Cara Baru Kapolres Mimika Selesaikan Konflik: Serahkan Semua Alat Perang

Wahyu Welerubun • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 11:41 WIB
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak saat berjalan kaki mendatangi dan berdialog langsung dengan para tokoh adat serta Waimum kelompok bertikai di Distrik Kwamki Narama, Sabtu (5/9/2026). (Foto: CEPOSONLINE.COM/POLRES MIMIKA).
Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak saat berjalan kaki mendatangi dan berdialog langsung dengan para tokoh adat serta Waimum kelompok bertikai di Distrik Kwamki Narama, Sabtu (5/9/2026). (Foto: CEPOSONLINE.COM/POLRES MIMIKA).

CEPOSONLINE.COM, MIMIKA-Kapolres Mimika AKBP Alredo Agustinus Rumbiak menemui langsung dua kelompok masyarakat yang terlibat konflik sosial di Distrik Kwamki Narama.

 

Kedua pihak yakni kubu Noap Dang dan Newegalen. Ini dilakukan Sabtu (5/9/2026). 

 

Rombongan terlebih dahulu menyambangi kubu Noap Dang untuk berdialog dengan pimpinan perang (Waimum) dan para tokoh adat. 

 

Waimum kelompok Dang, Timo Wamang, menyatakan kesiapan pihak keluarga korban untuk mengakhiri perselisihan. 

 

"Kita siap ikuti dari pihak korban dan sekarang mereka sudah siap perdamaian, kita siap laksanakan semua," kata Timo Wamang.

 

Usai mendengar komitmen kubu Dang, Kapolres bersama rombongan berjalan kaki menuju titik kumpul kelompok Newegalen. 

 

Di hadapan petugas, Waimum kelompok Newegalen, Weni Kiwak, mengonfirmasi kesiapan pihaknya menghentikan pertikaian jika kubu lawan memiliki iktikad serupa.

 

"Jadi Noap bilang aman, di sini berarti tidak ada perang lagi," ujar Weni.

 

Alredo menetapkan satu syarat mutlak yang wajib dipenuhi, yakni penyerahan seluruh senjata tradisional kepada aparat keamanan untuk dimusnahkan. 

 

Alredo menolak tradisi simbolis patah panah yang dinilai kerap gagal menjamin berhentinya konflik jangka panjang.

 

"Tidak ada lagi patah panah, nanti ada masalah kamu perang lagi. Jadi semua, baik Dang maupun Newegalen, datang dan serahkan busur dan anak panah, parang, baru kita musnahkan semua," ungkap Alredo tegas.

 

Selain syarat penyerahan persenjataan, Alredo menegaskan tidak akan ada prosesi ganti rugi atau istilah bayar kepala oleh pemerintah dalam perdamaian ini.

 

"Jadi tidak ada pemerintah turun untuk bayar kepala, nanti kamu bikin perang lagi supaya dapat uang lagi. Kalau kalian damai nanti pemerintah datang masuk untuk buat program dan kehidupan kalian bisa berubah," tuturnya.

 

Wakapolres Mimika Kompol Jaihot Limbong mengultimatum kedua kelompok. 

 

"Serahkan semua atau kami akan melakukan razia sampai ke rumah-rumah," tegas Limbong.

 

Polres Mimika memberikan tenggat waktu bagi kedua kubu untuk memusyawarahkan mekanisme penyerahan persenjataan tersebut. 

 

Sementara itu, penyisiran dan pengamanan TNI-Polri di Distrik Kwamki Narama tetap disiagakan hingga prosesi penandatanganan kesepakatan damai dilaksanakan.

 

(*)

Editor : Abdel Gamel Naser
Kwamki Narama mimika Polres Mimika