BMKG Deteksi 240 Titik Panas di Papua Tengah, Nabire Terbanyak

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 04:11 WIB
Ilustrasi Titik Panas. (ISTIMEWA)      
Ilustrasi Titik Panas. (ISTIMEWA)      

CEPOSONLINE.COM,NABIRE-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 240 titik panas (hotspot) terdeteksi di Provinsi Papua Tengah selama periode pemantauan 19-20 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan sebaran hotspot terbanyak, yakni mencapai 126 titik.

Forecaster atau Prakirawan BMKG Nabire, Eusebio mengatakan, data tersebut merupakan hasil pemantauan hotspot menggunakan sejumlah satelit penginderaan jauh pada periode 19 hingga 20 Agustus 2026.

“Untuk periode 19 sampai 20 Agustus 2026, di Provinsi Papua Tengah terpantau sebanyak 240 titik hotspot. Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 126 titik,” ujar Eusebio kepada media, Kamis (20/8/2026).

Berdasarkan tingkat kepercayaannya, dari total 240 hotspot tersebut, sebanyak 23 titik atau 9,58 persen berada pada tingkat kepercayaan rendah, 201 titik atau 83,75 persen tingkat kepercayaan sedang, dan 16 titik atau 6,67 persen tingkat kepercayaan tinggi.

“Untuk Nabire sendiri, dari 126 titik hotspot yang terpantau, sebanyak 18 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 103 titik tingkat kepercayaan sedang dan lima titik tingkat kepercayaan tinggi,” jelasnya.

Eusebio menyebutkan, hotspot di Kabupaten Nabire tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya Dipa, Nabire Barat, Wanggar, Yaro, Yaur, Makimi, Menou, Teluk Kimi dan Uwapa.

Sementara itu, setelah Nabire, jumlah hotspot terbanyak berikutnya terpantau di Kabupaten Dogiyai sebanyak 41 titik, Paniai 34 titik, Intan Jaya 17 titik, Puncak 13 titik dan Deiyai sembilan titik. Sedangkan Mimika dan Puncak Jaya tidak terdeteksi hotspot dalam periode pemantauan tersebut.

“Sebaran hotspot ini perlu menjadi perhatian bersama. Namun, hotspot yang terdeteksi melalui satelit belum serta-merta berarti telah terjadi kebakaran. Tetap diperlukan verifikasi di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” katanya.

Ia menjelaskan, tingkat kepercayaan dalam data hotspot menunjukkan tingkat keyakinan terhadap hasil deteksi satelit. Semakin tinggi tingkat kepercayaan, semakin besar tingkat keyakinan terhadap adanya titik panas yang terdeteksi.

Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat maupun instansi pemerintah terkait untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang memiliki sebaran hotspot cukup tinggi.

“Masyarakat dan instansi pemerintah yang berwenang kami imbau untuk selalu waspada dan siaga mengantisipasi dampak maupun kerugian dari sebaran hotspot yang terpantau,” ujar Eusebio.

Ia juga meminta masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dan hotspot yang dikeluarkan BMKG sebagai langkah antisipasi dini.

“Masyarakat dapat memperhatikan update informasi hotspot dari BMKG setempat sehingga apabila terdapat potensi kebakaran dapat segera diantisipasi dan ditindaklanjuti,” pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
NABIRE BMKG