CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Pihak kepolisian bergerak cepat mengusut bentrokan antarwarga yang terjadi di Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Polisi telah menangkap delapan orang yang diduga terlibat dalam aksi saling serang antara warga Kampung Fanamo dan Kampung Omawita.
Peristiwa bentrokan tersebut pecah pada Minggu, 4 Oktober 2026 sekitar pukul 22.00 WIT. Polisi langsung melakukan penyelidikan untuk meredam situasi dan menindak para pelaku.
“Kedelapan orang tersebut sudah kami amankan di Polsek Mimika Timur dan sedang dalam pemeriksaan,” kata Kapolsek Mimika Timur, Iptu Alex Soumilena saat dikonfirmasi, Rabu (7/10/2026).
Petugas juga sudah memeriksa lokasi kejadian dan menyita barang bukti yang dipakai saat bentrok, mulai dari busur panah, tombak, hingga pecahan kaca.
Polisi turut mendokumentasikan pagar SMP Negeri Omauga di Kampung Omawita yang rusak akibat bentrokan tersebut.
Pemicu bentrokan diduga berasal dari kesalahpahaman terkait keberadaan SMP Negeri Omauga. Sekolah ini berdiri di wilayah Kampung Omawita, sehingga sebagian warga Omawita menganggap bangunan itu hanya milik kampung mereka.
Padahal, fasilitas pendidikan tersebut digunakan bersama oleh anak-anak dari Kampung Omawita maupun Kampung Fanamo.
“Sekolah itu berdirinya di Kampung Omawita jadi masyarakat sekitar menganggap sekolah itu milik mereka. Padahal anak-anak dari kedua kampung sekolah di situ,” ujarnya.
Perselisihan ini bermula dari saling ejek yang memicu pertengkaran antarorang tua. Suasana kian memanas hingga akhirnya menyeret warga dari kedua kampung ke dalam aksi saling serang.
“Jadi awalnya itu ribut antar orang tua sampai kemudian melibatkan warga kampung setempat, baik dari Omawita maupun Fanamo,” ujar Alex.
Bentrokan tersebut mengakibatkan sejumlah warga mengalami luka akibat terkena anak panah. Para korban langsung mendapat pertolongan medis tidak lama setelah kejadian.
“Korban yang terkena anak panah sudah mendapatkan perawatan di puskesmas setempat,” katanya.
Dampak bentrokan ini merembet ke pelayanan publik di wilayah Mimika Timur Jauh. Para guru dan tenaga kesehatan memilih mengungsi sementara waktu karena alasan keselamatan.
Polisi kini memprioritaskan jalur damai dengan merangkul para tokoh masyarakat setempat. Kepala kampung dari Fanamo dan Omawita dipanggil untuk bermusyawarah mencari jalan keluar terbaik.
Meski polisi mendorong penyelesaian kekeluargaan, warga tetap membuat laporan polisi resmi untuk memproses kejadian ini secara hukum.
Polisi juga berencana melaporkan perkembangan kasus ini kepada Dinas Pendidikan serta Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika agar layanan sekolah dan puskesmas bisa segera kembali berjalan normal. (*)
Editor : Lucky Ireeuw