CEPOSONLINE.COM, MIMIKA-Di pelataran Graha Eme Neme Yauware, harum sangrai biji kopi mengepul lembut, meliuk di antara keramaian Bazar dan Festival UMKM dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika, Kamis (8/10/2026).
Di balik meja stannya, Alexander Giban berdiri penuh konsentrasi. Memakai kemeja bermotif batik warna terakota dengan rambut berkepang rapi, jemarinya sigap memegang portafilter di depan mesin espresso Ferratti Ferro berselimut stainless mengkilap.
Di hadapannya, seorang pembeli wanita bergaun merah muda menanti gumpalan aroma pahit-manis yang sebentar lagi mewujud dalam cangkir.
Bagi Alexander, kedai mungil bertajuk AO-Naro14 Coffee & Roastery yang beralamat di Jalan Sosial, Kelurahan Kebun Sirih, Distrik Mimika Baru ini bukan sekadar urusan menepis dahaga.
Lewat racikan kopi Arabika dari lereng gunung kampung halamannya di Wamena, pria yang juga berprofesi sebagai engineer Elektro lulusan USTJ Jayapura ini sedang merajut jalan mandiri bagi anak-anak muda Papua.
Langkah Alexander bersentuhan dengan duniakopi sejatinya bermula dari kebiasaan sederhana sekitar tiga tahun silam.
Sebagai penikmat, ia kerap membawa biji kopi asli Wamena kiriman orang tuanya ke tempat kerja. Keharuman kopi gunung itu rupanya memikat rekan-rekan dan atasannya.
"Atasan bilang, 'Coba usaha saja, boleh.' Nah, itu buat saya semangat," ujar Alexander mengenang masa awal usahanya.
Bermodal dorongan tersebut, ia mulai memesan green beans dari tanah kelahirannya, meminjam mesin pemanggang milik kenalan, lalu mengemasnya dengan merek sendiri untuk dijual di lingkungan kantor. Keuntungan yang terkumpul ia tabung sedikit demi sedikit.
Ketika celengan modalnya kian menggelembung, ia memberanikan diri membeli mesin roasting sendiri, membuka jasa pemanggangan bagi kafe-kafe lokal, hingga akhirnya melengkapi perlengkapan dengan mesin espresso dan grinder untuk meluncurkan kedai mininya pada 10 Agustus lalu.
“Aonare”: Mengikat Kawan, Mengangkat Tanah Sendiri
Nama Aonare dipetik dari kehangatan tutur lokal yang menyiratkan sapaan karib: "Ko itu saya punya teman."
Melalui pertemanan dan cita rasa itulah Alexander membidik peluang pasar di Timika—kota industri yang dipadati perantau dan penikmat kopi dari pelbagai penjuru.
Namun, lebih dari sekadar hitung-hitungan profit, ada kebanggaan identitas yang ia perjuangkan. Alexander ingin anak-anak asli Papua tampil di garda depan mengelola hasil bumi mereka sendiri tanpa bergantung pada perantara.
"Nilai jualnya sangat beda kalau kita orang asli yang punya tanah dan kebun sendiri yang menjelaskan. Kita tahu persis situasi petani dan asal-usul kopinya secara natural," ungkapnya dengan nada mantap.
Semangat itu pula yang mendorongnya membuka ruang bagi pemuda Papua yang belum memiliki pekerjaan.
Ia tak berburu barista bermerek yang sudah berpengalaman. Alexander memilih membagikan ilmunya dari nol kepada anak-anak muda yang sedang menganggur agar mereka memiliki keahlian dan keberanian untuk mandiri.
"Saya tidak cari orang yang sudah pro. Dari ilmu yang kita berikan, mereka dapat pengalaman dan bisa buka usaha sendiri. Itu target saya," tuturnya.
Menjaga Konsistensi, Melawan Patah Semangat
Berbisnis di tengah persaingan kota tak lantas berjalan mulus. Bagi Alexander, mengendalikan arus kas dan menjaga kualitas biji terbaik adalah harga mati agar pelanggan selalu rindu untuk kembali.
Namun, ujian terberat sesungguhnya adalah konsistensi dan keberanian melawan gengsi.
"Pesan saya untuk anak muda Papua, yang penting tidak gengsi. Ada modal sedikit, ambil risiko. Ada pembeli atau tidak, tetap konsisten dan semangat. Di situ cara kita melawan rasa malas," tegasnya.
Melalui ruang-ruang festival seperti pameran UMKM di Graha Eme Neme Yauware, Alexander Giban terus menyeduh asanya.
Ke depan, ia bermimpi memiliki kedai permanen di tepi jalan utama-bukan cuma untuk melebarkan sayap bisnis, melainkan demi menampung lebih banyak anak muda Papua untuk belajar, berkarya, dan berdaya di atas tanahnya sendiri.(*)
Editor : Elfira Halifa