CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Praktik ketidakpatuhan pasien malaria dalam mengonsumsi obat secara tuntas masih terus berulang di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Anggapan bahwa pengobatan malaria cukup berhenti saat gejala klinis membaik memang masih mengakar di sebagian masyarakat.
Sebagian besar warga di Mimika yang pernah menderita sakit malaria kerap menghentikan pengobatan Primaquine—yang populer dengan sebutan obat cokelat—sebelum batas waktu yang ditentukan tenaga medis.
Padahal, kebiasaan memutus dosis ini berpotensi memicu kekambuhan berulang dan mengancam target eliminasi malaria daerah pada 2030.
Sikap abai masyarakat dalam menuntaskan terapi obat cokelat ini direspons tegas oleh otoritas kesehatan setempat.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Marcelino Mameyau, mengingatkan bahwa Primaquine berfungsi membasmi parasit malaria fase laten (seperti hypnozoite pada Plasmodium vivax) yang bersembunyi di organ hati.
Jika konsumsi obat terhenti di tengah jalan, parasit sisa tersebut dipastikan gagal dimusnahkan secara optimal.
Dampak fatalnya, parasit akan kembali aktif dan menyebabkan pasien mengalami kekambuhan (relaps) secara berulang.
“Obat harus dihabiskan agar parasit tidak berkembang lagi,” jelas Marcelino, saa dihubungi via telepon, Jumat (16/10/2026).
Maraknya penghentian obat secara sepihak ini menegaskan mendesaknya langkah edukasi yang lebih masif dan terstruktur dari Dinas Kesehatan Mimika.
Kepatuhan penuh masyarakat terhadap petunjuk medis menjadi fondasi vital, mengingat Kabupaten Mimika tengah berpacu dengan tenggat waktu menuju target eliminasi malaria nasional pada 2030 mendatang. (*)