CEPOSONLINE.COM, NABIRE — Di tengah aktivitas Pasar Oyehe yang mulai ramai, Mama Aji tetap setia menunggu pembeli di balik dagangan sirihnya. Namun, belakangan ini ada yang berbeda. Harga sirih yang dijualnya ikut naik, membuat pedagang kecil seperti dirinya harus menghadapi keluhan pembeli sekaligus biaya modal yang semakin tinggi.
Mama Aji mengatakan, sirih Nabire saat ini dibeli pedagang langsung dari kebun dengan harga sekitar Rp700.000 per kilogram. Setelah dibawa ke pasar, sirih tersebut dijual kembali kepada pembeli dengan harga sekitar Rp800.000 per kilogram.
“Kalau sirih Nabire sekarang Rp800.000. Dari kebun kami ambil Rp700.000,”kata Mama Aji kepada media di Pasar Oyehe, Rabu (16/9/2026).
Kenaikan harga tersebut, kata dia, sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Ia menduga salah satu penyebabnya adalah kondisi kemarau yang membuat tanaman sirih di sejumlah kebun mengalami kerusakan bahkan mati.
“Sudah sebulan lebih sirih naik. Mungkin karena kemarau, sirih banyak yang mati,” ujarnya.
Kenaikan harga itu kini juga terasa dalam penjualan eceran. Untuk sirih berukuran pendek, lima biji dijual sekitar Rp20.000, sedangkan sirih berukuran panjang dijual Rp50.000 untuk 10 biji.
Bagi pembeli, perubahan harga tersebut tentu terasa. Dengan uang yang sama, jumlah sirih yang diperoleh menjadi lebih sedikit. Mama Aji pun mengaku kerap mendapat keluhan dari ibu-ibu yang datang membeli.
“Kadang ibu-ibu marah karena sedikit, karena harga mahal,” tuturnya.
Namun, bagi pedagang, harga tinggi juga menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan keuntungan di tengah naiknya harga beli. Mama Aji mengatakan, ketika harga sirih mahal, pedagang masih bisa memperoleh sedikit keuntungan. Sebaliknya, ketika harga murah, keuntungan semakin kecil dan dagangan belum tentu habis terjual.
“Kalau mahal begini ada dapat sedikit. Kalau murah kadang tidak dapat apa-apa, bahkan kadang tidak laku,” katanya.
Di sisi lain, pedagang juga harus menanggung biaya dan jarak untuk mendapatkan sirih dari kebun. Kondisi tersebut membuat Mama Aji tidak bisa begitu saja menurunkan harga jual meskipun memahami keluhan pembeli.
Persoalan lainnya adalah sirih tidak bisa disimpan terlalu lama. Jika pembeli sepi, dagangan berisiko rusak dan akhirnya tidak bisa dijual kembali. Karena itu, pedagang harus memperhitungkan dengan cermat antara harga beli, harga jual, biaya membawa dagangan, dan risiko sirih rusak.
Meski berada dalam situasi serba sulit, Mama Aji memilih tetap bertahan berjualan. Setiap hari ia membawa sirih ke Pasar Oyehe dengan harapan dagangannya habis dan bisa membawa pulang hasil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia berharap kondisi kemarau segera berakhir agar tanaman sirih kembali tumbuh dan pasokan dari kebun kembali normal. Dengan begitu, harga sirih diharapkan dapat kembali lebih terjangkau bagi pembeli, sementara pedagang tetap memperoleh keuntungan dari hasil jualannya.
“Harapan saya, sirih kembali banyak supaya harga jangan terlalu mahal. Kalau murah, pembeli senang, kami juga bisa tetap jualan dan dapat hasil,” harap Mama Aji. (*)
Editor : Lucky Ireeuw