CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Lautan di perairan Muara Betsbamu, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, seolah mengamuk ketika perahu bermesin ketinting yang membawa delapan penumpang dihantam gelombang tinggi.
Di tengah ganasnya arus laut lepas, Sabastian Kamur (22) pasrah mengapung jam demi jam demi mempertahankan nyawa.
Sabastian merupakan satu dari tiga korban selamat dalam tragedi tenggelamnya perahu ketinting di Muara Betsbamu pada Sabtu sore, 5 September 2026.
Penyelamatan Sabastian bersama adiknya, Lina Kamur (20), oleh nelayan lokal pada Minggu pagi, 6 September 2026, menorehkan cerita perjuangan bertahan hidup yang kelam di perairan selatan Papua tersebut.
Menceritakan detik-detik mencekam saat insiden terjadi, Sabastian mengingat perahu yang mereka tumpangi bertolak dari wilayah Aci (Kali Wen) sekitar pukul 14.00 WIT dengan tujuan Distrik Kamur.
Jalur pelayaran yang diambil pengemudi perahu melintasi area tengah perairan, bukan di kawasan dangkal dekat pesisir.
Petaka datang tepat pukul 15.00 WIT. Saat perahu berada di pertengahan kali yang dalam, gelombang besar mendadak datang menghempas badan perahu hingga terbalik seketika.
"Dari pas kejadian kita dulu lompat satu tempat sama-sama. Karena saya berpikir ini punya anak kecil pas itu toh, pas kejadian," kata Sabastian mengenang momen panik tatkala seluruh penumpang terlempar ke laut lepas.
Sadar akan dalamnya perairan dan kencangnya hempasan arus, Sabastian serta adiknya membatalkan niat untuk berenang melawan arus menuju daratan.
Mereka memilih membiarkan tubuh mereka terbawa arus laut lepas sembari tetap berpegangan dan menjaga kepala di atas permukaan air.
"Kita berenang tidak jadi, mau berenang arah ke naik tidak jadi karena arus juga sudah terlalu kencang. Ya sudah arus bawa kita sampai di luar sana," tuturnya.
Terombang-ambing di tengah laut lepas selama lebih dari tiga jam, perjuangan Sabastian dan Lina berbuah manis saat arus laut mulai melandai pada petang hari.
Keduanya akhirnya berhasil menyusuri pinggiran pantai dan terdampar di daratan sekitar pukul 18.00 WIT.
Namun, rasa lega berhasil menjejakkan kaki di daratan sepi itu berganti dengan kecemasan mendalam.
Di tengah kegelapan hutan bakau dan pesisir Asmat, Sabastian berulang kali berteriak memanggil nama-nama kerabatnya, Anton Yod beserta istri dan anak-anaknya. Suara teriakan itu hanya dibalas oleh kesunyian malam.
"Setahu saya saudara dorang ini dorang terlempar di bagian sebelah sana... Terus berpikir itu bahwa dorang ini sudah mungkin dorang sudah sampai daratan duluan kah atau bagaimana. Kemarin saya juga makanya saya pikir dorang," ujar Sabastian dengan nada getir.
Setelah menghabiskan malam di daratan sepi, Sabastian dan Lina akhirnya diselamatkan oleh perahu nelayan setempat pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WIT dan dievakuasi ke Puskesmas Yow untuk penanganan medis.
Sabastian dan Lina menambah rekapitulasi korban selamat menjadi tiga orang. Korban pertama yang berhasil dievakuasi lebih awal yakni Ebestina Kuwaito (34) pada Minggu dini hari sekitar pukul 03.00 WIT.
Sabastian dan Lina Kamur sendiri ditemukan nelayan setempat pada pukul 06.00 WIT. Keduanya kemudian dievakuasi ke Puskesmas Youw, Asmat.
Hingga saat ini, lima penumpang lainnya masih dalam pencarian intensif tim SAR gabungan yang terdiri atas rescuer Pos SAR Asmat, personel TNI Angkatan Laut, serta Satpolairud Polres Asmat menggunakan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) 85 PK Basarnas.
Dua korban dewasa yang masih hilang adalah Anton Yod (35) dan Beni Kuwaito. Sementara tiga korban lainnya merupakan anak-anak, yakni Bela Yod (4), Tekla Yod (2), serta seorang bayi berusia enam bulan bernama Gilang Yod.
Operasi penyisiran terus dilakukan dengan memprioritaskan titik-titik hembusan arus Muara Betsbamu sebagaimana kesaksian para korban selamat, dengan harapan kelima korban hilang dapat segera ditemukan. (*)
Editor : Agung Trihandono