CEPOSONLINE.COM, NABIRE – Seorang mama memeluk anaknya di tengah keadaan yang tidak mudah. Di tangannya ada noken, sementara kehidupan di sekitarnya digambarkan melalui tanaman dan ruang pekarangan rumah.
Bagi seniman Belandina Yeimo, gambaran itu bukan sekadar tentang seorang ibu dan anak. Ada cerita tentang seorang mama yang tetap memikirkan kebutuhan keluarganya, bahkan ketika dirinya sendiri berada dalam keadaan terhimpit.
Pesan tersebut dituangkan Belandina melalui lukisan “Yang Tersisa, Menopang Kehidupan (What Remains, Sustains)”, salah satu dari dua karyanya yang dipamerkan dalam “Loyang Tanah Goyang: Tak Ada Laut Yang Tak Berombak” di Nabire.
Karya keduanya berjudul “Serumpun Pertahanan (A Clump of Resilience)”. Dua lukisan itu sama-sama berbicara tentang ketahanan, tetapi dari sisi yang berbeda: bagaimana keluarga bertahan dengan apa yang tersedia di sekitarnya dan bagaimana sesuatu yang sederhana dapat menjadi pegangan ketika bencana datang.
Saat ditemui di lokasi pameran, Rabu (7/10/2026), Belandina menjelaskan, Yang Tersisa, Menopang Kehidupan berangkat dari bayangannya tentang kondisi masyarakat setelah gempa, ketika berbagai akses kehidupan tiba-tiba terputus.
“Ini bercerita tentang keadaan setelah gempa. Otomatis segala sesuatu yang ada di sekitar kita, termasuk rumah ataupun akses berbelanja, segala sesuatu, transportasi bakal terputus,” ujar Belandina.
Ketika akses transportasi dan pasar terganggu, kebutuhan paling dasar pun menjadi persoalan. Makanan yang biasanya mudah diperoleh dari luar tidak lagi mudah didapat.
“Karena semua akses terputus, makanan dan segala macam otomatis susah untuk didapat. Jadi jalan satu-satunya yang dilakukan adalah mencari apa yang ada di sekitar pekarangan rumah,” katanya.
Pekarangan kemudian menjadi ruang penting dalam karya tersebut. Ubi, pisang, sayuran dan tanaman lain yang tumbuh di sekitar rumah, menurut Belandina, dapat menjadi sumber kehidupan ketika masyarakat harus bertahan dalam situasi darurat.
“Ini menunjukkan bahwa apa yang ada di sekitar pekarangan rumah seperti tumbuh-tumbuhan, ubi, pisang, sayur, segala sesuatu yang ada di sekitar rumah itu juga ada,” jelasnya.
Namun, di tengah gambaran tentang tanaman dan lingkungan itu, ada sosok mama yang menjadi bagian penting dari cerita.
Belandina mengatakan, mama dalam lukisan tersebut menggambarkan sosok yang selalu memikirkan keluarga. Ketika sesuatu terjadi, kekhawatiran seorang mama bukan hanya untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika berada dalam kondisi terhimpit, ia masih memikirkan anak dan kebutuhan seluruh keluarga, termasuk makanan.
“Di karya yang mama memegang anak dan noken itu, saya mau berpesan bahwa di tengah situasi yang tidak baik pun mama tetap memikirkan makan semua keluarga. Mama tidak pernah berjuang untuk perutnya saja, tapi untuk semua orang,” ungkapnya.
Sosok mama yang memegang anak menjadi gambaran tentang perlindungan sekaligus tanggung jawab. Anak menjadi bagian dari kehidupan yang harus dijaga, sementara noken yang dibawa mama menggambarkan kebutuhan yang tetap harus dipikirkan, termasuk makanan bagi keluarga.
Noken dalam karya itu juga memiliki akar budaya yang kuat. Belandina mengaku terinspirasi dari Owadaa dalam budaya Suku Mee.
“Mengapa juga saya bawa simbol noken ini? Ini terinspirasi dari Owadaa, dari budaya Suku Mee. Karena dari dulu kita selalu menjunjung yang namanya bercocok tanam di sekitar pekarangan rumah,” ujarnya.
Karena itu, noken dalam lukisan tersebut tidak hanya hadir sebagai simbol budaya. Ia juga menjadi bagian dari cerita tentang kehidupan, tentang membawa kebutuhan keluarga dan tentang bagaimana manusia memanfaatkan apa yang tersedia dari lingkungan di sekitarnya.
Bagi Belandina, kebiasaan bercocok tanam di sekitar rumah merupakan bagian dari pengetahuan dan kehidupan yang seharusnya tetap dijaga. Namun, perkembangan zaman dan berbagai kemudahan membuat kebiasaan itu perlahan mulai ditinggalkan.
“Tapi karena kemajuan dan lain sebagainya, kemudahan, banyak hal yang memanjakan kita, sehingga rasa untuk tetap melihat kiri kanan kita, bercocok tanam ataupun usaha-usaha itu sudah tidak ada,” katanya.
Padahal, apa yang hari ini dianggap tidak penting atau tidak diperlukan, menurut Belandina, bisa menjadi sangat berarti ketika keadaan berubah.
“Lewat pesan ini saya mau sampaikan bahwa apa yang kita rasa tidak perlu ataupun sudah dimanjakan dan hal-hal yang sebenarnya itu membunuh kita punya keinginan,” tuturnya.
Karena itu, ia ingin masyarakat kembali melihat pekarangan sebagai bagian dari ruang kehidupan yang perlu dirawat dan dimanfaatkan.
