CEPOSONLINE.COM, MIMIKA — Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, resmi mengalihkan fokus strategi pembangunan daerah dari eksploitasi sumber daya alam konvensional menuju tata kelola berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Langkah tersebut diawali dengan peluncuran Mimika Innovation Week (MIW) 2026 oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) di Graha Eme Neme Yauware, Selasa (9/6/2026).
Agenda ini bertujuan mengintegrasikan riset lintas sektor guna memformulasi kebijakan berbasis data (evidence-based policy) di tingkat birokrasi lokal, sekaligus mengatasi tantangan tumpang tindih dokumen ilmiah antar-Organisasi Perangkat Daerah (OPD) melalui aplikasi "Sirida Kami" (Sistem Riset dan Inovasi Daerah).
Plt. Kepala BRIDA Kabupaten Mimika, Slamet Sutejo, menjelaskan bahwa MIW 2026 kini memperluas keterlibatan aktor eksternal guna mempercepat hilirisasi riset langsung ke masyarakat.
Dalam program ini, setiap OPD diwajibkan memproduksi minimal dua inovasi, yang hasilnya akan dikurasi pada 17 Agustus 2026 untuk dikirim ke ajang Innovative Government Award (IGA) 2026 oleh BSKDN Kementerian Dalam Negeri.
"Kami membuka ruang lingkup MIW 2026 seluas-luasnya. Jika dulu terbatas antar-OPD, tahun ini kami melibatkan universitas, instansi vertikal, BUMN, kepala kampung, lurah, jurnalis, hingga kelompok disabilitas," kata Slamet Sutejo.
Sementara itu, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Yopi, mendesak agar ekosistem inovasi di Mimika diadopsi ke dalam linimasa jangka panjang yang selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Menuju Indonesia Emas 2045.
Yopi menyarankan pembentukan 'Rumah Inovasi' sebagai pusat pelayanan satu pintu (one-stop services) agar komoditas riset dapat langsung terserap.
Bupati Mimika, Johannes Rettob, menegaskan bahwa riset dan kajian ilmiah saat ini telah menjadi instrumen wajib sebelum pemerintah mengambil keputusan strategis demi menghindari salah kelola potensi daerah.
Berdasarkan data BRIDA, volume kajian berbasis data di Mimika terus tumbuh, dari hanya satu dokumen pada 2015 menjadi 36 kajian komprehensif pada 2025, termasuk kepemilikan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mandiri tingkat kabupaten.
Secara nasional, Indeks Inovasi Mimika mencatat tren peningkatan dari peringkat ke-300 nasional pada 2024 menjadi masuk dalam 200 besar nasional pada 2025, yang menempatkannya sebagai peringkat kedua terbaik di tanah Papua.
“Untuk tanah Papua, puji Tuhan, Mimika saat ini menempati peringkat kedua terbaik. Namun target kita bukan lagi sekadar bersaing di internal Papua, kita harus mampu berkompetisi secara kualitas dengan daerah-erah di Indonesia Barat," tegas Bupati Johannes.
Sebagai langkah penguatan pasca-MIW 2026, Pemkab Mimika juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan BRIN guna membuka akses pemanfaatan keahlian 10.000 periset nasional untuk optimalisasi 32 urusan konkuren daerah, serta menggandeng sejumlah perguruan tinggi lokal melalui jalur formal Tri Dharma Perguruan Tinggi.
"Hari ini tidak ada lagi jarak antara perguruan tinggi dengan pemerintah daerah. Mahasiswa jangan hanya vokal dalam protes politik, tetapi harus kreatif melahirkan langkah konkret yang konstruktif untuk daerah melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi," cetus Johannes.
(*)
Editor : Abdel Gamel Naser