak Muda Nabire

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 17:05 WIB
Salah satu karya yang dipamerkan di pameran Wallacea Biennale Nabire bertajuk “Loyang di Tanah Goyang”. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE)
Salah satu karya yang dipamerkan di pameran Wallacea Biennale Nabire bertajuk “Loyang di Tanah Goyang”. (CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Pengalaman dan ingatan tentang gempa bumi di Nabire dihadirkan melalui karya seni dalam Pameran Wallacea Biennale Nabire bertajuk “Loyang di Tanah Goyang”. Pameran ini menjadi ruang edukasi bagi anak muda untuk kembali mengenal kondisi wilayah tempat mereka tumbuh sekaligus membangun kesadaran tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa.

 

Pameran yang berlangsung 3–10 Oktober 2026 ini digelar di Jalan Pipit, Poros Jayaraya, Girimulyo, Nabire, Papua Tengah, tepatnya di samping Apotek Ohana. Pameran dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 22.00 WIT.

 

Kurator Wallacea Biennale Nabire, Fauzan Al Ayyuby, mengatakan, tema gempa diangkat untuk menghubungkan kembali generasi muda dengan pengetahuan tentang gempa bumi. Sebab, banyak anak muda saat ini lahir setelah peristiwa gempa besar yang pernah terjadi di Nabire sehingga tidak mengalami secara langsung dampak yang ditimbulkannya.

 

“Pameran ini mengangkat tema gempa, sebenarnya untuk menghubungkan ulang anak muda tentang pengetahuan soal gempa bumi. Karena banyak dari mereka di masa sekarang lahir ketika mereka tidak mengalami gempa besar dan segala macam yang mengakibatkan bangunan runtuh,” ujar Fauzan saat diwawancarai media ini di Gedung Pameran, Girimulyo, Nabire, Rabu (7/10/2026).

 

Menurut Fauzan, pengetahuan mengenai gempa perlu kembali diperkenalkan kepada anak muda agar mereka memahami kondisi wilayah tempat mereka tumbuh dan mampu mempersiapkan diri ketika bencana kembali terjadi.

 

“Kami ingin menghubungkan, memberi tahu kepada anak-anak muda bahwa di Nabire ini kamu tumbuh dengan tanah yang modelnya begini. Kemudian ketika itu terjadi, apa saja yang kemudian bisa memicu cara berpikir,” katanya.

 

Ia menjelaskan, kesiapsiagaan menghadapi gempa tidak hanya berkaitan dengan kondisi bangunan dan infrastruktur, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan serta kemampuan masyarakat bertahan hidup ketika akses distribusi terputus.

 

“Artinya, kita tidak lagi bertani karena soal ekonomi saja, tetapi juga soal kebutuhan mempersiapkan sesuatu yang terjadi,” jelasnya.

 

Pameran ini menghadirkan sejumlah seniman dari Nabire dan Jayapura. Mereka yakni Belandina Yeimo (Nabire), Febriany Ashari (Jayapura), Fransiskus Yogi dari Kolektif Stereo (Nabire), Julio Christopher Bunnu’ dari Indonesia Art Movement (Jayapura), Jhon Anes Ukago dari Kolektif Stereo (Nabire), Qalmi Nurqalbi (Jayapura), serta Wiwith (Nabire).

 

Keterlibatan para seniman tersebut menjadi bagian dari upaya menyampaikan isu kebencanaan melalui pendekatan seni yang dinilai lebih dekat dengan kehidupan dan minat anak muda.

 

 

Fauzan menjelaskan, judul “Loyang di Tanah Goyang” merupakan metafora yang diambil dari pengalaman masyarakat ketika menghadapi situasi pascagempa.

 

“Loyang itu kami pinjam dari metafora. Ada mama satu yang merelakan hasil kebunnya untuk dimakan bersama tetangga-tetangganya ketika gempa secara gratis,” tuturnya.

 

Menurutnya, pengalaman tersebut menggambarkan pentingnya solidaritas dan ketahanan pangan ketika terjadi bencana. Sebab, gempa tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga dapat menghambat masuknya pasokan kebutuhan pokok.

 

“Jadi mereka yang tidak menanam dan apa pun itu bisa ikut bertahan hidup karena ada makanan. Ketika gempa terjadi, dermaga putus dan lain sebagainya, tidak ada pasokan makanan. Mereka harus bertahan minimal beberapa hari ke depan untuk hidup,” jelasnya.

 

Selain pengalaman masyarakat, pameran ini juga mengangkat pengalaman personal dan trauma yang muncul akibat gempa, terutama terhadap bangunan-bangunan tinggi di Kota Nabire.

 

“Secara pribadi, misalnya saya sendiri punya trauma terhadap bangunan-bangunan tinggi yang ada di kota. Secara naluriah ketika melihat bangunan yang tinggi, karena kita pernah melihat bangunannya waktu itu, namanya Alta kalau tidak salah, gedung yang rubuh tahun 2004,” katanya.

 

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari pertanyaan yang ingin dibawa melalui karya seni, terutama di tengah semakin banyaknya bangunan bertingkat di Nabire.

 

“Sekarang banyak sekali bangunan tingkat dua di kota. Kami hanya mempertanyakan apakah itu…” ujarnya.

 

 

Lebih lanjut, Fauzan berharap pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga menjadi ruang sosialisasi dan edukasi kebencanaan bagi anak muda, khususnya pelajar.

 

Menurutnya, pendekatan melalui seni dipilih karena dinilai lebih dekat dengan kehidupan dan minat anak muda, sehingga pengetahuan mengenai gempa dapat disampaikan dengan cara yang lebih mudah diterima.

 

“Sebenarnya harapan kami ini karena penyajiannya dengan karya seni itu sebenarnya hal-hal yang dekat dengan anak muda. Jadi kami bayangkan sebenarnya pengetahuan ini sampai ke anak muda. Karena ini adalah hal-hal yang mereka sukai, seni dan lain-lain sebagainya. Makanya metode ini kami pakai,” ujarnya.

 

Ia berharap lebih banyak anak muda dan pelajar datang mengunjungi pameran tersebut. Terlebih, menurutnya, sosialisasi mengenai gempa dan kebencanaan di sekolah saat ini sudah tidak lagi dilakukan secara rutin.

 

“Kami sebenarnya berharap banyak ada anak muda yang datang karena sosialisasi ini sudah tidak terjadi lagi di sekolah. Sosialisasi gempa dan segala macam sudah tidak terjadi. Jadi kami berharap ini juga jadi ruang sosialisasi kepada anak-anak sekolah untuk datang dan lain sebagainya,” katanya.

 

Pameran Wallacea Biennale Nabire “Loyang di Tanah Goyang” berlangsung hingga 10 Oktober 2026 dan dibuka setiap hari mulai pukul 11.00–22.00 WIT di Girimulyo, Nabire, Papua Tengah. (*)

Editor : Lucky Ireeuw
seniman NABIRE