Mubes Enam Suku di Nabire Jadi Momentum Kebangkitan Masyarakat Adat

Theresia F. Tekege • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 15:01 WIB
Anggota DPR Papua Tengah, Stella Misiro(CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 
Anggota DPR Papua Tengah, Stella Misiro(CEPOSONLINE.COM/THERESIA F. TEKEGE) 

CEPOSONLINE.COM, NABIRE-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua Tengah, dari Kursi Pengangkatan, Stella Misiro menyebut selama ini keberadaan enam suku sebagai pemilik hak ulayat di Kabupaten Nabire belum terlihat secara maksimal dalam berbagai kebijakan pembangunan. 

Hal itu disampaikan usai menghadiri pembukaan Mubes Masyarakat Adat Enam Suku Pesisir dan Kepulauan yang berlangsung di Pantai Menase, Nabire, Kamis (30/7/2026).

Stella mengatakan dirinya hadir sebagai wakil masyarakat adat dari Suku Mora, yang merupakan salah satu dari enam suku pesisir dan kepulauan di Kabupaten Nabire.

Menurutnya, Mubes tersebut menjadi tonggak kebangkitan masyarakat adat pesisir dan kepulauan setelah sekian lama berjalan sendiri-sendiri dalam memperjuangkan hak dan kepentingannya.

“Seperti yang disampaikan salah satu kepala suku dalam sambutannya, hari ini merupakan kebangkitan bagi enam suku yang ada di Kabupaten Nabire. Kami berharap musyawarah besar ini dapat melahirkan kebijakan-kebijakan yang memberikan perlindungan dan keberpihakan kepada masyarakat adat,” kata Stella.

Sebagai wakil rakyat dari jalur pengangkatan, Stella menegaskan pihaknya siap mengawal seluruh rekomendasi yang dihasilkan dalam Mubes tersebut agar dapat ditindaklanjuti di tingkat legislatif.

“Kami akan terus mengawal hasil-hasil musyawarah ini, baik di DPR Kabupaten maupun DPR Papua Tengah, sehingga rekomendasi yang lahir tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi dapat diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang berpihak kepada masyarakat adat,” tegasnya.

Ia juga berharap Musyawarah Besar Enam Suku tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi dapat dilaksanakan secara berkala sebagai wadah memperkuat komunikasi dan menyatukan aspirasi masyarakat adat pesisir dan kepulauan.

“Kurang lebih selama puluhan tahun enam suku ini berdiri sendiri-sendiri. Melalui musyawarah ini kita duduk bersama, makan bersama, dan menyatukan pikiran”

“Kalau selama ini ada tembok-tembok yang memisahkan, maka tembok itu harus diruntuhkan agar lahir persatuan yang menjadi kekuatan baru bagi enam suku pesisir dan kepulauan di Kabupaten Nabire,” pungkasnya. (*)

Editor : Elfira Halifa
Papua Tengah Ceposonline.com NABIRE Masyarakat adat