CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Kepala Suku Kamoro Provinsi Papua Tengah, Yance Yohanis Boyau, menegaskan komitmennya untuk mengembalikan nilai-nilai persaudaraan antara masyarakat Mee dan Kamoro yang diwariskan para leluhur. Ia juga siap mendorong penyelesaian persoalan di Kapiraya melalui pendekatan adat dan dialog bersama masyarakat kedua suku.
Hal tersebut disampaikan Yance kepada media ini usai dikukuhkan Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Jumat (18/9/2026).
Yance mengatakan, hubungan antara masyarakat Mee dan Kamoro sejak dahulu telah terjalin melalui persahabatan, hubungan kekerabatan, serta pemahaman terhadap batas wilayah adat masing-masing. Menurutnya, persoalan yang muncul saat ini perlu ditelusuri agar tidak merusak hubungan persaudaraan yang telah dibangun oleh para leluhur.
“Dari zaman dulu, kami tidak pernah ada masalah antara Mee dengan suku Kamoro. Tidak pernah ada cerita itu. Batas wilayah, orang Mee tahu dan orang Kamoro juga tahu,” kata Yance.
Ia menegaskan, sebagai Kepala Suku Kamoro yang baru dikukuhkan, dirinya akan berupaya turun langsung untuk mencari tahu akar persoalan di Kapiraya dan mendorong penyelesaian bersama masyarakat.
“Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Gubernur yang sudah mengakui dan mempercayakan saya sebagai Kepala Suku Kamoro. Saya akan turun untuk menyelesaikan persoalan ini dan mencari tahu siapa yang menjadi sumber masalahnya,” tegasnya.
Menurut Yance, aktivitas berkebun di wilayah adat harus tetap memperhatikan aturan dan mekanisme perizinan adat. Ia menjelaskan, masyarakat yang hendak berkebun di wilayah suku lain perlu terlebih dahulu meminta izin kepada kepala suku dan para pemangku adat setempat.
“Orang Kamoro, sepanjang ada laut atau sungai, itu tempat mencari makan. Sementara orang Mee, di mana ada tanah yang bisa digunakan untuk berkebun, pasti dia berkebun. Jadi siapapun yang mau masuk ke suatu tempat tidak boleh menerobos. Harus izin kepada kepala suku dan tua-tua adat,” jelasnya.
Ia mengaku prihatin terhadap persoalan yang berkembang dan berharap masyarakat Mee serta Kamoro dapat kembali duduk bersama untuk membicarakan persoalan berdasarkan sejarah dan batas wilayah adat yang telah diketahui sejak dahulu.
“Saya siap merangkul masyarakat Mee dan Kamoro di sana. Kita bicarakan kembali cerita awal kita. Sama-sama kita tahu batasnya. Kalau ada pihak yang memicu masalah, mari kita lacak bersama. Kalau ditemukan, harus diingatkan agar persoalan ini tidak dilanjutkan,” ujarnya.
Yance menargetkan persoalan Kapiraya dapat diselesaikan pada Oktober 2026. Ia menekankan pentingnya keterlibatan kepala suku dan para pemangku adat dalam proses penyelesaian tersebut.
“Harapan saya, kita harus sama-sama menjaga batas wilayah adat. Jangan sampai generasi kita ke depan mengalami persoalan yang sama. Target saya, Oktober sudah harus selesai masalah Kapiraya ini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Yance meminta pemerintah memberikan ruang kepada kepala suku dan tokoh adat untuk terlebih dahulu melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat di lokasi persoalan. Menurutnya, penyelesaian masalah di Papua perlu memperhatikan tradisi dan kebiasaan adat masing-masing suku.
Ia mengusulkan agar kepala suku Mee dan Kamoro bersama para tokoh adat turun ke lapangan untuk melakukan dialog dari hati ke hati sebelum pemerintah terlibat secara langsung.
