CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Layanan kesehatan masyarakat di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, terancam terbengkalai usai para tenaga kesehatan (nakes) dievakuasi ke kota Timika.
Penarikan tenaga medis tersebut dipicu insiden kontak tembak antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata pada 17 Agustus 2026 yang menewaskan seorang prajurit TNI, Pratu Rizki Kurniawan.
Peristiwa mencekam tersebut menyisakan trauma psikologis berat bagi nakes, khususnya seorang petugas senior berpangkat mantri yang telah berulang kali bertugas di kawasan rawan konflik.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Goldfried Maturbongs membenarkan bahwa penarikan seluruh personel medis dari Puskesmas Jila merupakan langkah darurat demi keselamatan jiwa dan pemulihan kesehatan mental para nakes.
“Bukan baru sekali, nakes terkait telah berulang kali berada di wilayah yang kerap terjadi kontak tembak, sehingga berdampak pada mental. Hingga saat ini, nakes terkait mudah panik dan refleks mencari perlindungan ketika berada dalam situasi tertentu,” ungkap Godfried saat diwawancarai di Hotel Grand Tembaga, Timika, Jumat (11/9/2026).
Godfried menjelaskan, berdasarkan evaluasi klinis dan pemeriksaan medis mendalam yang melibatkan dokter spesialis kejiwaan, mantri tersebut dipastikan mengalami gangguan kecemasan pascatrauma (PTSD) dan wajib dipindahtugaskan dari daerah konflik.
“Satu orang nakes kita harus pindahkan ke tempat lain karena alami trauma atas kejadian di Jila. Itu juga berdasarkan hasil pemeriksaan dokter spesialis,” kata dia.
Hingga pertengahan September 2026, Dinkes Mimika belum mengirimkan kembali tim medis ke Distrik Jila. Ketidakpastian jaminan keamanan di wilayah pedalaman tersebut menjadi alasan utama belum dibukanya kembali fasilitas kesehatan tingkat pertama di sana.
Situasi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) krusial bagi Pemkab Mimika. Dinkes kini terus berkoordinasi intensif dengan Bupati Mimika Johannes Rettob dan aparat keamanan guna merumuskan skema pelayanan kesehatan alternatif agar hak dasar warga Jila tetap terpenuhi tanpa mempertaruhkan keselamatan nyawa para nakes.
“Sekarang belum ada yang dikembalikan, tapi kami terus berupaya agar layanan kesehatan di Jila bisa normal kembali,” pungkasnya.(*)