CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Gelombang aksi kekerasan menggunakan senjata tajam dan panah wayer menggegerkan Kabupaten Mimika, Papua Tengah, selama dua hari beruntun pada Sabtu dan Minggu, 26–27 September 2026.
Rangkaian insiden berdarah di beberapa titik ini menewaskan dua orang—termasuk seorang pelajar SMK—serta menyebabkan seorang siswa SMP kritis akibat luka tusuk di bagian kepala.
Kepolisian Resor (Polres) Mimika kini memperketat pengamanan dan mengintensifkan perburuan terhadap para pelaku yang belum teridentifikasi.
Pembunuhan Pria di Karang Senang
Eskalasi kekerasan bermula pada Sabtu sore, 26 September 2026, sekitar pukul 17.59 WIT. Jorianus Yolemal (25) alias J.Y, warga Jalan Maleo, Distrik Kwamki Narama, ditemukan tewas mengenaskan di semak-semak area Jalur Diponegoro tembusan Jiliale, kawasan SP 3, Karang Senang, Distrik Kuala Kencana.
Peristiwa ini terungkap setelah saksi berinisial D.Y.R (46) mendengar kegaduhan di depan rumahnya saat hendak menyalakan lampu.
"Saya mendengar suara sepeda motor dan teriakan 'aduh', kemudian ada suara orang berlari di depan rumah," ujar Kasi Humas Polres Mimika, Iptu Muhammad Amir Rado, mengutip keterangan saksi D.Y.R, Minggu (27/9/2026).
Khawatir akan keselamatan keluarganya, D.Y.R memadamkan lampu rumah dan membawa anak serta istrinya bersembunyi.
Ia kemudian meminta kontak kepolisian melalui grup WhatsApp jemaat gereja untuk menghubungi Kapolsek Kuala Kencana, AKP Djemi Reinhard.
Tim gabungan Polres Mimika yang dipimpin Wakapolres Kompol Jay Limbong, Kasat Reskrim AKP I Putut Yudha Pratama, dan Kapolsek Kuala Kencana langsung bergerak ke lokasi perkara. Saat penyisiran, petugas menemukan korban tergeletak tak bernyawa.
“Personel menemukan jenazah di semak-semak dengan kondisi meninggal dunia,” demikian keterangan Kasat Reskrim saat dikonfirmasi.
Olah tempat kejadian perkara (TKP) mengonfirmasi kondisi parah pada tubuh korban.
“Terdapat luka terbuka pada dada sebelah kanan dan 6 buah anak panah masih tertancap di tubuh korban,” ungkap Kasat Reskrim.
Polisi menyita barang bukti berupa tujuh anak panah, satu bilah parang, dompet, telepon seluler, KTP atas nama Jorianus Yolemal, serta kantong plastik berisi buah pinang, kaleng bir Bintang, dan botol air mineral.
Teror Panah Wayer Menargetkan Pelajar
Belum usai penanganan kasus di Karang Senang, teror jalanan kembali pecah di Jalan Cenderawasih, tepatnya di depan PT Petrosea Mimika, Minggu dini hari, 27 September 2026.
Dua orang pelajar menjadi sasaran penyerangan menggunakan senjata panah wayer oleh kelompok tak dikenal.
Serangan pertama terjadi sekitar pukul 23.30 WIT (Sabtu malam). Hikmah Baharado, siswa kelas 9 SMP Negeri 7, diserang saat berboncengan sepeda motor dari arah SP2 menuju Nawaripi.
Ketika melintas di kawasan Taman Bundaran Petrosea, kelompok pelaku melempari batu dan melepaskan panah wayer.
Hikmah baru menyadari anak panah tertancap di kepalanya saat tiba di persimpangan lampu merah Jalan Hasanudin–WR Soepratman, sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Sekitar pukul 00.20 WIT, serangan serupa memakan korban jiwa. Maiclalan Erens Jacop Koibur, siswa kelas X SMK Negeri 1 Kuala Kencana, disasar anak panah di lokasi yang sama hingga jatuh dari sepeda motornya.
Rekan korban sempat melarikan diri ke arah Timika untuk meminta pertolongan sebelum Maiclalan dievakuasi ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM).
Wakapolres Mimika, Kompol Jay Limbong, mengklaim jajarannya sebenarnya telah menyisir lokasi tersebut sebelum insiden terjadi.
Sekitar pukul 22.00 WIT, petugas sempat membubarkan kerumunan pemuda yang terindikasi hendak tawuran. Namun, laporan mengenai korban tergeletak baru diterima polisi sekitar pukul 01.00 WIT.
“Tim lalu lintas mendatangi TKP. Korban saat itu sudah terkapar di jalan dan langsung dievakuasi ke rumah sakit,” ujar Kompol Limbong di area Bundaran Petrosea, Minggu malam.
Maiclalan dinyatakan meninggal dunia di RSMM akibat luka panah parah di bagian dada, sedangkan Hikmah mendapat perawatan intensif atas luka tajam di kepala.
“Penyebab pasti kematian korban masih dalam penyelidikan lebih lanjut,” terang Wakapolres.
Penyelidikan dan Imbauan Polisi
Hingga berita ini diturunkan, Satuan Reskrim Polres Mimika masih mengumpulkan keterangan saksi, mengautopsi para korban, dan mendalami keterkaitan antar-insiden tersebut. Polisi belum merilis motif maupun identitas para terduga pelaku penyerangan.
Polres Mimika mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang, menghindari tindakan main hakim sendiri, serta tidak terprovokasi oleh isu-isu yang beredar di media sosial. Polisi berjanji mengusut tuntas rangkaian kasus pembunuhan dan penyerangan ini.(*)
Editor : Agung Trihandono