“Saya sangat mengharapkan perhatian khusus dari pemerintah. Tolong dorong kami, pihak kepala suku, terlebih dahulu ke lokasi. Kami akan datang dan melakukan penggalangan bersama masyarakat sesuai dengan tradisi budaya adat masing-masing. Kebiasaan Mee seperti apa, kebiasaan Kamoro seperti apa, kita bicarakan dari hati ke hati. Setelah itu, baru kita undang pemerintah,” katanya.
“Kalau pemerintah langsung mengambil alih, menurut saya, itu bisa bubar jalan. Tidak bisa terhubung dengan masyarakat,” lanjut Yance.
Kembalikan Persaudaraan Warisan Leluhur
Yance juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan yang diajarkan para leluhur serta tokoh agama di wilayah pesisir Papua Tengah.
Ia menyebutkan, masyarakat di wilayah pesisir mayoritas beragama Kristen Katolik dan memiliki sejarah panjang dalam penyebaran agama serta hubungan sosial antarsuku.
“Di daerah pesisir, rata-rata masyarakat beragama Kristen Katolik. Bapak saya adalah seorang misionaris lokal yang membangun gereja di Mogodagi dengan kayu buah. Saya juga dibesarkan oleh bapak yang merupakan guru katekis,” tuturnya.
Yance menegaskan bahwa ajaran agama mengajarkan umat untuk menjaga kehidupan manusia, tidak mengambil hak orang lain, serta menghindari tindakan kekerasan.
“Kita diajarkan melalui Sepuluh Perintah Allah bahwa mengambil hak orang lain, mencuri saja tidak boleh, apalagi membunuh. Karena itu, kita harus kembali kepada ajaran orang tua kita dulu yang mengajarkan untuk menjaga kemanusiaan dan tidak melakukan bentrokan,” katanya.
Ia juga mengenang hubungan persaudaraan yang pernah terjalin antara masyarakat Mee dan Kamoro, termasuk melalui pertukaran budaya, makan bersama, dan hubungan kekerabatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Yance menyebut sosok Tete Auki Tekege sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan antara masyarakat Mee dan Kamoro.
“Saya akui Tete Auki itu bisa saya katakan seperti PBB. Istrinya ada di Kamoro, ada mama Kamark dan ada Mama Mee juga. Dia benar-benar bekerja keras untuk persatuan ini,” ujarnya.
Menurut Yance, tradisi saling berbagi dan hidup berdampingan yang diwariskan para leluhur harus kembali dihidupkan. Ia berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang dapat merusak hubungan persaudaraan.
“Budaya ini harus kami kembalikan. Jangan sampai kebablasan. Kita kembalikan budaya untuk akur, kompak, dan makan bersama, karena kita tahu batas-batasnya. Pada zaman orang tua dulu, tidak ada tindakan kasar terhadap sesama,” tegasnya.
Ia juga menyoroti minuman keras (miras) sebagai salah satu faktor yang dapat memicu tindakan kekerasan di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengajak para tokoh adat dan masyarakat untuk bersama-sama mencegah persoalan sebelum berkembang menjadi konflik.
“Jangan mengambil keputusan sendiri. Kita panggil dulu tua-tua adat, orang-orang yang kuat, lalu kita bicarakan bersama. Panggil masyarakat Mee dan Kamoro, duduk dan bicara. Orang tua dulu melakukan hal seperti itu. Sekarang kita harus menjaga agar tetap kompak,” pungkasnya.
Yance menambahkan, sejarah perjalanan misi gereja di wilayah tersebut juga menjadi bagian dari hubungan panjang masyarakat Mee dan Kamoro. Ia berharap sejarah tersebut dapat menjadi pengingat bagi generasi saat ini untuk menjaga persatuan dan menghindari konflik antarsuku.
“Jalan misi itu orang membawa agama ke Mapia. Bapak saya juga mendapat tugas pertama di sana. Jadi, orang yang mengetahui sejarah itu pasti tahu bahwa kita tidak pernah bermasalah dengan Mee. Kita harus kembali melihat sejarah dan hubungan yang sudah dibangun oleh orang tua kita,” tutupnya. (*)
Editor : Weny Firmansyah