Kebakaran Hutan Papua Selatan Picu Kabut Asap di Timika, Penerbangan Terganggu

Wahyu Welerubun • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 09:56 WIB
Kondisi kabut di lintasan penerbangan Bandar Udara Mozes Kilangin Timika pada Senin (28/9/2026), ( CEPOSONLINE.COM/MOH WAHYU WELERUBUN).
Kondisi kabut di lintasan penerbangan Bandar Udara Mozes Kilangin Timika pada Senin (28/9/2026), ( CEPOSONLINE.COM/MOH WAHYU WELERUBUN).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Kabut asap pekat menyelimuti wilayah Timika dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir.

 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika mengungkapkan bahwa fenomena tersebut dipicu oleh maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Provinsi Papua Selatan, terutama Kabupaten Merauke.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin, Stevan, menjelaskan bahwa hasil pantauan satelit menunjukkan lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di wilayah Papua Selatan.

"Titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang mencapai 3.000 titik, sedangkan tingkat kepercayaan tinggi mencapai 200 titik," ujar Stevan saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026).

Ia memaparkan, pergerakan angin yang bertiup dari arah timur hingga tenggara membawa sebaran asap karhutla dari Merauke menuju kawasan pesisir selatan Papua. 

Dampak sebaran asap ini tidak hanya dirasakan warga Timika, tetapi juga meluas hingga ke Agats di Kabupaten Asmat serta Kabupaten Kaimana di Papua Barat.

Kepekatan asap turut memengaruhi jarak pandang (visibility) dan berpotensi mengganggu operasional penerbangan di Bandara Mozes Kilangin, terutama pada pagi hari.

"Jarak pandang berada di bawah 2.000 meter (2 km). Untuk pesawat berbadan besar, kondisi ini dapat memicu penundaan penerbangan (delay) atau pengalihan pendaratan (divert) ke bandara lain sambil menunggu visual membaik," kata Stevan.

Meski demikian, BMKG menegaskan batas aman penerbangan tetap mengacu pada regulasi maskapai dan koordinasi navigasi udara (Air Traffic Control/ATC). 

Informasi kondisi cuaca dan jarak pandang dari BMKG disalurkan secara berkala ke pemandu lalu lintas udara sebagai acuan keselamatan pendaratan maupun lepas landas.

Stevan memproyeksikan potensi gangguan kabut asap ini masih dapat bertahan hingga akhir Oktober 2026. Hal tersebut disebabkan oleh konsistensi tiupan angin monsun timur, serta kebakaran lahan yang belum sepenuhnya padam di kawasan sumber api.

"Peralihan dari monsun timur ke monsun barat diprakirakan baru terjadi pada November hingga Desember. Selama angin masih bertiup dari timur dan karhutla terus berlangsung, asap diprakirakan tetap bertahan," tuturnya.

Selain ancaman asap, keterpaparan fenomena El Nino yang melanda wilayah Papua diperkirakan memperpanjang masa kekeringan hingga tahun depan. 

Cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang disertai angin kencang dan badai petir diprediksi baru berpotensi muncul pada masa peralihan musim sekitar Oktober akhir hingga November.

Di sektor perairan, BMKG mencatat ketinggian gelombang di Laut Arafuru wilayah luar muara berada pada kisaran 1,25 hingga 2,5 meter. Sementara itu, kondisi perairan di area dermaga dan pelabuhan relatif tenang dengan tinggi gelombang 0,1 hingga 0,5 meter.

Stevan menambahkan, tingkat kepekatan asap di wilayah pesisir seperti Poumako cenderung lebih tinggi dibandingkan kawasan perkotaan. Rimbunnya vegetasi hutan pesisir menahan partikel asap sehingga mengendap lebih lama di permukaan.

Mengantisipasi dampak kesehatan, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan atau menggunakan masker saat beraktivitas di ruang terbuka, serta menghemat penggunaan air bersih selama periode kekeringan berlangsung. (*)

Editor : Agung Trihandono
mimika Ceposonline.com karhutla