“Saya ingin memberikan pesan bahwa tetap, meskipun tidak diperlukan saat ini, tapi itu harus perlu sekali. Penting untuk tetap bekerja, untuk bercocok tanam sekitaran rumah,” lanjutnya.
Pesan tentang ketahanan itu kemudian berlanjut pada karya kedua, “Serumpun Pertahanan”.
Dalam karya ini, Belandina menghadirkan sosok anak dan serumpun rumput. Jika pada karya pertama mama menjadi sosok yang menopang kehidupan keluarga, pada karya kedua anak digambarkan berusaha bertahan dengan memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitarnya.
Rumput dipilih bukan tanpa alasan.
Bagi Belandina, rumput merupakan sesuatu yang sederhana dan sering dianggap tidak penting. Dalam kehidupan sehari-hari, rumput dapat dengan mudah dicabut atau dibuang. Namun ketika bencana datang, sesuatu yang kecil itu dapat menjadi alat untuk bertahan.
“Yang sebelumnya kita lihat tidak begitu penting itu sebenarnya pada saat hal penting terjadi, contohnya bencana alam, sebenarnya hal-hal yang sebelumnya kita biarkan itu pada saat seperti itu kita perlukan,” jelasnya.
Ia kemudian menjelaskan bagaimana rumput dalam lukisan tersebut menjadi bagian dari pertahanan seorang anak ketika bencana terjadi.
“Contohnya kalau yang ini kan Serumpun Pertahanan. Ini rumput yang kecil yang kita rasa tidak terlalu penting, bahkan orang tidak ragu untuk cabut terus buang. Tapi pada saat bencana datang, anak ini malah memanfaatkan apa yang ada di sekitar dia menjadi tempat pertahanan buat dia,” katanya.
Rumput itu memang tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang mampu menyelamatkan anak dari bencana. Namun, keberadaannya dapat menjadi pegangan ketika seseorang berada dalam situasi genting.
“Meskipun rumput ini tidak menyelamatkan, tapi bisa jadi tempat pertahanannya,” ujarnya.
Gagasan tersebut juga terhubung dengan ingatan Belandina terhadap pesan orang tua yang pernah mengalami gempa pada masa lalu.
Ia mengatakan, orang tua dahulu selalu mengingatkan anak-anak tentang apa yang harus dilakukan ketika tanah mulai berguncang, termasuk mencari ruang terbuka dan memanfaatkan apa yang ada di sekitar sebagai pegangan.
“Orang tua, tahun 1980-an pernah terjadi bencana gempa. Terus pesan-pesan sebelum terjadi bencana itu orang tua selalu katakan, lari nanti sekitar lapangan. Kalau ada rumput, pegangan di situ,” tuturnya.
Pesan sederhana itu kemudian ia bawa ke dalam lukisannya.
“Jadi kalau misalnya di tanah kecil ini ada, lari keluar, terpegang sama rumput yang ada di sekitar. Jadi di situ dia tidak menyelamatkan, tapi bisa menjadi pertahanan,” katanya.
Kehadiran anak dalam karya tersebut juga memperlihatkan pentingnya mewariskan pengetahuan tentang lingkungan kepada generasi berikutnya. Anak tidak hanya menjadi sosok yang dilindungi, tetapi juga perlu dikenalkan dengan lingkungan dan diajarkan bagaimana memanfaatkan apa yang tersedia di sekitarnya.
“Kalau misalnya ada sekitaran rumah, ada anak-anak yang dimanfaatkan untuk menanami segala hal seperti itu, bersama keluarga sendiri,” ujarnya.
Dua lukisan Belandina kemudian bertemu pada satu pesan yang sama.
Di satu sisi, ada mama yang tetap memikirkan makanan dan kebutuhan seluruh keluarga meskipun dirinya sendiri berada dalam keadaan sulit. Ada anak yang berada dalam pelukannya, ada noken yang terhubung dengan budaya Suku Mee sekaligus kebutuhan keluarga, serta ada tanaman di pekarangan yang dapat menjadi sumber kehidupan ketika akses dari luar terputus.
Di sisi lain, ada anak yang berusaha bertahan dengan memanfaatkan rumput. Iya, sesuatu yang kecil dan sering diabaikan tetapi ia datang sebagai pegangan ketika bencana.
Bagi Belandina, semua itu menunjukkan bahwa ketahanan tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Ketahanan dapat tumbuh dari keluarga, dari seorang mama, dari kebiasaan bercocok tanam, dari tanaman di pekarangan, dari budaya yang diwariskan, bahkan dari rumput yang selama ini dianggap tidak berarti.
Melalui dua karyanya, Belandina seperti mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dan melihat kembali hal-hal yang selama ini ada begitu dekat dengan kehidupan.
Sebab ketika gempa datang, pasar mungkin tidak bisa dijangkau, transportasi bisa terputus dan berbagai kemudahan bisa hilang. Pada saat itulah manusia akan kembali kepada sesuatu yang paling dekat: keluarga, lingkungan, pengetahuan dan apa yang telah dipersiapkan sejak sebelum bencana terjadi.
Dan pesan Belandina pada akhirnya sederhana yakni jangan menunggu keadaan menjadi sulit untuk menyadari nilai dari sesuatu yang selama ini kita anggap kecil.
“Yang sebelumnya kita lihat tidak begitu penting itu sebenarnya pada saat hal penting terjadi, contohnya bencana alam, sebenarnya hal-hal yang sebelumnya kita biarkan itu pada saat seperti itu kita perlukan,” pungkas Belandina. (*)
Editor : Lucky Ireeuw