Jerat Ketakutan di Jila: Menanti Ruang Hidup yang Lapang di Bumi Papua

Wahyu Welerubun • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 15:52 WIB
Tokoh Masyarakat Jila, Yohanis Kibak. (Foto: Istimewa).
Tokoh Masyarakat Jila, Yohanis Kibak. (Foto: Istimewa). 

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Ketegangan menyelimuti Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pasca-peristiwa 17 Agustus 2026. Sembilan anak sekolah di bawah umur yang seluruhnya merupakan perempuan dilaporkan disita oleh kelompok bersenjata.

Dari jumlah tersebut, dua orang sempat melarikan diri, namun satu korban ditemukan meninggal dunia akibat kelaparan saat berjuang bertahan hidup di dalam hutan, sementara satu lainnya berhasil selamat dan berkumpul kembali dengan keluarganya.  

Yohanis Kibak, seorang tokoh masyarakat sekaligus mantan anggota DPRD asal Jila, mengungkapkan bahwa insiden ini telah memicu gelombang ketakutan yang masif. 

Sebanyak lima kampung di wilayah tersebut kini dilaporkan kosong karena ditinggal pergi oleh warganya yang mengungsi demi keselamatan diri. 

Kampung-kampung yang ditinggalkan itu meliputi Kampung Amuaogom, Kampung Bunaraugin, Kampung Elmakawia, Kampung Diloa, dan Kampung Pilikogom. 

Warga memilih mengungsi ke hutan atau meninggalkan kampung halaman lantaran dihantui rasa takut terhadap dinamika keamanan serta kehadiran pos-pos pengamanan aparat.  

​Di tengah situasi yang pelik ini, Yohanis mewakili suara warga mendesak pihak keamanan, khususnya TNI, Polri, serta jajaran Dandim dan Kapolres, untuk mengevaluasi penempatan pos-pos penjagaan baru di wilayah pedalaman. 

Ia meminta agar pos-pos yang berada jauh dari permukiman warga atau yang didirikan tanpa melibatkan aktivitas masyarakat untuk ditarik dan dipusatkan kembali di Distrik Jila. 

Menurutnya, keberadaan pos di luar kampung-kampung justru menciptakan kepanikan psikologis yang membuat warga tidak bisa berkebun atau menjalankan aktivitas harian secara normal.  

"Masyarakat mau beraktivitas seperti biasa, berkebun, dan berjalan antar-kampung, tapi di situ semua pos, jadi mereka takut," ujar Yohanis, Rabu (23/9/2026).  

Sebagai tokoh adat, Yohanis menekankan pentingnya ruang hidup yang selaras dengan tatanan adat istiadat setempat. 

Wilayah ulayat di sepanjang pegunungan Jila memiliki batas-batas marga dan suku yang jelas. Ketika ruang-ruang hidup ini terisolasi oleh ketakutan dan pos penjagaan, tatanan sosial masyarakat ikut lumpuh.  

Oleh karena itu, langkah pemulihan jangka pendek yang diharapkan masyarakat adalah penarikan pos-pos terisolasi agar warga dapat kembali ke kampung halaman. 

Langkah ini dinilai krusial agar komunikasi antara tokoh adat, keluarga, dan pihak keamanan dapat terjalin dengan baik demi memulangkan sisa anak-anak yang masih berada dalam penguasaan kelompok bersenjata. 

Yohanis percaya bahwa penyelesaian masalah ini harus mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan komunikasi kekeluargaan agar masa depan anak-anak di Jila dapat diselamatkan kembali ke bangku sekolah.

(*)

Editor : Lucky Ireeuw
jila mimika Ceposonline.com